Sunnah Dhuha, Wasiat Penuh Hikmah

0

oleh : Abu Shofwan Al-Munawy

Allah عز وجل telah menjadikan siang sebagai waktu untuk mencari rezeki dan karunia-Nya, dan menciptakan malam sebagai waktu untuk beristirahat menenangkan diri dari rasa letih dan penatnya kesibukan siang.

Allah عز وجل berfirman :

وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتاً ﴿٩﴾ وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاساً ﴿١٠﴾ وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشاً ﴿١١﴾

“Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat. Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS. An-Naba’ : 9-11)

Itulah nikmat waktu, rezeki dan ketenangan yang Allah عز وجل curahkan atas hamba-hambaNya. Sebab itu, dalam setiap waktu dan keadaan, Alah عز وجل memerintahkan mereka untuk selalu bersyukur dan berdzikir mengingat-Nya baik dalam heningnya suasana malam maupun di sela-sela padatnya kesibukan siang. Allah عز وجل berfirman :

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُوراً ﴿٦٢﴾

“Dan Dia pula yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur” (QS. Al-Furqan : 62)

Demi mewujudkan tertanamnya rasa syukur para hamba dalam hati mereka. Allah عز وجل mensyariatkan kepada mereka berbagai macam ibadah –yang merupakan terciptanya makhluk-, baik berupa ibadah wajib maupun ibadah yang sunnah. Dan salah satu ibadah yang paling agung dan utama yang Allah syariatkan sebagai bentuk penghambaan dan apresiasi rasa syukur terhadap-Nya adalah shalat. Sebagaimana sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم :

….واعلموا أن خير أعمالكم الصلاة..

“…Dan ketahuilah, bahwa sebaik-baik amal kalian adalah shalat…”1

Oleh sebab itu, kendatipun Allah عز وجل telah mewajibkan sholat 5 waktu, atas seorang muslim, Dia masih memberikan kesempatan terhadapnya untuk lebih mendekatkan diri kepadaNya dengan berbagai macam shalat sunat di waktu-waktu malam dan siang hari, dan diantara shalat-shalat sunat itu adalah “shalat dhuha” yang banyak diabaikan oleh kebanyakan kaum muslimin, mungkin karena faktor ketidaktahuan mereka tentang shalat ini ataupun karena faktor kemalasan dan tidak adanya semangat ibadah yang tinggi dalam diri mereka.

Jika dalam keheningan malam, Allah عز وجل telah menjadikan tahajud dan witir sebagai ibadah sang hamba menyertai kenyamanan istirahat malam-malamnya, maka di sela-sela padatnya aktifitas dan kesibukan siang, Allah عز وجل dan Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم menjadikan shalat ini (shalat dhuha), sebagai ibadah sunnah yang paling utama didalamnya. Bahkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah mewasiatkan shalat ini kepada beberapa sahabatnya, diataranya : Abu Hurairah, Abu Darda’ dan Abu Dzar Al Ghifary رضي الله عنهم dengan wasiat yang sama. Dan disini kita hanya akan mengutip ucapan Abu Hurairah رضي الله عنه tentang wasiat yang agung ini sebagaimana yang terdapat dalam shohihain bahwasanya Abu Hurairah berkata : “Kekasihku Rasulullah صلى الله عليه وسلم mewasiatkan padaku dengan 3 perkara yang tidak akan aku tinggalkan : agar saya tidak tidur malam kecuali setelah shalat witir, agar saya tidak meninggalkan dua rakaat shalat dhuha karena itu adalah shalatnya orang-orang yang senantiasa kembali (bertobat) kepada Allah, dan agar berpuasa 3 hari setiap bulan2

