Syariat Islam VS HAM

0

Memang benar kata ahli hikmah “kalau kau tak kenal apa yang dimaksud keutamaan, maka bagaimana kamu kenal sesuatu itu memiliki keutamaan atau tidak?!”

Sungguh sesat orang yang ingin memojokkan syariat Islam, apatah lagi sampai mengkritisi dan membandingkannya dengan produk manusia yang bernama HAM, sedang diwaktu yang sama dia tidak tahu apa arti “keutamaan”.

Kalau anda berkata: “kuda lebih utama dari keledai”. Itu berarti kuda bersekutu dengan keledai dalam beberapa sisi tapi kuda lebih unggul dari keledai. Atau dengan kata lain kuda lebih utama dari keledai.

Baik, sekarang ada yang bertanya; utama mana syariat Islam atau HAM? Mungkin ini jugalah yang dipertanyakan oleh Human Right Watch (HRW). Sebuah lembaga yang katanya bergerak menegakkan hak asasi manusia (HAM). Sehinggah menimbulkan jawaban yang pongah, yang diwujudkannya lewat kritikan terhadap syariat Islam, yang objek sasarannya adalah penerapan syariat Islam di aceh.
Dalam laporannya yang berjudul “Menegakkan Moralitas : Pelanggaran dan Penerapan Syariah di Aceh Indonesia”. Menurut HRW ada dua syariat Islam yang melanggar HAM dan konstitusi Indonesia. Syariat yang dimaksud adalah larangan berkhalwat (berdua-duan lelaki dan wanita yang bukan mahram) dan kewajiban berbusana Muslim.

Pembaca yang budiman, subhanallah! Dari perkataan orang-orang yang seperti mereka ini tampaklah pentingnya menuntut ilmu, Maha Benar-lah Allah –Subhanahu wa Ta’ala- yang mengatakan, artinya: “tidak sama orang yang mengetahui itu dengan orang yang tidak mengetahui”. Maka sangat pantaslah bila Nabi –sallallahu’alaihi wasallam- mewajibkan kita menuntut ilmu. Agar tidak samar bagi kita antara kebenaran dan kebatilan.

Keutamaan Syariat Islam
Perlu diketahui bahwa hal paling agung dalam hak anak manusia adalah kebahagiaan. Kebahagiaan di dunia, dan yang utama ke bahagiaan di akhirat.

Sedang agama Islam, adalah penutup agama-agama, yang selalu sesuai dengan waktu dan tempat. Karena syariatnya adalah syariat yang turun langsung dari Pencipta alam semesta ini, yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Yang tahu benar apa yang terbaik untuk manusia di segala sisi kehidupannya, yang bisa mengantarkannya pada kebahagiaan hidup di dunia ini dan lebih utama dari itu kebahagiaan hidup di akhirat. Bahkan sesungguhnya Allah, lebih tahu apa yang terbaik bagi manusia, lebih dari pengetahuan manusia terhadap yang baik untuk dirinya sendiri. “Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui sedang Dia maha halus lagi maha mengetahui?” (al-Mulk: 14)

Perlu diketahui bahwa agama Islam hadir dengan ajarannya yang memenuhi semua apa yang dibutuhkan oleh manusia dalam wujud mengakomodir kemaslahatan dan mencegah kemudharatan.

Inilah pola hidup yang terbaik. Dan ini pulalah pola hukum yang sempurna. Karena dia menghimpun keberuntungan dunia dan keberuntungan akhirat.

Maka oleh karena itu, kedudukan syariat Islam tentu tidak dapat disandingkan dengan tata aturan hidup buatan manusia, sebagus apapun dia. Apatah lagi jika aturan itu bertentangan dengan syariat Islam. Sebab sudah dapat dipastikan aturan itu memiliki sisi negatife yang banyak. Karena pembuat atau penggagasnya adalah manusia biasa yang memiliki kepentingan pribadi dibalik apa yang dia buat dan lebih parah dari itu, karena gagasan itu lahir dari ketidak sempurnaan pengetahuan manusia terhadap manusia itu sendiri dan kehidupannya.

Maka syariat Allah adalah yang tertinggi dan tidak ada yang mencapai ketinggiannya. Bila ada aturan yang dibuat oleh pemerintah disuatu tempat, yang dimaksudkan untuk kemaslahatan orang banyak, maka aturan itu tidak boleh melanggar syariat Islam. Sekedar contoh dari itu adalah; larangan berdua-duaan yang bukan mahram dan kewajiban berbusana muslim. Yang oleh HRW diaanggap melanggar HAM.

Seperti yang kami sebutkan di atas, bahwa hal paling agung dalam hak anak manusia adalah kebahagiaan. Maka sebuah aturan universal harus dapat mencover kebahagiaan universal pula. Tidak boleh hanya membahagiakan sebagian dan memenderitakan sebagian yang lain. Serta kebahagiaan yang yang dilahirkan haruslah kebahagiaan yang sejati dan bukan kebahagiaan semu atau sesaat.

