Sebelum Ramadhan Pergi

0

Oleh: Tata Abdullah

Dimuat di Ujung Pandang Ekspress (Hikmah Ramadhan, 26 Ramadhan 1430)

Ramadhan sesaat lagi meninggalkan kita, sejumlah pertanyaan patut direnungkan setiap jiwa yang selalu mengharap ampunan dan keridhaan RabbNya. Bukankah Ramadhan bulan yang membawa rahmat? Sudahkah rahmat Allah yang amat luas melapangkan rongga-rongga dada yang sesat dengan tumpukan noda dosa dan maksiat? Ramadhan membawa maghfirah (ampunan), adakah seberkas percikan cahaya kesadaran dan tetesan air mata taubat karena khasyyah (takut) membasahi pipi merasakan kelembutan Ilahi? Ramadhan syahrul qur’an, manakah ayat-ayat Ilahi yang merobek-robek singgasana kesombongan dan melebur kebekuan hati? Ramadhan bulan yang dirindu kehadirannya, adakah kegelisahan dan keresahan hati karena yang dirindukan sebentar lagi kan pergi tanpa pamitan.
Wahai jiwa-jiwa yang tertipu dengan perasaannya… mengapakah bibirmu tersenyum menyambut hari lebaran yang hanya sehari sementara air matamu kering tak menetes sedikitpun jua karena Ramadhan yang mendekapmu sebulan penuh dengan sepenuh kelembutan dan kasih sayang kan pergi jauh meninggalkanmu?

Saudaraku!

Sungguh kita hanyalah sekumpulan hari-hari dari waktu yang tersedia… sadarkah kita bahwa setiap kali matahari tenggelam berarti separuh bagian dari diri telah sirna dan tak akan pernah kembali. Penyesalan tidaklah berguna jika masa untuk menyesali diri telah berakhir. Berapa banyak tanda-tanda kematian menghampiri, berapa banyak bukti-bukti kebenaran menampar hati, berapa banyak panggilan kesadaran mengetuk nurani, demi Allah hidup ini adalah perlombaan, kompetisi yang tak berakhir hingga sampai ke garis finish setiap orang.

Setan-setan jin dan manusia berlomba-lomba merebut perhatian hati anak cucu Adam, dengan berbagai bumbu penyedap maksiat, penghias nafsu, beraroma birahi dan cinta dunia untuk persembahan kepada raja iblis sang dajjal. Orang-orang yang sadar berlomba-lomba menghias hati dengan kesucian iman, keindahan akhlaq dan kelezatan munajat mengharap ampunan dan keridhaan Rabbul Jalal wal Ikram. Lalu kepada siapakah hati ini akan kita menangkan …

Saudaraku!

Hari-hari penentuan semakin dekat akankah senyum kebahagiaan kelak kita tukar dengan murka dan bencana abadi? Ataukah isak tangis penyesalan mengiris hati berujung rahmat dan ampunan yang kita rindu?

Sekaranglah saatnya tangisi diri sebelum ditangisi… Sekaranglah saatnya berpikir jernih tuk kembali mengetuk pintu Ilahi… Cukuplah sudah perjalanan panjang mengumpul maksiat… Saatnya menjadi manusia yang sesungguhnya… perhatikan sekeliling anda pandanglah kelangit di keheningan malam bayangkanlah ketika langit itu di belah dan petaka maut di depan mata sementara manusia terlelap dalam mimpi palsunya. Ya Allah Rabbul ‘Alamin bukalah untukku pintu ampunanMu tuk menangisi seluruh hidupku, sapulah hatiku dengan kelembutan cintaMu tuk menerima segala taubatku… terimalah diri yang hina tuk menggapai surga-Mu. Amin

Share.

Leave A Reply