Sebuah Seruan Kebangkitan, dari Sudut Serambi Madinah

0

Seusai hujan sore membasahi bumi. Dari sudut serambi Madinah, didengungkan sebuah seruan kebangkitan. “Pada peperangan Qadisiyah, pasukan umat Islam yang berjumlah 30.000 personil, dibawah komando sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas, menghadapi pasukan Persia yang berjumlah 200.000 personil. Sebelum peperangan dimulai, panglima perang Persia meminta agar umat Islam mengutus seorang juru runding guna berunding dengannya. Memenuhi permintaan ini, sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas mengutus Rib’i bin ‘Amir. Setibanya Rib’i di pertendaan Panglima Persia yang bernama Rustum, ia mendapatkan tenda Rustum telah dihiasi dengan permadani berhiaskan emas, sutra, permata, intan berlian dan hiasan indah lainnya.

Sedangkan Rustum dengan mengenakan mahkota dan berbagai aksesoris mewah lainnya, telah duduk menunggunya di atas kursi yang terbuat dari emas. Sedangkan Rib’i datang dengan mengenakan pakaian yang kedodoran karena kebesaran, menenteng sebilah pedang, sebatang tombak, perisai, dan menunggangi kuda yang pendek. Rib’i terus berjalan sambil menunggangi kudanya, hingga kudanya menginjak ujung permadani tenda Rustum. Selanjutnya ia turun dan menambatkan kudanya dibeberapa bantal sandaran yang ada di tenda Rustum. Ia maju menghadap ke Rustum dengan tetap menenteng pedangnya, mengenakan baju dan topi besinya. Menyaksikan ulah Rib’i ini, sebagian pengawal Rustum menghardiknya dengan berkata: Letakkan senjatamu!

‘Ustadz yang mendengungkan kisah memperbaiki duduknya, mengangkat suara dengan lantang seolah membuat dinding-dinding masjid bergetar. Urat-urat lehernya nampak menegang dan wajah beliau yang cerah memerah, kemudian melanjutkan menuturkan kisah.’ Tanpa gentar, Rib’i menanggapi hardikan itu dengan berkata: Bukan aku yang berinisiatif untuk datang ke tempat kalian, akan tetapi kalian yang mengundangku untuk datang. Bila kalian tidak suka dengan caraku ini, maka aku akan kembali. Mendengar perdebatan ini, Rustum berkata: Biarkan ia masuk.

Tatkala Rib’i dizinkan masuk, tidak diduga, ia menghunjamkan tombaknya ke setiap bantal sandaran sutra yang ia lalui. Setiba dihadapan Rustum, ia bertanya kepada Rib’i; Apa tujuan kalian datang kemari? Rib’i segera menjawab dengan tegas: Kami datang untuk membebaskan umat manusia dari perbudakan kepada sesama manusia, menuju kepada perbibadatan kepada Allah, dari himpitan hidup dunia kepada kelapangan hidup di akhirat, dari penindasan tokoh-tokoh agama, ke dalam naungan keadilan agama Islam. Allah mengutus kami untuk menyebarkan agama-Nya kepada seluruh umat manusia. Barang siapa yang menerima seruan kami, maka kami menerima keputusannya itu dan kamipun segera kembali ke negeri kami. Sedangkan orang yang enggan menerima seruan kami, maka kami akan memeranginya, hingga kita berhasil menggapai janji Allah. Spontan Rustum dan pasukannya kembali bertanya: Apa janji Allah untuk kalian? Rib’i menjawab; Orang yang gugur dalam perjuangan ini mendapatkan surga dan kejayaan bagi yang selamat.”

Beberapa saat ustadz terdiam, kemudian kembali melanjutkan bahwa saat ini musuh tidak lagi takut kepada kaum muslimin karena tidak lagi takut kepada Allah seperti takutnya para sahabat. Saat ini kaum muslimin telah ditimpa penyakit Al-Wahn; Dari Tsauban Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu: Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam: “Hampir-hampir ummat-ummat ini memperebutkan kalian (ummat Islam) -dalam riwayat lainnya: dari seluruh penjuru-, layaknya memperebutkan makanan yang berada di mangkuk”. Seorang laki-laki bertanya: “Apakah kami waktu itu berjumlah sedikit?”, beliau menjawab: “Bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, namun kalian seperti buih di genangan air dan AllahTa’ala akan mencabut dari dada musuh-musuh kalian rasa takut kepada kalian serta akan menanamkan ke dalam hati kalian Al-Wahn.”. Seseorang lalu berkata: “Wahai Rasulullah, apa itu Al-wahn?”, beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Imam Ahmad)

Wahai ummat Islam di bumi mana pun engkau berada. Bangkitlah!

Perhatikanlah percakapan antara Heraklius, kaisar Romawi dengan Abu Sofyan, paman Rasulullah sendiri yang pada saat itu belum masuk Islam dan sedang berdagang di Syam. Disaat yang sama korespondensi oleh Rasulullah melalui utusan beliau Dihyah bin Khalifah Al Kalby kepada Kaisar Roma yang sedang berkuasa, Heraklius, pada akhir tahun 6 H. Heraklius yang saat itu berada di Baitul Maqdis mengundang Abu Sufyan untuk ikut pertemuan dimana dihadiri para pembesar Roma. Heraklius mengajukan beberapa pertanyaan ‘spekulatif’   kepada Abu Sufyan tentang Rasul dan ajaran Islam yang dibawa Muhammad. Adapun salah satu pertanyaan sekaligus jawaban dari Heraclius yakni aku sudah menanyakan kepadamu, apa yang dia (Rasulullah) perintahkan? Engkau katakan, bahwa dia menyuruh kalian untuk menyembah Allah, tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya, melarang kalian menyembah berhala, menyuruh kalian mendirikan sholat, bershadaqah, jujur dan menjaga kehormatan diri. Jika yang engkau katakan ini benar, maka dia akan menguasai tempat kedua kakiku berpijak saat ini. Jauh-jauh sebelumnya aku sudah menyadari bahwa orang seperti dia akan muncul, dan aku tidak menduga bahwa dia berasal dari tengah kalian. Andaikata aku bisa bebas bertemu dengannya, maka aku lebih memilih bertemu dengannya. Andaikan aku berada di hadapannya, tentu akan kubasuh kedua telapak kakinya. Setelah itu Heraklius meminta surat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membacanya.

