Sahabat dalam Perspektif Aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah (3)

0

Oleh: Rapung Samuddin, Lc, MA

Risalah ini adalah bagian terakhir (ke-III) dari silsilah Sahabat dalam pandangan Ahlu Sunnah wal Jama’ah, yang merupakan inti dari artikel-artikel sebelumnya. Semoga melalui pemaparan ini, kaum muslimin mengetahui mauqif (sikap) mereka terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Disamping menjadi tameng bagi mereka menghadapi berbagai gerakan dan pemikiran menyimpang yang berusaha sedaya upaya mendiskreditkan para sahabat.

SAHABAT DALAM PANDANGAN AKIDAH AHLU SUNNAH WA AL-JAMA’AH

Sebagaimana dijabarkan dalam muqaddimah makalah ini, bahwa para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam memiliki posisi sangat mulia dan tinggi dalam akidah Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah. Merekalah penolong, pembantu serta pembela Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam mengemban risalah-Nya, serta penerus bagi dakwah Islam setelah beliau wafat hingga kemudian syariat Islam tetap abadi hingga akhir zaman kelak.

Oleh karena kedudukan yang tinggi tersebut, maka diantara hal-hal yang wajib diperhatikan terkait dengan persoalan sahabat menurut Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah, secara ringkas dapat diutarakan sebagai berikut:

Pertama: Mengarahkan cinta dan wala’ terhadap para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti keduanya dengan baik, termasuk kepada ahli bait Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.(1) Sebab, cinta terhadap mereka termasuk tanda kebenaran iman seorang muslim disamping benci –termasuk diantaranya mencela- kepada mereka adalah ciri kekufuran dan kemunafikan, sebagaimana dinyatakan dalam hadits riwayat Anas bin Malik di atas.

Imam Abu Ja’far al-Thahawi (w. 321 H) berkata dalam bukunya “al-Akidah al-Thahawiyah” terkait penjelasan beliau terhadap aqidah Ahlu Sunnah: “Kami mencintai para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, namun kami tidak berlebihan dalam mencintai dan tidak pula melepas diri dari salah seorang dari mereka. Dan kami membenci orang yang membenci mereka serta orang yang menyebut mereka bukan dengan kebaikan. Sedangkan kami, tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan. Cinta kepada mereka merupakan (bagian) agama, iman dan ihsan. Sebaliknya, membenci mereka merupakan kekafiran, kenifakan dan kezaliman”.(2)

Tergolong dalam cakupan makna cinta tersebut adalah, mengimani akan keutamaan, kejujuran dan ketulusan mereka, menjaga dan membela kehormatan mereka serta senantiasa memohonkan rahmat dan ampunan bagi mereka, sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah Ta’ala:

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan Saudara-saudara kami yang Telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. (Qs. Al-Hasyr : 10).

Kedua: Menjauhkan diri dari perbuatan mencela atau mendiskreditkan para sahabat.

Mencela sahabat didefinisikan oleh Al-Qadhi Abu Ya’la (w. 458 H) sebagai celaan yang merusak ‘adalah (kredibilitas) para sahabat melalui perkataan, bahwa mereka telah berbuat zalim dan fasik sepeninggalan Nabi shallallahu alaihi wasallam, serta mengambil urusan bukan di atas kebenaran.(3)

Atau dapat pula diartikan sebagai perbuatan membicarakan sesuatu (berkenaan dengan para sahabat) untuk tujuan merendahkan atau menghina. Dan ia –penghinaan itu- adalah apa yang dipahami oleh akal manusia (menjurus ke arah demikian), menurut perbedaan keyakinan mereka, seperti melaknat, menyematkan (pada mereka) gelar-gelar buruk dan lain sebagainya.(4)

Banyak keterangan yang menunjukkan akan larangan mencela para sahabat, diantaranya:

Hadits Pertama: Dari ‘Uwaim bin Sa’idah radhiallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ اخْتَارَنِي وَاخْتَارَ لِي أَصْحَابًا ، فَجَعَلَ لِي مِنْهُمْ وُزَرَاءَ وَأَنْصَارًا ، فَمَنْ سَبَّهُمْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ ، لا يَقْبَلُ اللَّهُ تَعَالَى مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَرْفًا وَلا عَدْلا”.

“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah memilih diriku, lalu memilih untukku para sahabat dan menjadikan mereka sebagai pendamping dan penolong. Maka siapa yang mencela mereka, atasnya laknat dari Allah, para malaikat dan seluruh manusia. Allah Ta’ala tidak akan menerima amal darinya pada hari kiamat, baik yang wajib maupun yang sunnah”.(5)

Hadits Kedua: Dari Atha’ dari Ibnu Umar radhiallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda:

“لعن الله من سب أصحابي”.

