Salah Kaprah dalam Menyambut Ramadhan

0

Alhamdulillah, bulan Ramadhan akan datang kembali menemui kita. Kedatangannya sangat dinanti oleh umat Islam, karena di dalamnya terdapat keagungan dan keutamaan.

Namun demikian, sebagian umat Islam justru tidak benar dalam menyambutnya, baik dengan ritual-ritual ibadah khusus/bahkan ritual adat, diantaranya:

1. Saling bermaaf-maafan

Mereka berdalil dengan sebuah riwayat yang katanya bersumber dari Ibnu Khuzaimah, 3:192 dan Ahmad, 2:246, 254.

Diantara redaksinya berisi do’a Malaikat Jibril: “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:
1) Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
2) Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri;
3) Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.

Namun redaksi yang beredar tersebut tidak sama dengan hadits yang diriwayatkn oleh Ibnu Khuzaimah dan Imam Ahmad serta tidak ada korelasinya sama sekali denga anjuran tersebut.

Khabar tersebut tidak ada asal-asulnya/ PALSU.
Ternyata setelah ditelusuri, pada kitab Shahih Ibnu Khuzaimah, 3:192, juga pada kitab Musnad Imam Ahmad, 2:246 dan 2:254 ditemukan hadis berikut:

“Dari Abu Hurairah; Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam naik mimbar lalu bersabda, ‘Amin … amin … amin.’ Para sahabat bertanya, ‘Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?’ Kemudian, beliau bersabda, ‘Baru saja Jibril berkata kepadaku, ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadan tanpa mendapatkan ampunan,’ maka kukatakan, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun itu tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua),’ maka aku berkata, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang tidak bersalawat ketika disebut namamu,’ maka kukatakan, ‘Amin.”” (Al-A’zhami berkata, “Sanad hadis ini jayyid.”)

Hadis ini dinilai sahih oleh Al-Mundziri dalam At-Targhib wa At-Tarhib, 2:114, 2:406, 2:407, dan 3:295; juga oleh Adz-Dzahabi dalam Al-Madzhab, 4:1682. Dinilai hasan oleh Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 8:142; juga oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Al-Qaulul Badi‘, no. 212; juga oleh Al-Albani di Shahih At-Targhib, no. 1679.

Permintaan maaf adalah hal yang dapat dilakukan kapan saja dan lebih baik dilakukan sesegera mungkin tanpa harus menunggu bulan Ramadhan atau waktu tertentu, jika bersalah dengan orang lain. Karena  tidak ada tuntunan yang mengharuskan dilakukan pada hari atau bulan tertentu, termasuk menjelang bulan Ramadhan.

2. Keyakinan terjadi huru hara pada pertengahan Ramadhan malam Jum’at dst….,

Karena bisa jadi 1 Ramadhan tahun ini (1433 ), jatuh pada hari Juma’t (20 Juli) pertengahan Ramadhan juga jatuh pada hari Jum’at (3 Agustus)

Keyakinan tersebut berasal dari hadits yang diriwayatkan oleh Nu’aim bin Hammad dan derajatnya PALSU

3. Ziarah Kubur
Pada asalnya ziarah kubur disyari’atkan agar yang masih hidup bisa mengambil pelajaran dan bisa membantu mengingat akhirat.

“Dahulu aku melarang kalian menziarahi kuburan, maka sekarang ziarahilah, sebab ia dapat menzuhudkan kalian akan dunia dan mengingatkan akan akhirat.”  (HR. Ibnu Majah)

Namun demikian, tidak ada dalil yang menunjukkan sebaiknya hal tersebut dilakukan pada hari/bulan tertentu.

4.  Menentukan awal Ramadhan dengan Hisab.

Penentuan awal Ramadhan harus dengan ru’yah al-hilal (melihat hilal bulan Ramadhan). Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 185 yang artinya:

“Barangsiapa di antara kalian yang menyaksikan bulan tersebut, maka hendaklah berpuasa” (QS. Al-Baqarah: 185)

Juga hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Berpuasalah kalian dengan melihat hilal, dan berbukalah dengan melihatnya” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Perlu untuk kita ketahui bahwa ilmu hisab telah ada pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak menjadikannya patokan dalam menentukan masuknya bulan Ramadhan, Syawal ataupun yang lainnya.

Semoga Allah selalu memberikan petunjuk kepada kita kepada kebenaran dan menghindarkan kita dari segala bentuk amalan yang tidak ada tuntunannya dalam Islam.

Dari berbagai sumber.

Share.

Leave A Reply