Tidak akan baik ummat ini kecuali apa yang menjadikan baik ummat sebelumnya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah dengan membawa petunjuk dan agama yang haq dan meninggalkan ummatnya di atas jalan hidup yang putih bersih, malamnya bagaikan siangnya, tidaklah menyimpang darinya kecuali orang-orang yang celaka. Kemudian Allah pun memperjelas Al-Haq melalui generasi terbaik yang mengikuti jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menghilangkan kegelapan. Yang pertama dari mereka adalah Abu Bakar Ash-Shidddiq, Umar Al-Faruq, Utsman Dzunnurain, dan Ali bin Abi Thalib yang kepadanya Nabi bersabda saat mengutusnya ke Khaibar: “Laksanakanlah dan berjalanlah terus hingga engkau tiba di tempat mereka dan serukanlah mereka kepada Islam dan sampaikan kepada mereka hak Allah yang wajib atas mereka, sebab demi Allah! Sungguh jika Allah memberi hidayah seseorang melalui dirimu maka itu lebih baik bagimu daripada jika engkau memiliki humur an-na’am (jenis unta yang paling berharga di masa itu)”. (HR. Al-Bukhari)

Wahai ummat Islam, segera bangun dari tidur panjangmu. Segera bangkit dari kursi malasmu.  Hentikanlah pertengkaran antara sesama karena sungguh ummat Islam itu bersaudara. Mari kita kembalikan kejayaan Islam di muka bumi ini. Tapi sebelumnya, jangan pernah bermimpi untuk menang jika tidak menempuh cara yang menjadikan ummat sebelumnya menang. Mari kita berpijak di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan mengutamakan pemahaman ulama salaf dan menjadikan akal tunduk kepada nash-nash keduanya.

Duhai Ummat Islam. Bergeraklah!

Yakinlah bahwa kalimatullah paling tinggi, sedangkan kalimat orang kafir berada dalam tingkat yang paling rendah. Sungguh tidak selayaknya seorang mukmin menghinakan dirinya. Mari kita merasa mulia dan bangga dengan agama ini karena Islam mengajarkan al ‘izzah kepadanya.

“Janganlah kamu merasa lemah dan meminta perdamaian, padahal kamulah yang di atas dan Allah (pun) beserta kamu dan dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu” (QS. Muhammad: 35 )

“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya dan bagi orang-orang yang beriman, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahui” (QS. Al-Munafiqun : 8 )

Sungguh tidak ada kebesaran kecuali milik Allah. Dan siapa saja yang bersama dengan yang Maha Perkasa, ia menjadi perkasa. Dan siapa saja yang mencari kejayaan dengan selain Allah, niscaya akan hina. Pondasi paling utama untuk memperjuangkan izzul islam wal muslimun, adalah aqidah Islamiyyah. aqidah ini bertumpu pada tauhidullah (mentauhidkan Allah), terhadap dzatNya, tindakan-tindakanNya dan asma wa sifatNya, tidak ada dzat yang berhak di sembah kecuali Allah. Karena itu, barang siapa menyembah Allah, ia menjadi insan yang perkasa. Dan orang yang meyekutukan Allah, akan menjadi manusia hina. Allah-lah yang mengangkat derajat atau menghinakan seseorang. Allah berfirman .

“Dan Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki” (QS. Ali–Imran: 26 )

Barangsiapa konsisten pada aqidah yang benar dan tauhid yang lurus, niscaya Allah akan memuliakannya dengan aqidah dan agama ini. Dan barang siapa yang menyimpang darinya, hendaknya tidak mencela kecuali dirinya sendiri saja.

Sementara konsep izzah dalam kaca mata jahiliyah, membanggakan diri, membanggakan kedudukan sosial, dengan nasab, nenek moyang, golongan, banyaknya pengikut, banyaknya harta, dengan jabatan dan harta. Inilah izzah menurut jahiliyah. Orang-orang yang jahil dan sesat tersebut senantiasa hendak menjerumuskan ummat islam untuk mengikuti konsep izzah dalam perspektif mereka.

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)”. dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah  : 120 )

Maka tidak diragukan lagi bahwa setiap kali kebenaran itu menyalakan cahanya maka api kebatilan pun ikut menyala. Namun,

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”. (QS. As-Shaff : 8 )

Pada saat ustadz hendak menutup majelisnya, beliau mengingatkan agar setelah kajian jangan sampai ada mahasiswa yang bergerak tanpa ilmu yang tuntas dan bimbingan dari seorang guru yang mumpuni keilmuannya apatah lagi mengatas namakan jihad. “Antum tarbiyah saja dulu, kemudian amalkan apa yang diketahui dan dakwahkan kepada orang di sekitar antum.” Ustadz tersenyum kemudian membaca do’a kaffaratul majelis.

Dari Sudut Serambi Madinah; Subhan Husain

Share.

Leave A Reply