“Semoga Allah melaknat orang yang mencela para sahabatku”.(6)

Hadits Ketiga: Dari Abdullah bin Mughaffal radhiallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“اللَّهَ اللَّهَ فِي أَصْحَابِي اللَّهَ اللَّهَ فِي أَصْحَابِي لَا تَتَّخِذُوهُمْ غَرَضًا بَعْدِي فَمَنْ أَحَبَّهُمْ فَبِحُبِّي أَحَبَّهُمْ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ فَبِبُغْضِي أَبْغَضَهُمْ وَمَنْ آذَاهُمْ فَقَدْ آذَانِي وَمَنْ آذَانِي فَقَدْ آذَى اللَّهَ وَمَنْ آذَى اللَّهَ يُوشِكُ أَنْ يَأْخُذَهُ”.

“Allah, Allah, tentang sahabatku, jangan kalian jadikan mereka bahan ejekan sepeninggalanku. Siapa yang mencintai mereka, maka dengan cintaku aku mencintainya. Dan siapa yang membenci mereka maka dengan kebencianku akupun membenci mereka. Siapa yang menyakiti mereka maka sungguh ia telah menyakiti aku. Siapa yang menyakiti aku maka ia telah menyakiti Allah. Dan siapa yang menyakiti Allah, maka pasti Ia akan menyiksanya”.(7)

Harus ditegaskan, mencela para sahabat merupakan perbuatan tercela sekaligus dosa yang sangat besar. Bahkan pelakunya terancam keluar dari Islam atau kafir.(8) Yang demikian, jika celaan terhadap sahabat berkaitan dengan agama mereka, misalnya menganggap mereka atau sebagian mereka telah kafir, murtad atau fasik, maka tidak diragukan pelakunya telah kafir menurut konsensus ulama, sebagimana diungkapkan oleh Imam al-Nawawi (w. 672 H),(9) Malik bin Anas (w. 189 H),(10) Ahmad bin Hambal (w. 241 H),(11) al-Qadhi Abu Ya’la (w. 458 H),(12) al-Hafidz al-Dzahabi (w. 748 H),(13) Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H)(14) dan selain mereka. Adapun jika celaan terkait dengan sifat-sifat (akhlak) pribadi para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka kelancangan tersebut merupakan dosa besar dimana pelakunya wajib diberi hukuman.(15)

Ketiga: Menetapkan sifat ‘adalah terhadap seluruh sahabat

Makna ‘adalah secara etimologi, seperti disebutkan dalam kamus al-Shihah, bahwa kata al-‘adl lawan dari al-juur yang berarti jahat. Jika dikatakan orang itu ‘adl maknanya: ridha dan yakin dalam persaksian.(16)

Adapun makna ‘adalah menurut istilah para ulama:

Al-Hafizh Ibnu Hajar (w. 852 H)(17) berkata: “Yang dimaksud dengan adil ialah orang yang mempunyai sifat taqwa(18) dan muru’ah(19)”.

Olehnya, maksud dari ‘adalatus sahabat itu: “Bahwa sahabat adalah orang-orang yang bertaqwa dan wara. Mereka adalah orang-orang yang selalu menjauhi perbuatan maksiat dan perkara-perkara syubhat. Para shahabat tidak mungkin berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau menyandarkan sesuatu yang tidak sah dari beliau. Syaikh Waliyullah al-Dahlawi berkata: “Dengan menyelidiki (semua keterangan) maka dapat disimpulkan, semua sahabat berkeyakinan bahwa berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan sebesar-besar dosa, karenanya, mereka sangat bersungguh-sungguh agar tidak jatuh dalam dusta atas nama beliau”.(20)

Para ulama Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah telah melahirkan sebuah konsensus akan sifat ‘adalah bagi seluruh sahabat tanpa terkecuali. Diantara pendapat yang dapat dikutip di sini:

  1. Al-Khatib Al-Baghdadi (w. 463 H) berkata: “Perkara ‘adalah para sahabat telah tsabit (tetap) yang sudah diketahui, berupa persaksian Allah, pengabaran akan kesucian, serta pilihan Allah Ta’ala bagi mereka melalui nash al-Qur’an.(21)
  1. Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) berkata: Ahlu Sunnah sepakat, bahwa seluruh sahabat itu ‘adil dan lurus. Tidak ada yang menyelisihi pendapat ini kecuali orang-orang yang menyimpang dari kalangan ahli bid’ah.(22)
  1. Ibnu Abdil Barr (w. 463 H) berkata : “Para sahabat tidak perlu diperiksa (keadilan) mereka, karena sudah ijma’ Ahlul Haq dari kaum muslimin yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwa mereka semua ‘adil”.(23)
  1. Al-Hafidz Ibnu Katsir (w. 774 H) berkata: “Semua sahabat itu ‘adil menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, karena Allah Ta’ala telah memujinya di dalam Al-Qur’an, ditambah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam-pun memuji prilaku dan ahlak mereka. Mereka telah mengorbankan harta dan jiwa mereka di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sembari mengharap ganjaran yang baik (dari Allah)”.(24)

