Sikap Inshof (Lapang Dada) dalam Berbeda Pendapat

0

Oleh : Abu Shofwan Al-Munawy

Ikhtilaf (perbedaan pendapat) di kalangan umat Islam, khususnya ahlussunnah yang manhaj mereka berdiri di atas Al-qur’an dan Sunnah berdasarkan Salafussholeh adalah perkara yang lazim, hal ini disebabkan adanya perbedaan kapasitas ilmu dan pemahaman mereka dalam mengukur tingkat maslahat dan mafsadat suatu perkara, atau sebab-sebab lain yang telah disebutkan oleh para ulama, diantaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam buku beliau “Raf’u Al-Malam ‘an Al-Aimmah Al-A’lam”.

Dan yang wajib diketahui bahwa adanya ikhtilaf ini bukanlah suatu kesalahan ataupun perpecahan dalam tubuh umat Islam, namun kesalahan yang hakiki terdapat pada cara manhaj dan sebagian dari kita dalam memandang dan menyikapi perbedaan tersebut, karena sebagian ikhtilaf tersebut mustahil dapat dicegah, lalu mengapa kita tidak saling memahami dalam berbeda sebagai bentuk apresiasi dan sikap toleransi kita terhadap ijtihad (pendapat) seorang imam atau ulama bahkan dalam sebagian masalah tertentu memang mengharuskan adanya beberapa pendapat yang mewajibkan kita untuk saling berlapang dada sambil berusaha mencari kebenaran dengan penuh keinshofan (lapang dada) dan keramahan, “bukan saling membelakangi atau bermuka masam”.

Sebab kewajiban terpenting bagi semua muslim adalah menyatukan kalimat, menyucikan hati dan menghindarkan diri dari “praktek-praktek brutal” yang hanya mementingkan kepuasan hawa nafsu dan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu serta menjauhkan diri dari menghukumi dan memvonis manusia dengan tuduhan-tuduhan keji –Allahu Musta’an-.

Maka kewajiban seorang muslim khususnya penuntut ilmu syar’i pada zaman ini adalah berusaha meraih segala yang bermanfaat bagi diri dan umatnya dan bukanlah “tugas utama” ataupun “kesempatan emas” baginya, untuk “memverifikasi (mencari-cari)” aib dan ketergelinciran orang lain, khususnya para ulama dan da’i dan menyibukkan diri dengan “komentar-komentar buruk” terhadap mereka, apalagi dengan mengatasnamakan: nasihat dan tahdziran” dan mengkambinghitamkan kaidah ilmu “aljarh wa ta’dil

Sebagaimana para ulama dan da’i juga butuh adanya majelis-majelis dialog dan diskusi-diskusi ilmiah yang menyatukan mereka untuk saling mengungkapkan pendapat dan argumen atas masalah tertentu yang diperselisihkan dengan dasar untuk mencari yang hak, bukan untuk saling mengalahkan dan menyalahkan. Cara ini lebih mulia dan utama daripada saling mencela dan menghujat yang tiada satupun manfaat dan faedahnya, bahkan hanya menyebabkan adanya permusuhan dan perpecahan di kalangan umat yang tidak dapat dinetralisir, sebagaimana fakta umat saat ini.

Dan dalam banyak kesempatan, sebagian orang kadang hanya mengambil pendapat dan perkataan ulama tertentu karena sangat sesuai dengan “hawa nafsu” dan pendiriannya, tanpa melihat dan mempertimbangkan kebenaran pendapat ulama lain yang berbeda dengannya, sehingga dengan kefanatikannya yang bobrok ini mereka meletakkan sebuah kaidah baru yang bercorak “hizbiyah yang tercela” yaitu barangsiapa yang sejalan dengan pendapat mereka, ia akan menjadi orang yang dicintai dan disanjung, sedangkan orang yang menyelisihi mereka walaupun dengan argumen dan dalil yang kuat merekapun memvonisnya sebagai orang bodoh dan musuh utama” Padahal mereka sangatlah membenci dan lari dari yang namanya “hizbiyah”, namun dengan kaidah ini, merekapun terperosok dalam perangkap “hizbiyah” dalam keadaan sadar maupun tidak sadar. Allahu almusta’an.

