Syirik dan Fenomena Masyarakat (1)

0

Oleh: Ustadz Muhammad Irfan Zain, Lc.

Dosa terbesar seorang hamba kepada pencipta-Nya adalah berbuat syirik dan menduakan Nya dalam seluruh aspek yang menjadi hak prerogative Nya.

Satu diantara hak prerogative Allah itu adalah hak untuk dikultuskan dalam segala kehendak dan perintah Nya, yang selanjutnya diistilahkan dengan sebutan hak rububiyah Allah.

Maka diantara contoh perbuatan menduakan Allah –-ta’ala- dalam rububiyyah-Nya adalah perbuatan mengkultuskan orang atau tokoh tertentu secara berlebihan hingga menyelisihi ketetuan Allah –-ta’ala-.

Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab –rahimahullah- dalam ‘Kitab Tauhid’ nya mengangkat sebuah judul bab;

من أطاع العلماء والأمراء في تحريم ما أحل الله أو تحليل ما حرمه فقد اتخذهم أربابا من دون الله

“Barangsiapa taat kepada para ulama dan para pemimpin dalam mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah atau dalam menghalalkan sesuatu yang diharamkan-Nya, maka sungguh ia telah mengangkatnya sebagai tuhan-tuhan tandingan selain Allah.”

Pernyataan Beliau ini tidak lain merupakan salah satu dari penafsiran firman Allah –-Ta’ala-;

 

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ [التوبة/31]

 

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.”[1].

 

Olehnya itu, berkaitan dengan ketaatan kepada pemimpin atau tokoh tertentu, hanyalah diperbolehkan pada hal-hal ma’ruf (yang baik dan bukan kemaksiatan). Adapun bila yang diperintahkan itu adalah sebuah kemaksiatan, maka tidak boleh diikuti, -bahkan- yang memerintah dan yang diperintah –keduanya- wajib tunduk –hanya- kepada Allah.

 

Mempertegas hal ini adalah riwayat yang disebutkan oleh Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu ‘anhu-;

 

بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – سَرِيَّةً ، وَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ وَأَمَرَهُمْ أَنْ يُطِيعُوهُ ، فَغَضِبَ عَلَيْهِمْ وَقَالَ أَلَيْسَ قَدْ أَمَرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّ تُطِيعُونِى قَالُوا بَلَى . قَالَ عَزَمْتُ عَلَيْكُمْ لَمَا جَمَعْتُمْ حَطَبًا وَأَوْقَدْتُمْ نَارًا ، ثُمَّ دَخَلْتُمْ فِيهَا ، فَجَمَعُوا حَطَبًا فَأَوْقَدُوا ، فَلَمَّا هَمُّوا بِالدُّخُولِ فَقَامَ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ ، قَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّمَا تَبِعْنَا النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فِرَارًا مِنَ النَّارِ ، أَفَنَدْخُلُهَا ، فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ إِذْ خَمَدَتِ النَّارُ ، وَسَكَنَ غَضَبُهُ ، فَذُكِرَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « لَوْ دَخَلُوهَا مَا خَرَجُوا مِنْهَا أَبَدًا ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ »

 

“Rasulullah ––shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah mengutus sebuah pasukan, dan Beliau menunjuk seorang dari Anshar sebagai pemimpin bagi mereka, dan menyuruh mereka untuk taat kepada sang pemimpin itu. Maka suatu waktu, sang pemimpin itu marah kepada pasukannya. Ia berkata; bukankah Rasulullah ––shallallahu ‘alaihi wasallam- telah memerintahkan kalian untuk taat kepadaku ?!. Mereka menjawab; ya. Sang pemimpin berkata –dalam keadaan yang sangat marah-; kalau demikian kumpulkanlah kayu bakar, sulutlah apinya dan masuklah kedalamnya !. Maka mereka pun mengumpulkan kayu bakar dan menyulutnya. Namun ketika mereka akan membakar diri mereka, sebagian mereka berkata; bukankah kita mengikuti ajaran Rasulullah ––shallallahu ‘alaihi wasallam- agar kita selamat dari panasnya api ?!. Lantas, haruskah kita sekarang membakar diri-diri kita ?!!. Maka ketika mereka berada dalam kebimbangan tersebut, api pun berangsur padam, seiring dengan redamnya kemarahan sang pemimpin. Akhirnya, kabar ini pun diceritakan kepada Rasulullah ––shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan Beliau bersabda; “Jika seandainya mereka masuk ke dalam api tersebut, niscaya mereka tidak akan pernah keluar darinya untuk selamanya. Sesungguhnya ketaatan itu hanyalah ditujukan kepada perintah yang baik.”[2].

Demikian satu diantara fenomena syirik yang cukup banyak merebak di masyarakat. Semoga Allah menyadarkan kaum muslimin dari kekeliruan-kekeliruan yang mungkin tidak mereka sadari itu.

——————————-

[1] Penafsiran ini sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Adi bin Hatim -radhiyallahu ‘anhu-. (HR. Tirmidzi, no. 3020)

[2] HR. Bukhari, no. 7145

Share.

Leave A Reply