Keempat: Ahlu Sunnah tidak berkeyakinan bahwa para sahabat itu ma’shum (terjaga/bebas) dari dosa besar maupun kecil. Mereka juga manusia, bisa saja terjebak jatuh ke dalamnya. Akan tetapi mereka memilki amal-amal mulia dan keutamaan yang dapat menjadi penebus bagi kesalahan yang mungkin dilakukan. Jika kesalahan itu terjadi pada salah seorang diantara mereka, maka mungkin saja ia telah bertaubat darinya, atau melakukan amal-amal kebaikan yang dapat menghapuskan kesalahan-kesalahan. Atau terampuni melalui syafa’at Nabi shallallahu alaihi wasallam, sebab merekalah yang paling pantas mendapat syafaatnya, atau terampuni melalui musibah yang dapat menghapus kesalahan mereka.

 

Hal ini jika memang dosa itu benar-benar terjadi dan zahir. Maka bagimana dengan perkara-perkara yang di dalamnya mereka berijtihad lalu jatuh dalam kesalahan, dimana jika mereka benar akan mendapat dua pahala dan jika salah satu pahala?(25) Sudah tentu hal ini lebih pantas untuk mendapat pengampunan dari-Nya.

Al-Hafidz al-Dzahabi (w. 748 H) berkata: “Mereka adalah kaum yang memiliki amal-amal baik dan kemuliaan yang dapat menghapus kesalahan yang terjadi diantara mereka. Juga memilki amal jihad yang dapat menghapus dosa serta ibadah yang dapat memisahkan diri mereka (dari dosa). Kami tidak bersikap ghuluw (berlebihan) dalam menyikapi salah satu dari mereka, dan tidak menganggap mereka itu ma’shum.(26)

 

Kelima: Menjaga hati dan lisan dari mencemarkan harga diri dan kehormatan para sahabat terkait perselisihan yang terjadi di antara mereka.

Dari Tsauban radhiallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“إذا ذكر أصحابي فأمسكوا وإذا ذكرت النجوم فأمسكوا وإذا ذكر القدر فأمسكوا”.

“Jika para sahabatku disebut-sebut –termasuk perselisihan- maka hendaklah kalian menahan diri. Jika ilmu perbintangan dibahas, maka hendaklah kalian menahan diri. Dan jika takdir diperbincangkan, maka hendaklah kalian menahan diri”.

Dari sini jelas sikap ahlu sunnah dalam menyikapi persoalan dan fitnah yang terjadi di kalangan sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Bahwasanya, semua persoalan yang terjadi sedikitpun tidak mengurangi kredibilitas sifat ‘adalah mereka sebab ia terjadi secara tidak sengaja atau karena ijtihad.(27) Disamping itu, ahlu sunnah menjaga kebersihan hati dan lisan mereka dari mencemarkan nama baik para sahabat.

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) menyatakan: “Kami menahan diri dari seluruh yang terjadi diantara mereka (para sahabat), dan kami mengetahui bahwa sebagian cerita-cerita yang sampai kepada kami tentang (sengketa) mereka adalah dusta. Mereka adalah mujtahid, jika benar mendapat dua ganjaran dan akan diberi pahala atas amal salihnya, serta akan diampuni dosa-dosa mereka. Adapun jika ada pada mereka kesalahan, sungguh kebaikan dari Allah telah mereka peroleh, dan Allah Ta’ala akan mengampuni dosa mereka melalui taubat atau dengan amal baik yang dapat menghapuskan dosa-dosa atau dengan selainnya. Sungguh mereka adalah sebaik-baik umat dan sebaik-baik masa, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam“.(28)

Olehnya, terkait kajian perselisihan dan fitnah yang terjadi di kalangan sahabat, ada beberapa hal mendasar yang harus diperhatikan menurut manhaj ahlu sunnah:

  1. Pembahasan tentang perselisihan yang terjadi di kalangan para sahabat, bukan termasuk masalah pokok dalam akidah. Yang menjadi pokok akidah menurut ahlu sunnah adalah sikap menahan diri terhadap segala yang terjadi berupa perselisihan di kalangan para sahabat.

