Sahabat dalam Perspektif Aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah (2)

2

Oleh: ustadz Rapung Samuddin, Lc., MA.

Pada bagian ke-II dari silsilah kajian tentang sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, penulis akan ketengahkan hadits-hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terkait keutamaan dan kedudukan para sahabat dalam syari’at Islam.

Kedudukan Sahabat dalam al-Sunnah

Hadits Pertama: Sahabat adalah generasi terbaik umat ini

عن عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا, قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” خَيْرُ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ”, قَالَ عِمْرَانُ فَلَا أَدْرِي أَذَكَرَ بَعْدَ قَرْنِهِ قَرْنَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا .

Dari Imran bin Husain radhiallahu anhuma, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik umatku (yang hidup) di zamanku, kemudian orang-orang setelahnya, kemudian orang-orang setelahnya”. Imran menambahkan: “Aku tidak tahu, apakah beliau menyebutkan setelah zamannya itu dua masa atau tiga”.(1)

Kemuliaan sebagai umat terbaik ini, mereka dapatkan lantaran pengorbanan maksimal menjaga, memikul serta menyebarkan dakwah Islam bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Makanya, bagi mereka keutamaan terbesar karena menjadi pelopor dalam mengemban segala kesulitan dalam meretas jalan dakwah. Lihatlah, mereka menggadaikan harta dan jiwa demi tegaknya syari’at; disamping berjihad di jalan Allah, baik terbunuh maupun membunuh. Semua itu mereka lakukan demi agama Islam. Olehnya, tidak mengherankan kalau kemudian keutamaan ini layak mereka dapatkan.

 

Hadits Kedua: Haramnya mencela salah seorang dari sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam dan tidak ada amalan yang dapat menyamai kedudukan sebagai sahabat

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قال, َقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” لَا تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ”.

Dari Abu Sa’id ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jangan kalian mencela seorang-pun dari sahabatku. Sungguh jika salah seorang diantara kalian berinfaq sebesar gunung uhud emas, maka itu belum menyamai segenggam (dari infaq) mereka dan tidak pula setengahnya”.(2)

Ibnu Umar radhiallahu anhuma berkata: “Jangan kalian mencela sahabat-sahabat Muhammad shallallahu alaihi wasallam, sungguh keberadaan mereka sesaat (di sisi Nabi shallallahu alaihi wasallam) lebih baik dari pada amal ibadah kalian selama empat puluh tahun”.(3)

Imam An-Nawawi (w. 672 H) berkata: Artinya, bahwa jika salah seorang diantara kalian menginfakkan emas sebesar bukit uhud, maka pahalanya tidak menyamai infak salah seorang dari sahabat Nabi baik satu genggam ataupun setengahnya.(4)

Sebab dilebihkannya infak mereka, dikarenakan infak tersebut dilakukan pada waktu darurat, dan dalam kondisi sempit (susah). Berbeda dengan selain mereka yang berada dalam situasi aman dan lapang. Demikian pula, karena infak mereka adalah dalam rangka menolong dan melindungi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

( لا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً )(الحديد:10)

” … Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah).Mereka lebih tinggi derajatnya ….” (QS. Al-Hadiid: 10)

Hadits Ketiga: Jaminan akan keampunan dari Allah Ta’ala

Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada Umar bin al-Khattab radhiallahu anhu:

وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَكُونَ قَدْ اطَّلَعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ, فَقَالَ : ” اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُم “.

“Apakah engkau mengetahui, tentu saja Allah Ta’ala telah melihat (hati) orang-orang yang ikut dalam perang Badar, lalu Ia berfirman: “Lakukanlah apa yang kalian kehendaki, sungguh Aku telah mengampuni kalian”.(5)

Makna sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di atas, bahwasanya amal-amal keburukan mereka (yang ikut dalam perang Badar) telah diampuni, seakan ia tak pernah terjadi.(6)

Ibnul Qoyyim al-Jauziyah (w. 751 H) berkata: Allah Ta’ala lebih mengetahui, bahwa pernyataan ini ditujukan pada mereka yang tidak bakal meninggalkan agamanya. Bahkan mereka akan mati di atas agama Islam. Walau terkadang jatuh dalam dosa sebagaimana yang terjadi pada selain mereka. Akan tetapi, Allah Ta’ala tidak meninggalkan mereka berketerusan dalam kubangan dosa tersebut, bahkan Ia melimpahkan taufiq-Nya untuk bertaubat nashuha dan memohon ampun. Sungguh, perbuatan yang baik itu akan menghapuskan segala bekas-bekas yang ditinggalkan oleh dosa. Penghkususan ini dikarenakan hal itu telah terjadi, dan bahwasanya mereka adalah orang-orang yang mendapat ampunan”.(7)

Hadits Keempat: Para sahabat adalah penjaga bagi umat ini.

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

” النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتْ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لِأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُون”.

“Bintang-bintang itu penjaga bagi langit, jika ia lenyap maka terjadilah pada langit apa yang telah dijanjikan. Aku adalah penjaga bagi sahabatku, jika aku telah tiada, maka akan terjadi pada sahabatku apa yang dijanjikan. Dan para sahabatku adalah penjaga umat ini, jika mereka tiada, maka akan terjadi pada umatku apa yang telah dijanjikan”.(8)

“… para sahabatku adalah penjaga bagi umatku, jika mereka tiada atau telah pergi maka akan terjadi pada umatku apa yang telah dijanjikan”. maknanya adalah berupa munculnya bid’ah, perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam agama, munculnya tanduk syetan, menangnya bangsa Romawi, dan selain mereka atas kaum Muslimin, dan dilanggarnya kehormatan kota Mekah dan Madinah, serta hal-hal yang lain. Dan ini semua adalah salah satu mukjizat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.” (9)

Hadits Kelima: Perintah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk memuliakan mereka

عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ” أَكْرِمُوا أَصْحَابِي ، فَإِنَّهُمْ خِيَارُكُمْ “.

