Salafiyah Menurut Ibnu Taimiyah

0

Oleh: Ustadz Ahmad Hanafi, Lc. MA

Salah satu karakteristik dasar al-Firqah al-Naajiyah sebagaimana dalam hadits iftiraq al-ummah, adalah komitmen dan kesungguhan untuk menjadikan salaf al-shaleh sebagai figur mutlak dalam berbuat dan bertindak. Semua aspek kehidupan seorang salafi (penisbatan bagi seorang yang berusaha untuk menjadikan para salaf al-shaleh sebagai qudwah secara mutlak, lahir dan batin) haruslah terwarnai oleh cahaya salaf dalam beraqidah, beribadah, bermuamalah dan berakhlaq. Semua ini lahir dari pemahaman yang syamil terhadap sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, yang artinya  “Sebaik-baik masa, adalah masaku, kemudian masa yang berikutnya kemudian yang berikutnya” (HR. al-Bukhori no.4629).

Ibnu Taimiyah –Rahimahullah- (728 H), tokoh dan figur seorang Mujtahid Mujaddid Salafi pada masanya, hidup di tengah-tengah kemunduran kaum muslimin yang disebabkan oleh dua faktor penting, pertama: Penyimpangan terhadap aqidah yang shahih,  ditandai dengan munculnya faham-faham sesat dan menyimpang dari aqidah yang murni, kemudian mendorong beliau untuk menulis beberapa tulisan yang berhubungan dengan penyimpangan ini (baca: kitab al-Aqidah al-Washitiyyah, al-Tadmuriyyah, al-Hamawiyyah, Minhaj al-Sunnah dan yang lainnya). Dan yang kedua: Sikap fanatik buta dan Ta’asshub terhadap mazhab yang berimplikasi kepada lahirnya trend “al-jumud al-fikriy” (pengekangan terhadap fungsi akal yang sebenarnya), yang berakibat tersekatnya ruang ijtihad bagi para fuqaha. Fenomena di atas inilah yang melahirkan sikap kritis Ibnu Taimiyah dalam mengembangkan manhaj beliau dalam rangka mengembalikan kejayaan ummat.

Salah satu pilar penting dalam mewujudkan misi ini adalah “al-Salafiyah” yang menjadi karakteristik khas dalam dakwah dan perjuangan beliau sejak awal. Salafiyah yang bermakna aktualisasi ajaran Islam yang berlandaskan kepada al-Qur’an dan al-Sunnah yang disertai dengan pemahaman generasi terbaik dari ummat ini, generasi sahabat dan para pengikut mereka (sesuai dengan hadits yang disebutkan di atas).

Dalam Kitab Manhaj Ibn Taimiyah fi al-fiqh (1420 H), disebutkan beberapa batasan penting dalam memahami konsep “salafiyah” menurut Ibnu Taimiyah, diantaranya:

1. Kemurnian Iman, Keikhlasan dan Ketulusan Hati semata-mata untuk Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala menyifatkan para salaf sebagai orang-orang yang memiliki komitmen keimanan, keikhlasan serta kejernihan hati yang dengannya mereka siap untuk berjihad dan berkorban semata-mata untuk   Allah Ta’ala.

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka Itulah orang-orang yang benar-benar beriman. mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia. Dan orang-orang yang beriman sesudah itu kemudian berhijrah serta berjihad bersamamu Maka orang-orang itu Termasuk golonganmu (juga). orang-orang yang mempunyai hubungan Kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu”.

Keimanan tanpa keraguan, hati yang bersih nan tulus, ikhlas yang sedikitpun tidak tercemari oleh debu hawa nafsu dan kotoran syahwat, semuanya mengantarkan mereka (baca: salaf) untuk menjadi qudwah yang terbaik bagi generasi sesudahnya.

2.  Ikut dan sesuai dengan tuntunan serta jauh dari perkara bid’ah.

Kecintaan dan loyalitas mereka yang sangat tinggi kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menjadikan mereka konsisten dalam melaksanakan segala aktifitas kehidupan sesuai dengan apa yang dituntunkan oleh Sang Panutan Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam. Mereka sadar bahwa kemuliaan hidup di dunia dan akhirat bergantung kepada sejauh mana konsistensi mereka dalam berittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan menjauhkan diri dari perkara-perkara bid’ah.