Dasar ini penting diketahui, khususnya mereka yang masih pemula dan dikhawatirkan terpengaruh terhadap fitnah tersebut, hingga menjadi benturan bagi dirinya terhadap pengetahuan akan kedudukan dan manzilah para sahabat dalam syariat Islam. Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu berkata: “Berbicaralah dengan manusia sesuai dengan apa yang mereka pahami. Apakah engkau mau Allah dan Rasul-Nya didustakan?”.(29)

Al-Hafidz Ibnu Hajar (w. 852 H) kemudian memberi komentar: Ini merupakan dalil, bahwa perkara yang masih samar tidak pantas disebut-sebut di hadapan masyarakat awam.(30)

  1. Jika ternyata harus menyebut perselisihan itu, wajib bersikap tatsabbut (melakukan penelitian dan klarifikasi) terkait riwayat-riwayat yang menyebutkan fitnah yang terjadi di kalangan sahabat. Sebab mereka adalah pemuka umat, serta lebih utama dari seluruh generasi sepanjang masa. Terlebih lagi, karena begitu banyak tersebar riwayat-riwayat dusta dan pemutarbalikan fakta yang sengaja disisipkan para pendusta seperti Abu Mikhnaf Luth bin Yahya, Hisyam bin Muhammad bin as-Saaib al-Kalbi dan selainnya.(31)
  1. Jika riwayat terkait fitnah yang terjadi di kalangan sahabat itu shahih, dan lahirnya seolah merupakan celaan bagi mereka, maka wajib mencari baginya sebaik-baik jalan keluar yang dibangun atas pondasi husnudzon (sangka baik).

Ibnu Abi Zaid (w. 386 H) menegaskan: “Wajib menahan diri dari segala yang terjadi diantara mereka. Bahwasanya, merekalah yang paling pantas dicarikan baginya jalan keluar dan diarahkan sangkaan paling baik (ketimbang menyebut dengan kejelekan)”.(32)

  1. Adapun riwayat yang menceritakan perselisihan mereka melalui jalur sahih dan jelas dalam timbangan kritik ilmiyah, maka harus dipahami bahwa para sahabat adalah para mujtahid. Demikian pula, urusan yang mereka hadapi saat itu begitu genting hingga melahirkan kesamaran hukum yang menuntut mereka berijtihad. Jadi wajar jika kemudian muncul perbedaan pendapat.(33)

Makanya, perselisihan dan perang yang terjadi diantara para sahabat radhiallahu anhum sama sekali bukan karena soal perebutan kursi kepemimpinan, sebagaimana dituduhkan sebagian orang. Keterangan ini dikuatkan bahwa para sahabat yang terlibat dalam perang Jamal dan perang Shiffin tidak menetapkan sebuah nama yang akan menjadi khalifah menggantikan Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu. Tidak pula kita mendengar bahwa Muawiyah, Thalhah dan Zubair radhiallahu anhum mengatakan diri mereka lebih pantas menjadi khalifah selain Ali bin Abi Thalib. Sungguh perang yang terjadi itu meletus karena fitnah menurut pandangan ahlu sunnah. Yakni, karena ijtihad mereka tentang kaifiyat (tata cara) pelaksanaan qishash (hukuman) bagi mereka yang terlibat dalam pembunuhan Utsman radhiallahu anhu. Perkara ini masuk dalam kategori perang pemegang tampuk kekuasaan menghadapi mereka yang keluar dari ketaatan padanya. Disamping dikategorikan pula sebagai perang karena ta’wil yang dibolehkan untuk menaati selain imam, dan bukan karena kaidah dasar agama. Dalam artian, bukan karena perselisihan pada ushul (pokok) agama ini.(34)

Apalagi, mayoritas sahabat senior yang utama tidak ikut terlibat dalam fitnah ini, sebagaiman dijelaskan oleh Abdullah bin Ahmad bin Hambal (w. 290 H) melalui sanadnya hingga Muhammad bin Sirin (w. 110 H): “Tatkala fitnah bergejolak, jumlah para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebanyak sepuluh ribu. Yang terlibat di dalamnya tidak cukup seratus orang, bahkan boleh dibilang tidak cukup tiga puluh orang”. Ibnu Taimiyah (w. 728 H) berkata: “Sanad ini termasuk yang paling sahih yang ada di muka bumi ini, dan Muhammad bin Sirin (w. 110 H) adalah orang paling wara’ (hati-hati) dalam bertutur kata, hingga mursalnya (apa yang beliau riwayatkan langsung kepada Nabi tanpa menyebut nama sahabat yang meriwayatkan padanya) tergolong mursal yang paling sahih”.(35)

  1. Wajib diketahui pula, bahwa fitnah yang terjadi di antara para sahabat –karena ijtihad dan ta’wil -, sedikitpun tidak terbetik dalam benak mereka bakal melahirkan efek dan akibat begitu besar. Dalam riwayat banyak disebutkan kesedihan dan penyesalan sangat mendalam kala sampai kepada mereka kabar akan kematian saudara muslim mereka akibat peristiwa tersebut, baik dari pihak Aisyah,(36) Ali bin Abi Thalib(37) demikian pula Mu’awiyah(38) radhiallahu anhum.

