Shalatlah Sebelum Dishalatkan

1

Hari ini aku menshalatkan jenazah, dan hari ini pula kuawali tulisan ini (9 Jumadal Ula 1434 H). Jenazah yang kami shalatkan adalah mayat ibu dari saudara kita Ilyas, seorang lelaki keturunan India yang telah mengukir kesan di hati saya. Dimana saat awal kami bergerak dalam dakwah di kota Denpasar ini, maka atas persetujuan Takmir Masjid Baitul Makmur, kami dibolehkan membina Pemuda Masjid dengan pembahasan keislaman khususnya kajian Hadits Arba’in Annawawiyah. Karena beliau adalah pedagang buku Islami yang tokonya tidak jauh dari Masjid, maka kami pun memesan buku Hadits Arba’in padanya untuk dibagikan ke seluruh peserta kajian yang saat itu kami perkirakan 20 orang. Beliau menyampaikan bukunya sedang kosong namun beliau akan pesan untuk kami Insya Allah. Sekitar sepekan kemudian buku dimaksud sudah datang, dan sesuai kesepakatan bahwa kami akan bayar bukunya bila pesanan sudah datang. Kami pun sudah menyiapkan pembayarannya, namun sungguh berharga kesan ini -saat itu kami belum saling kenal- beliau menolak uangnya dan mengatakan bahwa buku ini dihibahkan untuk penyebaran Ilmu, subhanalllah! “Jazakumulllahu khairan,”  ujarku dengan wajah ceria.

Benar saudaraku, semua kita akan menjadi mayat, maka hendaklah kita mengerjakan kebaikan yang banyak di dunia ini dan secara khusus amal-amal sholeh yang telah diwajibkan oleh Allah serta amal sholeh yang dijamin keberlanjutan pahalanya meski kita tidak berbuat, meski kita tidak lagi hidup di dunia ini.

“Apabila anak manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya kecuali 3 perkara. Yakni; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak yang sholeh apabila mendo’akannya” (HR. Muslim)

Saudaraku, maka perhatikanlah nasehat-nasehat penting berikut ini yang sengaja kutorehkan untuk menjadi nasehat bagi diri saya sendiri dan berharap bisa menggugah hati nurani setiap pembaca untuk selanjutnya lebih mengokohkan ibadah shalat kita. Tak ada yang kami harap dengan sangat melainkan anda mengambil manfaatnya lalu mengamalkannya dan kami pun bisa merasakan buahnya yang manis di akhirat. Amin.

Saudaraku, shalat adalah rukun ke-Islaman kita yang ke dua, dia merupakan prinsip bagi kita yang beriman, dia adalah kehormatan kita, dia adalah hidup kita, tanpa shalat maka kita ini ibarat binatang melata yang hidup sekedar makan dan minum atau bahkan seperti benda-benda mati yang berserakan. tanpa ruh, tanpa semangat, tanpa cita-cita, tanpa cinta, tanpa harapan mulia, tanpa semuanya bahkan pun tanpa agama. Benar-benar hanya seperti benda mati.

Saudaraku, maka shalat itu adalah cahaya kehidupan dan bukti nyata keimanan. Meninggalkannya bisa berarti menanggalkan tanda keimanan. Menanggalkan tanda keimanan ini, bisa berarti menampakkan kekufuran –na’udzu billahi mindzalik-. Semua kita tentu ingin hidup mati sebagai orang yang beriman.

“Batas antara seorang muslim dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim).

Semoga kita tidak seperti yang dikabarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya (yang artinya):

“Maka datanglah setelah mereka pengganti yang jelek yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kerugian-kerugian.” (QS. Maryam: 59)

Dan inilah kerugian itu.

“Apakah yang memasukkan kalian ke dalam neraka Saqar? Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat.” (QS. Al-Mudatsir 42-43)

Mohon Pertolongan dengan Shalat

Kata Allah Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya):

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat” (al-Baqarah: 153).

Saudaraku, hidup ini tak pernah lepas dari persoalan. Di rumah, di kantor, di keluarga, di pekerjaan dan dimana saja kita beraktifitas di setiap harinya atau bahkan di setiap saatnya. Karena itu kita selalu butuh pertolongan Allah. Kekuatan kita terlalu lemah untuk kita andalkan, fisik kita terlalu lemah, ingatan kita terlalu lemah, perasaan kita terlalu lemah, ilmu kita terlalu lemah, jiwa kita terlalu lemah, kalau Allah tidak menolong kita maka hal yang mudah mungkin menjadi sulit bagi kita, remeh bisa menjadi ruwet, ringan bisa menjadi berat. Maka mintalah pertolongan kepada Allah, agar semuanya menjadi baik, berjalan dengan baik dan berakhir pula dengan baik.