“Tujuan utama dalam kehidupan para salaf adalah menjaga kesesuaian (amalan) dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallalahu’alaihi wasallam, karena sesungguhnya ilmu dan keimanan mereka adalah bersumber dari Nabi Shalallahu’alaihi wasallam yang telah membimbing mereka dengan hidayah Allah untuk keluar dari kegelapan menuju cahaya, yang menunjukkan kepada mereka jalan Allah Yang Maha Agung dan Yang Maha Mulia, sesuai dengan firmannya (yang artinya):  Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al-Quran) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya”. (Majmu’ al-Fatawa 4/158)

3. I’tikad/Tujuan yang baik tanpa Takalluf (perbuatan yang dibuat-buat/diberat-beratkan).

Karakteristik ini bisa dengan mudah kita dapati dalam peninggalan para salaf, baik dalam memahami nash, periwayatan, perkataan, perbuatan dan yang lainnya. Semuanya bermula dari keikhlasan dan bermuara pada tujuan yang benar, apa adanya, tanpa perlu dibuat-buat apalagi diberat-beratkan, yang berakhir pada kesempurnaan pemahaman dan pengamalan terhadap syariat Allah Ta’ala.

“Dan ini diantara hal yang menjelaskan tentang sempurnanya kedudukan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum dan sesungguhnya merekalah generasi terbaik, di mana setelah masa kenabian mereka mampu menerapkan syariat secara menyeluruh dari perkara-perkara yang besar hingga yang terkecil meskipun perkara tersebut adalah perkara yang fleksibel, sementara generasi akhir, terkadang diantara mereka ada yang tidak mampu untuk melaksanakan syariat secara menyeluruh bahkan pada hal-hal yang berhubungan langsung dengan pribadinya. Para sahabat, dengan ilmu yang mereka miliki dapat membedakan antara perkara-perkara yang baik dan yang buruk meskipun perintah dan larangan yang disyariatkan kepada mereka sangat banyak, disebabkan landasan utama mereka adalah i’tikad/tujuan yang baik. Sementara generasi akhir, kebanyakan mereka tidak mempunyai ilmu yang memadai berkaitan dengan perkara-perkara baik dan buruk sekalipun mereka termasuk golongan ‘alim dan ahli ibadah, sehingga kadang perkara jelek disangka sebagai kebaikan, begitupula sebaliknya. Atau terkadang hal ini dikarenakan hilangnya dalam diri mereka i’tikad baik dalam melaksanakan amalan, sehingga yang memotivasi adalah hawa nafsu dalam perkara-perkara yang sudah jelas, baik yang bersifat perintah ataupun larangan. Semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada kita agar kita dapat berjalan di atas jalan-Nya yang lurus, yaitu jalan para Nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shaleh”. (Majmu’ al-Fatawa 10/543).

4. Keunggulan Ilmu dan Amal

Keimanan yang kokoh dan ketaatan yang mutlak kepada Allah dan Rasul-Nya telah mengantarkan para salaf mencapai puncak ketinggian ilmu. Ilmu yang didasari oleh keikhlasan dan pemahaman yang benar terhadap kandungan nash-nash syar’i, sebagaimana yang diutarakan oleh Abdurrahman al-Sulamiy “Kami mempelajari al-Qur’an dari sekelompok orang (para sahabat) yang ketika mempelajari al-Qur’an mereka tidak berpindah ke sepuluh ayat berikutnya sampai mereka paham dan mengamalkan sepuluh ayat sebelumnya” (Kitab al-Thabaqaat Ibnu Sa’ad 6/172).

“Sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam adalah sosok manusia yang memiliki ilmu yang bermanfaat serta dibarengi oleh amal shaleh tanpa takalluf sedikitpun, keluar dari lisan mereka sepatah kata yang mengandung banyak hikmah dan pengetahuan yang menjadi sebab diturunkannya hidayah Allah. Dan ini merupakan salah satu nikmat yang dikaruniakan oleh Allah kepada ummat ini”. (Majmu’ al-Fatawa 4/138).

Salafiyah itu menakjubkan, ia bagaikan sebuah rangkaian yang memberikan nuansa keindahan, tidak hanya dari sisi lahiriyah saja, tetapi ia begitu kuat tertanam dalam hati dan batin. Ia bukan sebuah doktrin tanpa bukti, bukan pula teori tanpa praktek, tetapi ia adalah gabungan dari semua itu. Maka jadikanlah ia sebagai manhaj hakiki sebagaimana petuah Imam Malik bin Anas –Rahimahullah-“Tidak akan jaya generasi akhir ummat ini kecuali dengan apa yang telah menjadikan jaya generasi awal mereka”.  Wallahu’alam.[]

Sumber: MarkazInayah.com

 

Share.

Leave A Reply