Makanya, Ahlu Sunnah berkeyakinan, bahwa apa yang terjadi ini merupakan bagian dari musibah yang Allah Ta’ala turunkan guna menghapus kesalahan dan dosa-dosa mereka. Sebab dengan musibah itulah Allah Ta’ala akan mengangkat derajat dan kemuliaan mereka. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Senantiasa musibah itu menghampiri orang beriman laki-laki dan perempuan pada diri, anak dan hartanya, hingga ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada kesalahan (dosa)”.(39)

Penutup

Bertolak dari deskripsi yang dipaparkan di atas, dapat dikemukakan beberapa simpulan sebagai berikut.

Pertama: Definisi paling tepat terkait kata sahabat adalah sebagaimana yang diutarakan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) yakni: “Orang yang berjumpa dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam keadaan beriman dan wafat dalam keadaan Islam”.

Kedua: Sahabat Nabi shallallahu memiliki keutamaan dan kedudukan yang agung dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. Kedudukan yang tinggi tersebut juga merupakan jaminan bagi sifat ‘adalah mereka yang wajib diyakini.

Ketiga: Kajian tentang ‘adalah dan kredibilitas sahabat termasuk dalam pokok akidah Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah, yang karenanya wajib mendapat perhatian besar, khususnya terkait perselisihan yang terjadi di kalangan mereka.

Olehnya, hal-hal yang wajib diketahui menurut manhaj Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah terkait persoalan sahabat, adalah sebagai berikut:

  1. Mengarahkan cinta dan wala’ terhadap para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti keduanya dengan baik, termasuk kepada ahli bait Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
  1. Menjauhkan diri dari perbuatan mencela dan mendiskreditkan para sahabat.
  1. Menetapkan sifat ‘adalah kepada seluruh sahabat.
  1. Ahlu Sunnah tidak berkeyakinan bahwa para sahabat itu ma’shum (terjaga/bebas) dari dosa besar maupun kecil.
  1. Menjaga hati dan lisan dari mencemarkan harga diri dan kehormatan para sahabat terkait perselisihan yang terjadi di antara mereka. Wallahu A’lam.

Selesai, Walhamdulillahi Rabbil Alamin.

Foot Note:

  1. Ibnu Taimiyah (w. 728 H) menyatakan: “Di antara prinsip ahlu sunnah wa al-jama’ah adalah mencintai keluarga Nabi shallallahu alaihi wasallam, membela mereka dan menjaga wasiat Rasulullah pada mereka. Keluarga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memiliki hak-hak yang wajib diperhatikan, dimana Allah Ta’ala telah menetapkan hak seperlima dari harta fai’, Allah Ta’ala juga memerintahkan umat untuk senantiasa bershalawat kepada mereka setelah mengucapkan shalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam”. Lihat: Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, Tahqiq: Anwar al-Baz, al, (Cet. II, Daar al-Wafa’, th. 1426 H/2005 M), Vol. III, h. 407.
  2. Lihat: Ibnu Abi al-‘Izz, Syarah Aqidah al-Thahawiyah, (Cet. I, Damaskus, Maktabah Daar al-Bayaan, th. 1401 H/1981 M), h. 464 .
  3. Ibnu Taimiyah, Hukmu Sabbi al-Shahabah, (Cet. I, Kairo, Daar al-Anshar, th. 1399 H/1978 M), h. 25.
  4. Ibnu Taimiyah, al-Sharim al-Maslul, Cit., hal: 561.
  5. Al-Hakim dalam al-Mustadrak, Vol. III, h. 632. Beliau berkata: “Sanadnya Shahih”, dan disepakati oleh azd-Dzahabi. Akan tetapi hadits ini dinyatakan “Dhaif” oleh Syaikh Nashiruddin al-Albani dalam al-Silsilah ad-Dhaifah, no: 3157.
  6. Disebutkan oleh Imam al-Suyuthi dalam al-Jami’ al-Shaghir”, II, h. 351, ia berkata: Diriwayatkan oleh al-Thabarani dan ia merupakan hadits Shahih. Syaikh Nashiruddin al-Albani menganngapnya “Hasan” dalam Shahih al-Jami’”, no: 5111 dan al-Silsilah al-Shahihah”, no: 2340.
  7. Al-Tirmidzi, no: 3862. Syaikh Nashiruddin al-Albani menyatakan hadits ini “Dha’if dalam bukunyaDha’if al-Tirmidzi”, no: 808.
  8. Alasan mengapa mencela para sahabat bisa membuat pelakunya keluar dari Islam, adalah sebagai berikut:

Pertama: Pernyataan bahwa para pengemban al-Qur’an dan Sunnah (para sahabat) itu kafir atau fasik mengandung konsekwensi keraguan terhadap keduanya. Sebab, celaan pada para penyampainya pada hakikatnya merupakan celaan pada apa yang mereka sampaikan, yakni al-Qur’an dan Sunnah.

Kedua: Perkataan ini merupakan pengingkaran terhadap nash al-Qur’an dan Sunnah, berupa keterangan akan keridhaan Allah Ta’ala atas mereka. Padahal, pengetahuan yang bersumber dari nash al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang keutamaan mereka itu sifatnya qath’i. Dan siapa yang mengingkari suatu perkara yang telah qath’i maka ia telah kafir.

Ketiga: Perbuatan ini menyakiti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Mereka adalah sahabat-sahabat yang memiliki tempat khusus dalam hati beliau. Mencela seseorang yang khusus baginya tidak diragukan lagi dapat menyakiti beliau. Dan menyakiti beliau shallallahu alaihi wasallam merupakan satu kekafiran sebagaimana ditegaskan para ulama.

  1. Al-Nawawi (w. 672 H) berkata: “Ketahuilah, bahwa mencela sahabat hukumnya haram dan termasuk perbuatan haram yang keji, hukum ini sama saja apakah terhadap (sahabat) yang terkena fitnah atau selain mereka”. Lihat: Imam al-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, Cit., Vol. XVI, h. 93.
  2. Imam Malik bin Anas (w. 189 H) menyatakan: “Mereka yang membenci para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah orang-orang kafir”. Lihat: Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Adzim, Op. Cit., V, h. 367-368.
  3. Ahmad bin Hambal (w. 241 H) berkata: “Wajib atas pemerintah memberi hukuman dan memberi maaf baginya (pencela sahabat). Bahkan harus menegakkan hukum dan memaksanya bertaubat”. Lihat: Ahmad bin Hambal, al-Sunnah, Tahqiq: Nashiruddin al-Albani, (Cet. I, Beirut, al-Maktab al-Islami, Beirut, th. 1400 H/1980 M), h.
  4. Al-Qadhi Abu Ya’la (w. 458 H) berkata: “Yang merupakan pendapat para fukaha tentang hukum mencela sahabat; jika ia menghalalkan perbuatan tersebut maka ia kafir, namun jika tidak menghalalkan maka ia fasik”. Lihat: Ibnu Taimiyah, Hukmu Sabbi al-Shahabah, Cit., hal: 33.
  5. Al-Hafizh Adz-Dzahabi (w. 748 H) berkata: “Barangsiapa yang mencaci dan menghina mereka (para sahabat), sungguh ia telah keluar dari agama Islam dan merusak kaum muslimin”. Lihat: Al-Hafidz al-Dzahabi, al-Kabair, Tahqiq: Abu Khalid Al-Husain bin Muhammad al-Sa’idi, (Cet. I, Beirut, Daar al-Fikr, th, 1408 H), h. 352-353.
  6. Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H) berkata: Yang menjadi perbedaan adalah jika mencela sebagiannya. Adapun mencela keseluruhan (sahabat) maka tidak diragukan lagi bahwa hukumnya kafir. Lihat: Ibnu Hajar al-Haitami, al-Shawaiq al-Muhriqah, (Istambul, Maktabah al-Haqiqah, th. 1424 H/2003 M), h. 379.
  7. Al-Qadhi ‘Iyadh (w. 189 H) berkata: “Mencela salah satu dari mereka (sahabat) merupakan dosa besar. Menurut kami dan jumhur ulama, bahwa orang yang melakukan demikian pantas mendapat ta’ziir (hukuman setimpal menurut ijtihad hakim)”. Al-Qadhi ‘Iyadh, al-Syifa Bi Ta’riifi Huquq al-Mushtafa, Tahqiq: Muhammad Amin Qurrah Ali, (Cet. I, Damaskus, Muassasah Ulum al-Qur’an, th), Vol. II, h. 653.
  8. Imam Al-Jauhari, al-Shihhah, Tahqiq: Ahmad Abdul Gafur ‘Atthar, (Daar al-Ilmi Li al-Malayin, al-Maktabah al-Syamilah, t.th), h. 415-416.
  9. Ibnu Hajar al-Asqalani, Nuzhah al-Nazhar fi Taudhih Nukhbah al-Fikr, Tahqiq: Abdullah bin Dhaifillah al-Ruhaili, (Cet. I, Riyadh, Mathba’ah as-Safir, al-Maktabah al-Syamilah, 1422 H), h. 69.