Maka jauhilah “praktek-praktek biadab” dengan mencela dan menggugat keabsahan derajat dan kemuliaan para ulama hanya karena beberapa kesalahan dan ketergelinciran mereka. Sebab, hal itu bisa saja terampuni dan tenggelam dalam lautan kebaikan dan jasa mereka terhadap umat, sedangkan mencela dan menghujat mereka merupakan dosa besar dan gambaran “kebobrokan akhlak” pelakunya serta sumber bencana dan bala’ baginya di dunia dan diakhirat.

Imam Adz-Dzahabi berkata : “Sebagian tabi’in telah saling mencela dan memusuhi sesama mereka, dan muncullah (pada saat itu), perkara-perkara yang tidak mungkin dijelaskan dan sama sekali tidak ada manfaatnya untuk disebarluaskan, bahkan dalam buku-buku tarikh (sejarah) dan jarh wa ta’dil terdapat banyak perkara (seperti ini) yang sangat mengherankan dan orang yang berakal mengendalikan dirinya (dari berkomentar buruk dan menyebarluaskannya), dan diantara kebaikan islamnya seseorang, meninggalkan apa yang tidak berguna baginya, sedangkan dagingnya para ulama beracun. Adapun yang dinukil dalam buku-buku tersebut hanyalah bertujuan untuk menjelaskan kesalahan, kelemahan dan kekurangannya kapasitas hafalan seorang ulama (perawi) dan bukanlah termasuk dalam bagian ini (menyebarkan aib-aib mereka) namun hanya untuk menjelaskan dan membedakan antara hadits shohih dari yang hasan, dan hadits hasan dari yang dhoif (lemah). (Siyar Al A’lam An-Nubala : 10/93)

Renungilah nasihat indah Imam Ibnu ‘Asakir tatkala berkata : “Ketahuilah, semoga Allah memberikan taufik kepada saya dan engkau untuk mencapai keridhoan-Nya, dan menjadikan saya dan engkau termasuk orang-orang yang bertaqwa kepada-Nya dengan sebenar-benarnya taqwa- sesungguhnya daging para ulama beracun, dan ketentuan (sunnah) Allah untuk membuka kedok orang-orang yang menentang mereka tidaklah tersembunyi, dan sungguh sedikit orang yang hanya menyibukkan diri dengan menggunjing (mencela) para ulama, kecuali dihukum sebelum wafatnya dengan kematian hati.”

  فَلْيَحْذَرِ  الَّذِينَ  يُخَالِفُونَ  عَنْ  أَمْرِهِۦٓ  أَن  تُصِيبَهُمْ  فِتْنَةٌ  أَوْ  يُصِيبَهُمْ  عَذَابٌ  أَلِيمٌ

“…maka hendaklah orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur : 63)

Ibnu Katsir –rahimahullah– juga menyebutkan dalam tafsirnya (1/499), bahwa sebagian ulama menganggap bahwa perbuatan mencela (memfitnah) para ulama merupakan perbuatan dosa besar.

Abdullah bin Al-Mubarak –rahimahullah– berkata: “Barangsiapa yang meremehkan para ulama maka ia akan kehilangan akhiratnya…” (Adab As-Shohbah : 1/62)

Dan yang perlu dijadikan pusat perhatian dalam masalah ini bahwasanya : para ulama yang hidup sezaman (‘Aqran) kadang diantara mereka terjadi persaingan dan permusuhan, saling mencela dan mengumbar dendam. Hal ini disebabkan beberapa faktor  dan ini bukanlah perkara yang asing bagi sepanjang sejarah umat Islam. Apabila sikap saling mencela ini, sebabnya adalah persaingan seperti ini, yang mana mereka hidup dalam zaman yang sama, maka pendirian penuntut ilmu yang tepat adalah menghindarkan diri dari apa yang sedang terjadi diantara mereka, dan menahan diri agar tidak terlihat di dalamnya bahkan ia seharusnya menyembunyikan komentar-komentar buruk sesama mereka di hadapan manusia dan memohonkan ampunan atas mereka semua, serta tidak boleh mengharamkan dirinya untuk mengambil dan menuntut ilmu dari mereka, karena pada umumnya, faktor dari semua permusuhan itu adalah sifat cemburu, hasad dan ‘Ashobiah (fanatik) terhadap madzhab, kelompok atau ulama tertentu, dan betapa sedikit orang-orang yang dapat menghindarkan dirinya dari hal-hal yang demikian.