Ketahuilah –wahai saudaraku-

Sesungguhnya hati yang berada dalam kesibukan dan padatnya aktifitas, kadang mengalami gangguan konsentrasi, lemahnya semangat kerja dan hilangnya ketenangan berpikir, namun, dengan berhenti sejenak, mengheningkan jiwa dan perasaan untuk mengingat dan berdzikir kepada Allah serta memperbaharui niat amal dan aktifitas harian, hati dan pikiran akan kembali pada ketenangan yang dengannya seseorang dapat mencapai titik konsentrasi dan peningkatan aktifitas yang maksimal. Allah عز وجل telah berfirman :

الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ﴿٢٨﴾

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenang” (QS. Ar-Ra’d : 28)

Dan sebagaimana yang telah disebutkan bahwa bentuk dzikir (mengingat) Allah yang paling agung adalah shalat, maka merupakan suatu hikmah yang indah dan hal yang pantas, jika Allah عز وجل meletakkan waktu shalat dhuha tepat dalam momen-momen kesibukan mencari rezeki dan padatnya aktifitas harian yang menjenuhkan, baik itu sebelum mengawali aktifitas di awal pagi, di tengah-tengah aktifitas maupun menjelang istirahat sebelum tengah hari.

Jadi tidak diragukan lagi, shalat dhuha merupakan wasiat Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang penting bagi para hamba yang senantiasa bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah عز وجل, sebab mereka akan selalu mengingat Allah dalam setiap keadaan, bahkan di sela-sela kesibukan yang padatpun, mereka masih dapat meluangkan sedikit waktu mereka untuk bermunajat dengan Rabb mereka Yang Maha Pemurah. Sebab itu, tidaklah mengherankan jika Abu Hurairah رضي الله عنه menyebut shalat dhuha sebagai shalatnya orang yang senantiasa kembali bertaqorrub dan bertobat kepada Allah عز وجل dan ini senada dengan sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang akan disebutkan kemudian.

Subhanallah…

Seandainya hamba yang selalu melaksanakan shalat dhuha yang mendapatkan gelar dari Allah عز وجل sebagai “At-Tawwab (hamba yang senantiasa kembali bertobat dan bertaqorrub kepada Allah)”, maka cukuplah ini sebagai fadhilah dan keistimewaan baginya, apatah lagi jika dalam hadits-hadits Rasulullah صلى الله عليه وسلم begitu banyak menyebutkan dibalik shalat dhuha ini, diantaranya :

– Shalat dhuha : pengganti bagi sedekah persendian tubuh

Dalam shahih muslim dari Abu Dzar رضي الله عنه, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

“Tatkala pagi, setiap persendian salah seorang diantara kamu memiliki sedekah; setiap ucapan tasbih (subhanallah) adalah sedekah, setiap ucapan tahmid (alhamdulillah) adalah sedekah, setiap ucapan tahlil (laa ilahaillallah) adalah sedekah, setiap ucapan takbir (Allahuakbar) adalah sedekah, memerintahkan kepada kebaikan adalah sedekah dan mencegah dari kemungkaran adalah sedekah, namun (pahala) semuanya cukup diraih dengan dua rakaat dari shalat dhuha.”3

– Dengannya : Allah mencukupkan nikmat-Nya pada orang yang melaksanakannya hari itu.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

يقول الله عز وجل : يا ابن آدم لا تعجز من أربع ركعات في أول نهارك أكفك آخر

“Allah عز وجل berfirman : wahai anak adam, janganlah engkau merasa lemah untuk melakukan 4 rakaat (dhuha) pada awal siang hari agar Aku mencukupkan (nikmat-Ku) padamu di akhir siang.” 4

– Keluar ke tempat shalat untuk shalat dhuha, pahalanya menyamai pahala umrah.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

ومن خرج إلى تسبح الضحى لا ينصبه إلا إياه فأجره كأجر العمرة

“Barangsiapa yang keluar (ke tempat shalat) untuk shalat dhuha, dan tidak ada yang mengeluarkannya kecuuali untuk itu, maka pahalanya seperti pahala orang yang melaksanakan umrah” 5

– Dua rakaat diawal waktu dhuha seusai duduk berdzikir dari sholat shubuh, menyamai pahala haji dan umrah.