Antara tahun 2008 dan 2009, sebuah Koran yang terbit di Makassar memuat berita yang menghebohkan yang memuat tentang larisnya alat kontrasepsi di apotik-apotik, saat malam pergantian tahun, bahkan dibeberapa apotik dinyatakan terjual habis. –na’udzubillahi min dzalik- ini tentu mengindikasikan prilaku bejat menggejala dimana-mana dan membuktikan moral anak bangsa yang hancur sangat parah. Darimana semuanya berawal dan kemana berakhir tentu itulah akibat dari kebebasan berdua-duaan tanpa mahram. Maka bila syariat ini digugat oleh sekolompok orang atas nama HAM maka ini menunjukkan orang tersebut tidak bermoral.

Cukup mengejutkan, angka perceraian di Indonesia tahun 2010 mencapai 320.788 kasus. Sebagian besar memiliki usia pernikahan dibawah lima tahun. Bila saja setiap keluarga itu meninggalkan 2-3 anak, maka berapa jumlah anak muda yang mungkin memiliki mental tidak stabil akibat perpisahan orang tua mereka. Dan itu berarti Indonesia mewariskan generasi tanda ‘tanya’ untuk beberapa dekade ke depan. Dan ternyata selain faktor ekonomi, penyumbang terbesar dari perceraian ini adalah perselingkuhan, kecemburuan dan kekerasan rumahtangga. Tentu saja ini semua saling berkait kelintang dan bila ditelusuri secara mendalam, maka salah satu simpul penyebabnya adalah pergaulan bebas serta secara khusus adalah keluarnya wanita dari rumahnya dengan tanpa berbusana Islami.

Syariat Islam Mendukung HAM
Tentu saja syariat Islam mendukung HAM, selama hal tersebut tidak melanggar syariat Islam. Contoh, apa yang belakangan berkembang di maroko, yang berkaitan dengan bermunculannya wanita-wanita yang melamar pria. Seperti yang dilakukan Naeema Al-Mansouri dan wanita yang bernama Hend. Keduanya nekad melamar suaminya karena menganggap mereka adalah orang baik yang bias memimpinnya dan keinginannya untuk menjadi istri dari mereka meskipun diantara mereka juga masih berstatus suami.(alarabiyah.net)

Sosiologi Maroko, Abdul Samad al-Dialmi menilai tren perempuan melamar laki-laki merupakan bagian dari kesetaraan gender. “perempuan maroko berusaha membuktikan bahwa mereka tidak mau begitu saja menjadi perawan tua. Ia juga memiliki hak yang sama untuk menyampaikan niatan baik untuk dinikahi.”

Pembaca yang budiman, maka tentu saja tidak ada yang salah dari penyampaian niatan ini, sebab Nabiyullah Muhammad -sallallahu ‘alaihi wa sallam- juga dahulu di lamar oleh Khadijah bintu khuwailid –radhiyallahu ‘anha- meski hal ini belum menjadi bagian dari sunnah (allahu a’lam bi showab).

Aroma Busuk Dibalik Isu HAM
Mungkin diantara bukti apa yang pernah disebutkan Dr. Muh. Natsir, Prof. Snouck Hurgronje pernah menulis dalam bukunya, Nederland en de Islam, “Opvoeding en onderwijs zijn in staat, de Moslims van het Islamstelsel te emancipeeren.” (Pendidikan dan pelajaran dapat melepaskan orang Muslimin dari genggaman Islam).

Selanjutnya, Dr. Bakker mengingatkan, bahwa kaum misionaris Kristen harus lebih serius dalam menjalankan aksinya di Indonesia, supaya di masa yang akan datang, Indonesia tidak lebih susah dimasuki oleh. misi Kristen. (Dimuat di Majalah PANDJI Islam, No. 33-34, 1938; dikutip dari buku M. Natsir, Islam dan Kristen di Indonesia (kumpulan karangan yang dihimpun dan disusun oleh Endang Saifuddin Anshari, (Bandung: CV Bulan Sabit, 1969).

Bicaralah yang Baik atau Lebih Baik Diam
Untuk mereka yang banyak berbicara tentang syariat Islam, dalam perspektif mengkritisi dan membandingkannya dengan HAM, maka langkah yang utama yang harus dilakukan adalah pelajarilah al-Qur’an dan as-Sunnah dari guru yang jelas komitmen keIslamannya dan jangan ambil ilmu Islam dari orang kafir. Karena racun itu tidak membawa apa-apa kecuali kematian.

Bila anda berkata bahwa syariat Islam adalah satu-satunya hukum yang paling tegas di muka bumi ini. Khususnya dalam hal keamanan masyarakat atau kriminalitas yang mengancam hak-hak orang lain, syariat Islam sangat tegas memberikan hukuman semua ini hanya semata-mata menjaga kemaslahatan umum dan memberikan rasa keadilan serta keamanan bagi tiap individu tanpa pengecualian. Maka perkataan anda ini benar adanya.

Ketahuilah dengan baik, bahwa untuk kemaslahatan hidup anak manusia di dunia ini, mereka hanya butuh syariat Islam dan tidak lagi membutuhkan HAM karena syariat Islam telah mengatur hak-hak asasi manusia secara sempurna sesempurna ajaran Islam itu sendiri tanpa perlu dikurangi dan tak perlu di tambahi.

Pikirkanlah dengan baik bahwa diakhirat nanti akan ada orang yang menyesali sejarah hidupnya, yang menyesali kata-katanya, aktifitasnya, yang menyesali hartanya dan waktunya. Karena hanya digunakan untuk menantang syariat Allah Azza wa Jalla. Na’udzubillahi min dzalik.

Syahrullah Hamid

Share.

Leave A Reply