Dari Umar bin al-Khattab radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Muliakanlah para sahabatku, karena sesungguhnya mereka adalah (generasi) terbaik kalian”.(10)

Hadits Keenam: Kebaikan yang terpelihara selama masih ada para sahabat

عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الأَسْقَعِ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : ” لاَ تَزَالُونَ بِخَيْرٍ مَا دَامَ فِيكُمْ مَنْ رَآنِي وَصَاحَبَنِي , وَاللهِ لاَ تَزَالُونَ بِخَيْرٍ , مَا دَامَ فِيكُمْ مَنْ رَأَى مَنْ رَآنِي وَصَاحَبَ مَنْ صَاحَبَنِي “.

Dari Watsilah bin al-Asqa’ radhiallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Kalian akan senantiasa berada dalam kebaikan selama masih ada diantara kalian orang yang pernah melihat dan menemaniku. Demi Allah, kalian akan senatiasa berada dalam kebaikan selama masih ada di antara kalian orang yang pernah melihat orang yang melihatku dan berteman dengan orang yang menemaniku”.(11)

Hadits Ketujuh: Tanda imam adalah cinta sahabat (kaum Anshar)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” آيَةُ الْإِيمَانِ حُبُّ الْأَنْصَارِ وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الْأَنْصَارِ “.

Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tanda iman itu cinta kepada kaum Anshar dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar”.(12)

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah mencintai mereka (kaum Anshar) melainkan orang yang beriman dan tidaklah membenci mereka melainkan seorang munafik”.(13)

Alasan cinta kaum Anshor merupakan bagian dari iman, al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah (w. 852 H) menjelaskan:

“Mereka (Kaum Anshor) adalah penduduk kota Madinah yang telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammmad shallallahu ‘alaihi wasallam dan menjadi penolong bagi beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Predikat mulia ini hanya melekat pada diri mereka karena telah menyediakan tempat tinggal bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang yang datang berhijrah dari Makkah ke Madinah, yang kemudian dikenal sebagai kaum Muhajirin. Tidak itu saja, mereka pun memenuhi segala keperluan dan kebutuhan hidup kaum Muhajirin dengan jiwa dan harta benda mereka. Bahkan mereka lebih mengutamakan kepentingan kaum Muhajirin dalam banyak hal ketimbang kepentingan dan kebutuhan mereka sendiri, kendati mereka (sebenarnya) berada dalam kesulitan hidup dan lebih membutuhkan”.(14)

Allah Ta’ala kemudian memuji dan mengabadikan keutamaan kaum Anshar dalam al-Qur`an: “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung”. (QS al-Hasyr/59:9). Wallahu A’lam.
Bersambung InsyaAllah …

Foot Note:

  1. Bukhari, no: 3650. Muslim, no: 2535.
  2. Bukhari, no: 3673. Muslim, no: 2541.
  3. Riwayat Ahmad dalam Fadhail al-Shahabah, I, h. 57. Ibnu Majah, no: 158. Ibnu Abi Ashim, Vol. II, h. 484. Dinyatakan sebagai “Hadits Hasan” oleh Syaikh Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah”, Vol. I, h. 32.
  4. An-Nawawi, Syarah Shohih Muslim, Op. Cit., Vol. XVI h. 93.
  5. Bukhari, no: 3983. Muslim, no: 2494.
  6. Ibnu Hajar al-Asqalani, Ma’rifah al-Khishal al-Mukaffirah, Tahqiq: Jasim al-Dausari, ( I, Maktabah al-Shahwah al-Islamiyah, th. 1404 H), h. 31.
  7. Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah, al-Fawaid, (Cet. I, al-Maktabah al-Qayyimah, th. 1404 H), h. 19.
  8. Muslim, no: 2531. Ahmad, no: 18745.
  9. Imam An-Nawawi, syarah shahih Muslim, Op. Cit., Vol. 8 h. 307.
  10. Abdun Ibnu Humaid dan al-Hakim dengan sanad Shahih. Lihat keterangan ini dalam “Misykat al-Mashabih, karya Syaikh Nashiruddin al-Albani, Vol. III, h. 1695.
  11. Ibnu Abi Syaibah, Vol. XII, h. 178. Ibnu Abi ‘Ashim, Vol. II, h. 630. Al-Thabarani dalam al-Kabir, Vol. XXII, h. 85. Dihasankan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari, Op. Cit., Vol. VII, h. 5. Al-Hafidz al-Haitsami berkata dalam “al-Majma’”, Vol. X, h. 20: “Diriwayatkan oleh al-Thabarani melalui beberapa jalur, dan salah satunya melalui perawi-perawi shahih”.
  12. Bukhari, no: 3500. Muslim, no: 74. Ahmad, no: 11867.
  13. Bukhari, no: 3499. Muslim, no: 110. Al-Tirmidzi, no: 3835. Ahmad, no: 17838.
  14. Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, Op. Cit., Vol. I, h. 122.

 

Sumber: http://rappungsamuddin.blogspot.com/

Baca tulisan sebelumnya:

Sahabat dalam Perspektif Aqidah Ahlu Sunnah Wal Jama’ah (1)

 

 

 

Share.