Dari Anas bin Malik, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

(من صلى الغداة في جماعة ثم قعد يذكر الله من تطلع الشمس ثم صلى ركعتين كانت له كأجر حاجة وعمرة. قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : تامة, تامة, تامة)

“Barangsiapa yang melakukan shalat shubuh secara berjam’ah lalu duduk berdzikir kepada Allah smpai matahari terbit, kemudian shalat 2 rakaat maka ia mendapatkan pahala seperti pahal haji dan umrah.

Anas رضي الله عنه berkata : Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda : sempurna, sempurna, dan sempurna.” 5

Shalat ini sering dikenal “shalat isyraq”, namun ia tetap merupakan shalat dhuha yang dilakukan diawal waktu dhuha, seusai duduk berdzikir dari waktu shubuh dan barangsiapa yang melakukan ini, ia akan mendapatkan keutamaan ini, Insya Allah.

Inilah sebagian fadhilah dan keistimewaan yang dikhususkan oleh Allah عز وجل atas hamba-hambaNya yang menjaga shalat dhuha sebagai penyejuk hati dan penenang pikiran dan jasadnya di waktu siang.

Bergegaslah –wahai saudaraku- untuk meraihnya dengan hanya meluangkan beberapa menit untuk bermunajat dengan Rabbmu dalam indahnya shalat dhuha. Apalagi diantara kemurahan-Nya عز وجل. Dia mensyariatkannya dalam tenggang waktu yang panjang, dari meningginya mentari setinggi mata tombak (sekitar 15 menit dari terbitnya matahari) sampai tengah hari, saat mentari tepat berada di atas kepala. (zawal : sekitar 15 menit sebelum waktu Dzuhur). Diantara 2 waktu inilah yang dikenal sebagai waktu dhuha, maka dibolehkan untuk melakukan shalat dhuha dipermulaan pagi mengawali aktifitas harian, atau disela-sela aktifitas maupun tatkala mentari memanas sebelum waktu zawal (tengah hari), dan waktu terakhir inilah yang paling afdhol, sebagaimana dalam hadits :

صلاة الأوابين حين ترمض الفصال

“Shalatnya orang-orang yang senantiasa kembali (bertobat) kepada Allah adalah tatkala mentari memanas” 7

Adapun jumlah rakaatnya, sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama adalah minimal 2 rakaat, berdasarkan hadits Abu Hurairah رضي الله عنه yang telah disebutkan, dan maksimal 8 rakaat, berdasarkan perbuatan Rasulullah صلى الله عليه وسلم, yang mana beliau melakukan shalat di waktu dhuha dengan 8 rakaat diriwayatkan oleh Ummu Hani رضي الله عنها bahwa pada saat “Fathu Mekkah”, ia mendatangi Rasulullah dan mendapatinya sedang mandi, Ummu Hani berkata: “…dan ketika beliau selesai mandi, beliaupun berdiri, lalu shalat 8 rakaat…”8

Wa Shallallahu ‘ala Muhammad Wa’ala Ali Muhammad.[]

Footnote :

  1. HR. Ibnu Majah (277, 278, 279), Al Hakim (  ) dan dishohihkan oleh AL-Albani dalam Al-Irwa’ (2/137).
  2. HR. Al-Bukhari (1178) Muslim (721), dan Ibnu Khuzaimah dengan Lafadz ini (   )
  3. HR. Muslim (720)
  4. HR. Abu Daud (1289), At-Tirmidzi (475) dan dishohihkan oleh Al Albany dalam At-Ta’liq Ar-Raghib (1/236)
  5. HR. Abu Daud (008), dengan derajat hasan
  6. HR. At-Tirmidzi (586) dan berkata : “Ini hadits hasan ghorib” dan dihasankan oleh Al-Albany dalam Al-Misykat (971)
  7. HR. Muslim (748)
  8. HR. Al-Bukhari (357) dan Muslim (336)

Sumber: wahdah.or.id

Share.

Leave A Reply