Saudaraku, tahukah kita kenapa orang kadang meninggalkan shalat? Karena setan menipu dia. Setan mengangankan kepadanya keberhasilan besar, mengangankan padanya kemudahan, kekayaan melimpah, kemudahan urusan, kenyamanan perasaan, kepuasan batin dan sebagainya dengan meninggalkan shalat. Maka jadilah diantara manusia tertipu, lalu mereka memperturutkan bisikan-bisikan setan tersebut, lalu apa yang terjadi? Benarkah setelah itu mereka mendapatkan apa yang telah mereka angankan? Tidak, sama sekali tidak. Justru sebaliknya dia sedang berjalan kepada keruwetan yang lebih besar, ketidaktenangan yang lebih hebat, beban yang lebih berat, kesempitan yang lebih menghimpit. Lalu setan tersenyum dan dia berhasil menjauhkan orang-orang itu dari kebahagiaan sejatinya, dari kelapangan sejatinya, dari kecukupan sejatinya, dari keceriaan sejatinya, dari kehidupan sejatinya.

Saudaraku, maka mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Dialah obat untuk kebahagiaan kita yang sedang sakit, obat jiwa yang sedang gelisah, obat hati yang sedang khwatir, obat kesuksesan yang sedang tertunda dan segala prahara hidup yang sedang menghimpit.

Saudaraku, tahukah kita ‘pecut’ apa yang digunakan setan dalam mengontrol diri manusia agar meninggalkan shalat? Dialah syahwat yang tak terkendali, dialah hawa nafsu yang diperturutkan.

Saudaraku, tahukah kita kekuatan apa yang harus dipakai untuk melawannya? Dia adalah sabar dan shalat. Sabarlah dan kuatkan kesabaran itu! Sabar dalam mentaati perintah Allah, sabar dalam meninggalkan larangan Allah, sabar ketika ditimpa musibah dalam usaha kita untuk taat dan dalam usaha kita untuk meninggalkan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Begitu banyak hati yang dibuat mengeluh oleh setan saat dia meninggalkan kemaksiatannya atau dibuat mengeluh saat mulai mendapatkan tantangan ketika melaksanakan perintah Allah. Seorang mutarabbi (binaan dalam halaqah tarbiyah) saya bercerita, saat dia mulai meninggalkan minuman keras, yang mana dia telah memenuhi hidupnya dengan mabuk-mabukan dan jangan tanyakan dosa yang lainnya ketika mulai belajar dan memutuskan meninggalkan kebiasan buruknya itu maka dua bulan lamanya dia menderita sakit, fisiknya melemah, badannya menjadi kurus, gairah hidupnya terasa melemah, tapi dia terus bertahan dan selalu saja dia dihinggapi perasaan ingin kembali dan mengeluh bahwa ini gara-gara saya berhenti minum minuman keras. Sekali lagi dia terus bertahan dan tidak memperturutkan bisikan setan itu. Alhamdulillah, akhirnya semuanya terus berangsur baik dan saat ini dia merasakan kehidupan yang diakuinya jauh lebih sempurna dari yang lalu, dari segala sisinya. Kehidupan keluarganya lebih tentram, ekonominya lebih maju, fisiknya lebih kuat dan tentu saja pergaulannya lebih terasa nikmat.

Saudaraku fillah, itulah sebabnya Allah mengingatkan kita tentang surga bahwa yang menempatinya adalah orang yang mengendalikan dirinya.

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. an-Naazi’at: 40-41).

Saudaraku fillah, kenapa tempat kembalinya adalah surga? Karena dia menahan diri dari memperturutkan hawa nafsunya. Yang mana setan telah memecut dia untuk melakukan keburukan, kemaksiatan, dengan hawa nafsu tersebut. Lalu dia menahannya, maka dia menjadikan petunjuk Allah, sebagai pedoman hidupnya. Maka diapun masuk surga. Adapun mereka yang memperturutkan hawa nafsunya, maka dia menjadi teman setan di neraka Allah yang menyala-nyala na’udzu billahi mindzalik.

Sekarang jelaslah sudah untuk kita bahwa jiwa ini butuh pertolongan Allah untuk selamat. Allah Ta’ala kemudian mensyariatkan kita untuk menunaikan shalat. Menghamba kepada-Nya dengan penuh kekhusyu’an, meninggalkan segenap apa yang kita kerjakan untuk kembali kepada-Nya. Jangan terkuasai oleh hawa nafsu, shalatlah sebelum kamu dishalatkan. Sesungguhnya saat-saat yang paling dekat antara hamba dengan Rabbnya adalah saat ia melaksanakan shalat. Itulah saat kita memuji dan membesarkan Allah, kita memohon pertolongan kepada-Nya, menyerahkan segenap kepenatan hidup, keruwetan fikiran, kegundahan perasaan, kekhawatiran jiwa hanya kepada-Nya dan Dia yang Maha Mampu untuk segala-galanya, menolong dan memudahkan kita. Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat.

Buah dari Menjaga Shalat

Setiap kebaikan akan berbuah kebaikan, lalu seterusnya kebaikan-kebaikan itu akan berbuah kebaikan yang lebih banyak lagi. Dari sana akan tersusun jutaan kebaikan yang mungkin tak semuanya kita sadari. Dan diantara buah nyata dari menjaga shalat adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala menguatkan kita dari meninggalkan perbuatan keji dan munkar.

