Tadabbur al-Qur’an, Kewajiban Bagi Umat

1

Oleh: Syekh. Prof. Dr. Nashir ibn Sulaiman al-‘Umar

Allah Ta’ala mengajak hamba-Nya untuk merenungkan (tadabbur) ayat-ayat yang Dia turunkan dalam kitab-Nya dengan beberapa cara dan metode. Diantaranya dengan menjelaskan bahwa tadabbur merupakan maksud dan tujuan diturunkannya al-Qur’an, sebagaimana yang telah ditegaskan dalam surat Shad ayat 29:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَاب

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai fikiran mendapat pelajaran.” (QS. Shaad: 29).

Kadang pula dengan mengingkari sikap orang-orang yang meninggalkan tadabbur, sebagaimana dalam surat al-Mu’minun ayat 68:

أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءَهُم مَّا لَمْ يَأْتِ آبَاءَهُمُ الْأَوَّلِينَ

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu?” (QS. Al-Mu’minun: 68).

Dalam ayat lain Allah mewajibkan tadabbur sebagaimana dikatakan oleh Imam Syaukani berdasarkan firman Allah dalam surat an-Nisa ayat 82 dan surat Muhammad ayat 24.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS: An-Nisa: 82).

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24).

Jika uraian di atas menunjukan pentingnya tadabbur dari sisi (argumen) syariat, maka akal juga menunjukkan hal tersebut. Sebab, diantara konsekwensi Allah memilih manusia sebagai khalifah di bumi sebagaimana dalam firman-Nya dalam surat al-Baqarah ayat 30:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. (QS. Al Baqarah: 30).

Sebagai konsekwensinya Allah menjelaskan kepada mereka manhaj yang jelas sebagai panduan/pedoman dalam menunaikan tugas kekhilafahan dengan benar sesuai kehendak Allah. Hal ini telah terlaksana dengan diturunkannya wahyu kepada para nabi-Nya sepanjang zaman. Namun, ketika tugas kekhilafah beralih kepada ummat terakhir ini dan menurunkan kitab terakhir yang tidak ada lagi kitab setelahnya, maka secara otomatis kitab tersebut mencakup manhaj (pedoman) merealisasikan khilafah. Agar umat mengenali rincian-rincian manhaj tersebut, maka ayat-ayat dalam kitab itu harus ditadabburi. Yang dimaksud dengan tadabbur adalah sebagaimana yang  dikemukakan oleh Syekh as-Sa’di rahimahullaah yaitu, “Merenungkan makna-makananya, merealisasikan pemikiran, prinsip-prinsip dan berbagai konsekwensinya yang muncul.” Maksudnya mengamalkan konsekwensinya dengan amal dan ittiba’.

Setiap orang yang memperhatikan keadaan kaum Muslimin hari ini, maka ia akan menyaksikan perhatian yang besar dari kaum Muslimin terhadap al-Qur’an. Hal tersebut dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat baik pria maupun wanita, anak-anak dan orang tua, dengan membaca (tilawah) dan menghafal (hifdz). Lembaga-lembaga penghafal al-Qur’an (tahfidz) tersebar di seluruh penjuru negeri. Masjid-masjid penuh dengan halaqah-halaqah (kelompok) yang membaca dan mengahafal al-Qur’an (halaqah tilawah dan tahfidz). Demikian pula dengan daurah-daurah tahfidz (training menghafal al Qur’an) yang diselenggarakan setiap tahunnya menelorkan puluhan sampai ratusan penghafal al-Qur’an (huffadz). Sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa abad ini merupakan abad keemasan menghafal al-Qur’an.

Semua ini merupakan fenomena yang menggembirakan. Sebab, ini menunjukan semangat umat Islam terhadap Kitabullah dan antusiasme mereka untuk memperoleh pahala yang besar yang dijanjikan oleh Allah kepada para hamba-Nya yang membaca dan mengahafal al-Qur’an. Akan tetapi sangat disayangkan, semangat dan antusiasme dalam membaca dan menghafal al-Qur’an ini, tidak disertai dengan semangat yang sama atau mendekati, dalam hal mentadabburi dan memahami Al Qur’an. Sehingga kita bisa menyaksikan ada diantara mereka yang menyempurnakan hafalan Al Qur’an, tapi tidak mengetahui makna dari awal surat yang biasa dihafal oleh yang baru belajar.

Salah seorang penanggung jawab halaqah tahfidz mencatat beberapa fenomena dalam persoalan ini. Antar lain, beliau mengatakan, “Nampaknya kebanyakan pelajar tidak mentadabburi al-Qur’an. Hal itu terlihat ketika mereka tidak memperhatikan waqf (berhenti) dan ibtida (mengawali saat membaca. Ini saya temui saat menyimak bacaan mereka di halaqah dan mendengar mereka di ujian dan perlombaan. Ada yang berhenti (waqf) dengan cara yang mengherankan dan memulai bacaan (ibtida’) dengan cara aneh. Hal ini menunjukkan mereka tidak mentadabbur dan memperhatikan bacaan dengan baik. (Ishaam jam’iyyaati tahfiidzil Qur’anil Kariim fi Bina-il Ajyaal, Al Waaqi’ Wal Ma-muul, hal 611-628).

Realita ini bertentangan dengan perintah Allah untuk membaca al-Qur’an dengan tartil. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

“Dan bacalah Al Quran itu dengan tartil.” (QS. Al-Muzzammil: 4).