  10. Batasan taqwa disini adalah menunaikan segala kewajiban syariat dan menjauhi segala perbuatan dosa, baik dosa besar maupun kecil yang tampak maupun tersembunyi, serta menjauhi perbuatan syirik dan bid’ah.
  11. Batasan muru’ah adalah adab-adab terpuji yang membawa pelakunya senantiasa berakhlak mulia serta menjauhi segala perbuatan tidak terpuji atau tercela.
  12. Lihat komentar (ta’liq) Syaikh Abdul Wahhab bin Abdul Lathif terhadap kitab Tadrib al-Rawi karya Imam al-Suyuthi, (Riyadh, Maktabah al-Riyadh al-Haditsah, al-maktabah al-Syamilah, t.th), Vol.II, h. 215.
  13. Al-Khatib al-Baghdadi, al-Kifayah fi ‘Ilmi al-Riwayah, Cit., h. 49.
  14. Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah, (Kairo, Mathba’ah al-Sa’aadah, th.1328 H/1975 M), Vol. I, h. 9.
  15. Ibnu Abdi al-Barr, al-Isti’ab fi Ma’rifati Ashab, ( I, Beirut, Daar al-Fikr, th. 1398 H), Vol. I, h. 9.
  16. Ibnu Katsir, al-Baits al-Hatsits fi Ikhtishar Ulum alHadits, Cit., h.154.
  17. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Jika seorang hakim berijtihad untuk memutuskan hukum dan benar, maka baginya dua pahala. Namun jika hakim berijtihad memutuskan hukum lalu salah, maka baginya satu pahala”. (HR. Bukhari, no: 6805. Muslim, no: 3240. Ahmad, no: 17106. Ibnu Hibban, no: 5060.
  18. Lihat: Al-Hafidz al-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala, Tahqiq: Abdul Qadir al-Arna’uth, al, (Cet. II, Beirut, Muassasah al-Risalah, th. 1401 H/1981 M), Vol. X, h. 93.
  19. Al-Hafidz Ibnu Katsir (w. 774 H) berkata: “Adapun perselisihan yang terjadi di antara mereka setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, maka ada yang terjadi secara tidak sengaja seperti Perang Jamal (antara Ali dengan ‘Aisyah) dan adapula yang berdasarkan ijtihad seperti Perang Shiffin (antara Ali dengan Mua’wiyah). Ijtihad kadang benar dan kadang salah. Akan tetapi, (bila salah) pelakunya diampuni Allah dan mendapat ganjaran kendati ia salah. Namun jika benar, baginya dua pahala. Dalam hal ini Ali dan para sahabatnya lebih mendekati kebenaran daripada Mu’awiyah. Semoga Allah Ta’ala meridhai mereka semuanya”. Lihat: Ibnu Katsir, al-Ba’its alHatsits syarah Ikhtisar Ulum al-Hadits, Cit., hal. 154.
  20. Ibnu Taimiyah, Majmu Fatawa, Cit., Vol. III, h. 406.
  21. Bukhari, no: 127.
  22. Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, Cit., Vol. I, h. 273.
  23. Lihat misalnya: Ibnu Taimiyah, Minhaj al-Sunnah, Op. Cit., V, h. 53.
  24. Ibnu Abi Zaid al-Qairawani, Matnu al-Risalah, (Cet. I, Kairo, Mathba’ah ‘Athif, t.th), h. 11.
  25. Misalnya perang Shiffin, Penyebab perang tersebut semata dikarenakan persoalan ijtihad antara Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah bin Abi Sofyan terkait tuntutan darah Utsman bin ‘Affan ra, yang bisa saja benar dan bisa salah. Pada saat itu Mu’awiyah ra menolak memberi bai’at kepada Ali bin Abi Thalib, sebab Mu’awiyah merasa dirinya paling berhak menjatuhkan qishash –hukum mati- terhadap para pembunuh Utsman, karena ia adalah ahli waris (waliy) bagi Utsman. Beliau -Mu’awiyah- berpegang pada firman Allah Ta’ala yang berbunyi: “Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli waris (waliy), tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapatkan pertolongan”. (Qs. Al-Isra’ : 33). Karenanya, beliau mendesak Ali agar menyerahkan orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan Utsman yang saat itu banyak bergabung dalam pasukan Ali bin Ab i Thalib, baru kemudian beliau memberikan bai’atnya.