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar.” (QS. al-’Ankabut: 45)

Saudaraku fillah, sudah berapa lama kita ingin agar benar-benar total dalam meninggalkan perbuatan keji dan munkar, tapi ternyata kenapa kita kadang begitu sulit, lalu masih saja jatuh di dalamnya? Kalau begitu keadaannya maka periksalah shalat kita. Karena sesungguhnya shalat itu akan mencegah penegaknya dari perbuatan keji dan munkar. Kalau shalat telah dilalaikan maka yang lainpun akan mudah dilalaikan. Dia pun akan mudah lalai sehingga jatuh pada kemaksiatan keji. Kalau shalat telah dilalaikan maka dia pun akan mudah jatuh pada perbuatan yang munkar. Lalu bagaimana agar shalat tidak dilalaikan? Kuasailah hawa nafsu kita dan jangan perturutkannya. Dirikanlah shalat pada waktunya, bacalah bacaan dengan baik dan benar, bila kita belum mampu maka luangkan waktu untuk belajar. Kenapa kita mampu duduk lebih lama ngobrol tentang dunia lalu tidak bisa menyabarkan diri dari duduk untuk belajar? Bila kita malu maka tanyalah jiwa kita yang lurus kenapa aku malu pada kebaikan sedangkan tidak malu untuk melakukan dosa dan kekejian? Kalau kita sudah lapang dalam belajar maka selanjutnya hayatilah setiap bacaan dalam gerakan shalat kita. Semoga Allah memberi kita kekuatan besar untuk semakin dekat dengan Allah. Lalu setiap bacaan-bacaan itu cobalah untuk tahu arti-artinya. Setelah itu pahamilah makna-maknanya. Saudaraku, kukatakan mengertilah arti-artinya karena itu adalah ilmu tapi juga kita harus berupaya untuk memahami makna-maknanya. Karena sesungguhnya penyebab orang banyak jatuh pada kesalah karena qillatul ilmi wa dho’ful fahmi (sedikitnya ilmu dan rendahnya pemahaman).

Saudaraku, buah shalat yang lainnya adalah orang yang mendirikannya akan bertambah kesuciannya, ibarat seorang yang mandi lima kali sehari semalam maka bagaimanakah gerangan kebersihan dirinya? Begitulah shalat bagi kita. Saudaraku betapa banyak dosa-dosa yang menumpuk pada diri kita; Dosa mata, dosa telinga, dosa pikiran, dosa kaki dan seterusnya. Padahal dosa itu ibarat titik-titik hitam yang terus menodai beningnya hati kita, semakin bertambah dosa, maka semakin bertambah hitam pula hati ini hingga akhirnya dia akan gelap dan setelah itu habislah kebaikan kita. Dosa pun dianggap biasa dan lebih buruk lagi setiap kebaikan dianggap buruk. Maka jangan heran bila ada orang yang membeci sunnah, membenci ketawaddu’an dan kesolehan. Lalu dia menyukai kemaksiatan dan dosa dan kemunkaran lainnya. Saudaraku, maka shalat hadir sebagai pembersih. Sahabat Abu Hurairah radhiyalllahu ‘anhu bercerita, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menurut kalian seandainya ada sungai di depan pintu rumah salah seorang dari kalian di mana dia mandi di dalamnya setiap hari lima kali, apakah masih ada kotorannya yang tersisa sedikit pun? Mereka menjawab, “Tidak ada yang tersisa sedikit pun.,” Rasulullah lalu menjawab, “Begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Shalatlah Pada Waktunya

Saudaraku, tentu sekarang kita sudah berjanji terus menjaga shalat, maka  sesungguhnya shalat itu telah ditetapkan waktunya. Bukan bagian dari Akhlak yang baik terhadap syariat Allah apabila kita menunda-nunda untuk shalat hanya untuk mengikuti hawa nafsu yang mengendalikan untuk mendahulukan urusan dunia –na’udzubillahi min dzalik-.

Saudaraku, mari kita dirikan shalat di masjid dengan berjama’ah bagi kaum laki-laki dan jadilah yang pertama hadir di sana, tunda sejenak keperluan dunia kita untuk menunaikan shalat. Dengan begitu bagi kita kebaikan yang banyak.

Kecuali dengan makan yang telah terhidangkan, maka merupakan akhlak yang mulia terhadap shalat yaitu kita mempersiapkan fisik dan jiwa kita dalam menunaikannya. Maka janganlah shalat kita diusik oleh pikiran tentang makanan yang telah disediakan. Oleh sebab itu bila makanan telah tersedia maka petunjuk Nabi kita yang mulia tunaikanlah dahulu hajat makan itu agar ketenangan hati dan pikiran lebih baik pada kita. Allahu Ta’ala A’lam.[]

Denpasar, Abu Hijaz al-Makassari

Share.