Maksudnya dengan perlahan-lahan dan tenang.

Imam Ibnu Katsir berkata, “Hal itu lebih membantu untuk memahami dan mentadabburi al-Qur’an”. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/250).

Allah menjadikan pemahaman dan tadabbur sebagai sebab diperintahkannya membaca al Qur’an dengan tartil. Imam Syaukani berkata, “Bacalah dengan pelan disertai tadabbur”. (Fathul Qadiir, 7/336). Beliau menjadikan tadabbur sebagai bagian dari makna tartil.

Di sisi lain, dikhawatirkan orang yang membaca dan menghafal tanpa tadabbur   akan terjatuh pada kondisi seperti umat-umat sebelum kita yang dicela oleh Allah. Sebagaimana dalam firman-Nya dalam surah al-Baqarah ayat 78:

وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ [٢:٧٨]

“Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga.”

Ibnu ‘Asyur rahimahullaah berkata tentang tafsiran ayat tersebut, “al-Amaniyyul qira-ah, maksudnya mereka tidak mengetahui al-Kitab, melainkan sekadar kata-kata yang mereka hafal dan pelajari tanpa memahami maknanya. Ini seperti kebiasaan umat-umat yang sesat, mereka hanya membaca tanpa memahami. (At Tahrir wat Tanwir, 1/358).

Adapun sebatas tilawah tanpa amal –yang merupakan konsekwensi tadabbur-, maka ini adalah musibah besar. Allah Ta’ala membuat perumpamaan orang yang mengemban ilmu tapi tidak mengambil manfaat dari ilmunya dengan perumpaman yang paling buruk. Allah Ta’ala berfirman dalam surat al-Jumu’ah ayat 5 dan al-A’raf ayat 175-176:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. Al-Jumu’ah: 5).

dan firman-Nya dalam surat al-A’raf ayat 175-176:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ [٧:١٧٥]وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ [٧:١٧٦]

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (QS. Al A’raaf: 175-176).

Dikhawatirkan orang yg membaca Al-Qur’an tanpa tadabbur, tidak tersentuh, dan tidak mengamalkannya akan mengalami musibah seperti yang menimpa umat terdahulu.

Orang yang mentadabburi al-Qur’an dengan sungguh-sungguh, akan memperoleh manfaat dan kebaikan (maslahat) dunia dan akhirat, yang hanya Allah saja yang mengetahui besarnya. Betapa agungnya ungkapan yang disebutkan oleh al-‘Allamah as-Sa’diy, “Diantara manfaat tadabbur al-Qur’an adalah dengan tadabbur tersebut seseorang akan sampai pada derajat (semakin) yakin dan memahami bahwa al-Qur’an benar-benar firman Allah. Karena ia menjumpai ayat-ayat al-Qur’an saling membenarkan satu sama lain. Oleh karena itu ketika saudara-saudara kita dari bangsa jin mendengar bacaan Al-Qur’an mereka mengatakan:

إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا [٧٢:١]يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ ۖ وَلَن نُّشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا [٧٢:٢]

“Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami,” (QS:Al-Jinn:1-2)

Diantara mereka ada yang menyimak al-Qur’an …

فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنصِتُوا ۖ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَىٰ قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ [٤٦:٢٩]

“Maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (QS: Al-Ahqaf: 29)

Hal ini dikarenakan mereka sangat tersentuh dengan bacaan al-Qur’an sebagai buah dari tadabbur dan tafakkur.

Ibnul Qayyim rahimahullaah mengatakan sebuah ungkapan, yang patut dicatat dengan tinta emas, “Tidak ada sesuatu yang paling bermanfaat dalam kehidupan dunia dan akhirat serta mendekatkan seseorang pada keselamatannya, selain tadabbur al-Qur’an, merenungkannya secara seksama dan memikirkan makna ayat-ayatnya”. (Madaarijus Saalikiin, 1/451).

Apa yang beliau ucapkan memang benar. Karena tadabur al-Qur’an merupakan pintu segala kebaikan, penutup segala keburukan.

Syekh As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Tadabbur al-Qur’an merupakan kunci ilmu pengetahuan. Dengan tadabbur, segala kebaikan dan ilmu diperoleh. Dengannya iman bertambah dan tertanam di dalam hati. Dengan mentadaburi al-Qur’an seseorang dapat mengenali Rabb (Tuhan) yang disembah, sifat-sifat-Nya yang sempurna, menyucikan-Nya dari sifat tidak layak untuk-Nya dan jalan yang mengantarkan kepada-Nya. Dengan tadabbur pula seseorang dapat mengenali musuh yang sebenarnya, jalan yang menjerumuskan kepada adzab, sifat-sifat mereka dan sebab-sebab yang mendatangkan adzab-Nya. Semakin meningkat intensitas tadabbur seseorang, maka bertambah pula ilmu, amal, dan bashirahnya. (Tafsir As Sa’di, 1/189-190).

Mudah-mudahan Allah menjadikan kita dan seluruh kaum muslimin termasuk orang-orang yang membaca Al Qur’an dengan sebenar-benarnya, melanjutkan tilawah dengan Tadabbur dan amal. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

(Diterjemahkan dari tulisan beliau yang berjudul Tadabbur al-Qur’an Faridhah al-Ummah, di http://www.almoslim.net/node/116674) (Sym)


 

 

Share.