Akan tetapi Ali bin Abi Thalib menunda pemenuhan tuntutan Mu’awiyah sampai pemerintahannya stabil dan bisa melakukan investigasi. Pada saat yang sama, Ali meminta Mu’awiyah mundur dari jabatannya sebagai gubernur di Syam. Akan tetapi Mu’awiyah menolak sampai Ali menyerahkan para pembunuh Utsman. Ia bersama dengan penduduk Syam pun menolak memberi bai’at kepada Ali. (Lihat: Lihat: Ibrahim al-Quraibi, al-Syifa’ fi Tarikh al-Khulafa’, terjemahan: Faris Khairul Anam, Lc, judul Indonesia: Tarikh Khulafa’, (Cet. I, Jakarta, Qisthi Press, thn. 2009 M), hlm. 802.

  1. Lihat: Ibnu Taimiyah, Minhaj al-Sunnah, Op. Cit., VI, h. 327.
  2. Lihat: Ibnu Taimiyah, Minhaj al-Sunnah, Op. Cit., VI, h. 236.
  3. Imam al-Zuhri meriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah radhiallahu anha, beliau berkata: “Sungguh, yang aku kehendaki agar disiapkan tempatku diantara manusia (untuk mendamaikannya), dan aku tidak pernah menduga akan terjadi perang di antara mereka. Sungguh, jika aku mengetahui demikian aku tidak akan pernah bertindak seperti itu selama-lamanya”. Lihat: Imam Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah Ibnu Syihab al-Zuhri, al-Maghazi al-Nabawiyah, Tahqiq: Dr. Zuhair al-Zukkar, (Beirut, Daar al-Fikr, th. 1401 H/1981 M), h. 155.

Makanya, jika Aisyah membaca ayat “Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian” (QS. Al-Ahzab : 33), beliau lantas menangis tersedu-sedu hingga basah kerudungnya”. Lihat: Al-Hafidz al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala, Op. Cit., Vol. II, h. 177.

  1. Imam al-Sya’bi berkata tentang beliau: Tatkala Thalhah terbunuh, lalu Ali menyaksikan jenazahnya terkapar, beliau lalu menyeka debu dari wajahnya, seraya berkata lirih: “Sungguh, amat berat atasku duhai Abu Muhammad menyaksikan dirimu terkapar seperti ini di bawah bintang-bintang langit…”. Beliau –Ali- menambahkan: “Kepada Allah aku keluhkan kesedihan dan duka citaku”. Lalu beliau dan orang-orang yang bersamanya menangis terisak-isak, seraya berkata: “Duhai, seandainya aku mati saja sejak dua puluh tahun yang lalu”. Lihat: Ibnu al-Atsir, Usud al-Ghabah fi Ma’rifah al-Shahabah, Tahqiq: Syaikh Muhammad Ali Mu’awwidh, (Beirut, Daar al-Kutub al-Ilmiyah, t.th), Vol. III, h. 87.

Juga ucapan beliau pada malam perang Shiffin: ”Demi Allah, sungguh baik kedudukan Abdullah bin Umar dan Sa’ad bin Malik –keduanya termasuk yang menjauh dari fitnah- jika hal itu baik, maka sungguh pahalanya sangat besar. Namun jika itu dosa, maka bahayanya amat ringan”. Lihat: Ibnu Taimiyah, Minhajus Sunnah, Op. Cit., Vol. VI, h. 209.

  1. Tatkala sampai kepada Mu’awiyah kabar kematian Ali bin Abi Thalib, beliau terduduk seraya beristirja’, lalu menangis tersedu-sedu. Istrinya bertanya bertanya tentang hal tersebut. Maka beliau menjawab: “Sungguh aku menangis karena manusia akan kehilangan kelembutan, keutamaan, amalan mulia serta kebaikan beliau”. Lihat: Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Tahqiq: Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki, (Cet. I, Daar Hajr, th. 1418 H/1998 M), Vol. XI, h. 129.
  2. Al-Tirmidzi, no: 2398, beliau berkata: Hasan Shahih. Syaikh Nashiruddin al-Albani menyatakan “Hasan” dalam al-Silsilah al-Shahihah”, no: 2280.

 

Sumber: http://rappungsamuddin.blogspot.com/

Baca tulisan sebelumnya:

Sahabat dalam Perspektif Aqidah Ahlu Sunnah Wal Jama’ah (1)

Sahabat dalam Perspektif Aqidah Ahlu Sunnah Wal Jama’ah (2)

 

Share.

Leave A Reply