Imam Adz-Dzahabi berkata : “Komentar buruk antara sesama Aqran (para ulama yang hidup sezaman), jika telah jelas kepada kita, bahwa motifnya hanyalah hawa nafsu dan kefanatikan, maka hal itu tidak boleh diperhatikan namun harus dirahasiakan (di hadapan manusia) dan tidak boleh disebarkan”. (Siyar Al A’lam An-Nubala’: 10/29).

Ketahuilah –wahai saudaraku- masalah dan kesulitan yang dihadapi umat ini sangatlah besar dan beragam, yang mengharuskan adanya arah pandangan dan argumen yang banyak pula dalam mencari solusinya, dan ini butuh keseriusan dan ijtihad para ulama dalam menanganinya. Dan merupakan hal yang lazim, jika dalam masalah-masalah ini terdapat ikhtilaf, akan tetapi merupakan kekeliruan besar jika pendirian kita adalah memusuhi dan tidak menghargai orang-orang yang menyelisihi kita walaupun argumen mereka juga memiliki arah pandangan dan dalil yang kuat.

Kadang sebagian ulama tergelincir dalam kekhilafan dan kesalahan tertentu atau memiliki aib dan kekurangan, maka kewajiban kita dalam hal ini adalah sebagai berikut:

1). Mengingatkan mereka akan kesalahan tersebut, sebab mereka kadang tidak sengaja mengatakan ataupun menulisnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Agama adalah nasehat”, Seseorang bertanya : Untuk siapa, (wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam). Beliau bersabda : untuk Allah, Rasul-Nya, kitab-Nya, imam kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin….” (HR. Muslim :55)

Dan para ulama adalah imam kaum muslimin yang juga membutuhkan nasehat dan peringatan, sebagaimana dalam hadits di atas. Akan tetapi dalam mengingatkan mereka perlu adanya adab sopan santun dan cara yang baik yang tidak sembarang orang bisa melakukannya. Dan yang lebih layak bertanggungjawab dalam masalah ini adalah orang-orang yang mumpuni dalam kapasitas ilmu dan kemuliaan derajatnya, sedangkan penuntut ilmu, mereka pada umumnya tidaklah pantas untuk melakukan ini.

2) Tidak mengikuti dan mentaklid kesalahan dan kegelinciran mereka sebab Allah ‘azza wa jalla mencela orang-orang yang taklid (fanatik buta) dengan dalih dan hujjah, bahwa hal itu telah dilakukan oleh orang-orang selain mereka, sebagaiamana firman-Nya :

وَكَذٰلِكَ  مَآ  أَرْسَلْنَا  مِن   قَبْلِكَ  فِى   قَرْيَةٍ  مِّن  نَّذِيرٍ  إِلَّا  قَالَ  مُتْرَفُوهَآ  إِنَّا  وَجَدْنَآ  ءَابَآءَنَا  عَلَىٰٓ  أُمَّةٍ  وَإِنَّا  عَلَىٰٓ  ءَاثٰرِهِم  مُّقْتَدُونَ

“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata : “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka (Az-Zukhruf : 23)

3) Menjaga lisan dan menggibah dan menyebarkan kesalahan-kesalahan mereka dalam majelis-majelis dan merahasiakannya dari orang-orang awam dan orang-orang yang sama sekali tidak memiliki sifat wara’ dalam hal ini. Adapun jika terpaksa disebutkan, tidaklah terlarang dengan syarat tidak menyebutkan nama-nama ulama tersebut.

4) Memberikan udzur atau alasan bagi mereka terhadap kesalahan yang mereka lakukan. Imam Ja’far bin Muhammad berkata :

“Jika sampai kepadamu, suatu (kesalahan) dari saudaramu, yang engkau ingkari, carikanlah baginya satu uzur/alasan sampai tujuh puluh uzur, jika engkau mengetahuinya namun jika tidak maka katakanlah: “mungkin dia memiliki uzur yang saya tidak ketahui”. Dan para ulama adalah manusia yang paling pantas dan berhak diberikan uzur dan alasan atas aib dan ketergelinciran mereka. Wallahu A’lam.

Catatan:

  1. Perbedaan yang dimaksudkan adalah perbedaan dalam masalah furu’ atau masalah ijtihad, bukan dalam Ushuluddin (pokok agama).
  2. Ilmu Al Jarh Wa At-Ta’dil adalah salah satu cabang ilmu hadits yang mengkaji tentang sifat-sifat perawi hadits yang dengannya haditsnya bisa diterima atau ditolak.

 

(wahdahmakassar.org/darul-anshor.com)

Share.

Leave A Reply