Sertifikat Kelakuan Baik dari Istri untuk Suami

1

Andaikata Anda mengatakan kepada putra-putri Anda, “Yang paling ayah cintai diantara kalian ialah yang paling patuh kepada mama, tidak merepotkannya dan tidak suka mengganggunya. Dan ayah akan memberikan hadiah kepada orang yang dinilai seperti itu oleh mama.” Bukankah dengan begitu anda telah memuliakan istri Anda dan mengangkat martabatnya di hadapan anak-anaknya, serta memberikan wasiat yang sebaik-baiknya kepada­nya?!

Dan Anda, wahai istri, andaikata suami Anda berbicara seperti itu kepada putra-putri Anda, tidakkah anda gembira, bahagia, dan berterima kasih kepada suami anda, serta menghargai wasiat yang dia berikan kepada anda, perhatiannya kepada Anda, dan kemauan­nya untuk mengangkat martabat Anda di hadapan putra-putri Anda?!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling baik kepada keluarga­nya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.”

Penjelasan Hadits:

Di sini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan kebaikan kepada keluarga -yakni istri- sebagai standar kebaikan seseorang. Hal itu diperjelas di dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiallahuanahu,

“Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling baik kepada istrinya.” (Hasan Shahih).

Adakah penghargaan kepada wanita yang lebih besar dari penghargaan ini? Adakah wasiat kepada wanita yang lebih baik dari wasiat ini? Adakah penghormatan yang lebih agung dari penghormatan ini?!

Apa yang terjadi andaikata salah satu berkas yang harus dilengkapi sebagai persyaratan untuk mendaftarkan diri di perguruan tinggi adalah sertifikat dari ibu calon mahasiswa yang menyatakan bahwa anak tersebut berbakti dan taat kepadanya?!

Apa yang terjadi andaikata salah satu berkas yang harus dilengkapi sebagai persyaratan untuk mendapatkan pekerjaan adalah sertifikat dari istri pelamar yang menyatakan bahwa yang bersangkutan baik kepada istrinya, sayang kepadanya, dan menjadi figur terbaik baginya?!

Bukankah ketika menjadikan sertifikat itu sebagai persyaratan untuk dua hal di atas dan sejenisnya, berarti kita mengamalkan mafhum dan misi dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas?!

Salah satu kata pepatah yang sejalan dengan hadits ini dan dikenal luas di tengah masyarakat ialah kata pepatah yang berbunyi, “Orang yang tidak baik untuk keluarganya pasti tidak baik untuk orang lain!”

Memang, banyak ayah bijaksana yang menolak pemuda yang meminang putrinya setelah mengetahui bahwa pemuda tersebut tidak berbakti kepada ibunya. Dia berfikir dengan logika yang sederhana dan bijaksana; jika pemuda itu tidak baik kepada ibunya, apakah mungkin dia akan baik kepada istrinya? Jika pemuda itu tidak baik untuk ibunya, apakah mungkin dia akan baik untuk istrinya di masa mendatang?

Dus, tidaklah mengherankan bilamana kita mengetahui banyak orang yang gagal di dalam karier atau kehidupan mereka gara-gara mereka durhaka kepada ayah dan ibu mereka, kejam dan keras terhadap anak-anak dan istri mereka.

Sekarang, apa pendapat anda seandainya apa yang kami singgung di atas akan direalisasikan? Seandainya pemerintah menetap­kan bahwa berkas persyaratan untuk mendapat­kan tempat duduk di perguruan tinggi, pekerjaan di departemen atau institusi, surat izin menge­mudi (SIM), atau pasport harus dilengkapi dengan sertifikat dari ibu yang menyatakan bahwa anaknya adalah anak yang berbakti dan baik kepadanya, dan atau sertifikat dari istri yang menyatakan bahwa suaminya adalah figur terbaik baginya?

Saudariku kaum muslimah, sudahkah anda melihat penghargaan seperti apa yang diberikan Islam kepada Anda?!

Share.

1 Comment

  1. Alhamdulillah, jka semua orang khususnya pelajar dan  mahasiswa memiliki pengetahuan dan pemahaman seperti ini, maka kehidupan di dunia  ini akan  tenteram. Pendidikan berkarakter di sekolah-sekolah tidak perlu lagi, sebab semua orang sudah memiliki akhlak yang mulia, itu bersumber dari rumah tangga. semoga……………..

Leave A Reply