Terorisme antara Haq dan Batil (bag. 2)

1

B. Macam-macam Terorisme dalam Perspektif islam.

Terorisme berdasarkan makna dasarnya dibagi menjadi dua bagian, yaitu:

1. Terorisme terpuji.

Bentuk ini lebih tepat disebut sebagai tindakan preventif, yakni melakukan persiapan di segala bidang, khususnya bidang militer, dengan memperkuat pertahanan, mengumpulkan senjata, dengan tujuan menakut-nakuti negara-negara kafir yang melampaui batas juga para penjajah, agar tidak berani mengusik keamanan apalagi menyerang  negara-negara Islam.

Juga untuk mencegah para penjahat serta para pelaku dosa dan maksiat, untuk memberi mereka pelajaran dan demi menjaga kesejahteraan ummat muslim dan manusia umumnya. Termasuk dalam bentuk ini apa yang dikenal dengan istilah al-Muqawamah, yakni perlawanan yang dilakukan oleh rakyat yang terjajah dan tertindas, seperti perlawanan rakyat Palestina, Iraq, Afghanistan, Chechnya, Suria, dsb, terhadap para teroris dan penjajah internal maupun eksternal.

Allah Ta’ala berfirman:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لا تُظْلَمُونَ

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya“. [QS. al-Anfal :60]

Hal ini disebut sebagai tindakan teror bila dilihat dari dampak nya bukan dari bentuk perbuatannya , yaitu terciptanya rasa takut yang amat luar biasa di kalangan orang-orang kafir, bahkan mereka lebih takut kepada kaum muslimin  dari pada kepada Allah Ta’ala, Allah berfirman  :

“Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti.” [QS. al-Hasyr : 13 ].

Maka wajib hukumnya bagi Negara-negara islam untuk mempersiapkan apa saja yang mereka bisa, untuk menghadapi musuh demi menjaga keamanan dan kesejahteraan ummat  muslim dan manusia umumnya.

2. Terorisme Tercela

Terorisme tercela dapat dikelompokkan ke dalam tiga bagian utama, yaitu :

Pertama: Isti’mar/penjajahan, Ihtilal/pencaplokan wilayah, dan penindasan.

Tindak terorisme ini sangat bertentangan dengan hukum islam bahkan hukum semua agama, hukum dunia dan hak asasi manusia. Tapi dalam kenyataannya mereka tidak pernah dicap sebagai teroris.

Kedua : Hirobah/Penyamun

Terorisme dalam bentuk ini, dilakukan dengan mengancam, mencegat dan merampas harta para pengguna jalan, baik bertujuan merampas harta mereka saja,  atau merampas harta disertai menyakiti dan membunuh, baik menggunakan senjata atau tidak.

Merekalah yang dimaksud dalam firman Allah :

إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” [QS. al-Maidah : 33]

Imam Ibn Katsir berkata : “Dan pendapat yang paling tepat adalah : bahwa ayat ini bersifat umum, mencakup kaum musyrik dan siapa saja yang mengikuti perbuatan teror mereka”. (4)

Ketiga : Al-Baghyu ( pemberontakan ) terhadap pemerintahan syar’i.

Madzhab yang empat,memberikan definisi  berbeda terhadap tindakan ini, namun mereka sepakat bahwa bughat adalah kelompok yang menentang dan memberontak terhadap pemerintahan yang sah sesuai syari’ah. Kemudian para ulama empat madzhab memberikan syarat-syarat yang berbeda pula terhadap tindakan ini, intinya suatu tindakan disebut sebagai pemberontakan bila memenuhi  lima syarat utama, yaitu :

  1. Perbuatan mereka dilandasi ta’wil, yang memiliki sisi kebenaran.
  2. Adanya pemimpin yang ditaati di antara mereka.
  3. Keluar dari ketaatan kepada Imam dengan perbuatan, bukan sekedar ucapan.
  4. Memiliki kekuatan dan pengaruh.
  5. Berkomplotan dan mengadakan perlawanan.

Syariat  islam memrintahkan Imam kaum muslim untuk memerangi pemberontak -setelah diberi nasehat – sampai mereka kembali patuh dan taat kepada pemerintahan syar’i. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya.  Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. “[ QS. al-Hujurat: 9]

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barang siapa yang keluar dari taat(kepada pemimpin) dan keluar dari jama’ah kaum muslim kemudian dia mati, maka ia mati secara jahiliyah. Dan barang siapa berperang di bawah bendera kesesatan, ia murka karena fanatisme, dan berperang didasari fanatismenya, maka dia bukan termasuk dari golongan ummatku, dan barang siapa keluar dari ummatku dan memerangi orang baik dari mereka maupun yang jahat, tanpa membedakan kaum mukmin dari yang lain, dan tidak mempedulikan orang(kafir) yang diberi jaminan keamanan, maka dia bukan termasuk dari golonganku.” (5)

Hukum Terorisme tercela :

Ketiga bentuk ini, dan bentuk-bentuk teror lain yang serupa dengannya hukumnya haram dalam syariah islam. Berdasarkan dalil-dalil dari Al-Quran  dan hadits shahih, di antaranya dalil-dalil yang telah disebutkan di atas, dan berdasarkan pada ijma’/konsensus ulama islam: bahwa haram hukumnya menumpahkan darah kaum muslim, kecuali dengan cara benar sesuai apa yang telah dijelaskan Allah dan Rasul-Nya. (6)

Terorisme ini, masuk pada bagian dari dosa-dosa besar yang dapat merusak dan  menghapuskan amal baik pelakunya. Dan syariat  islam  telah menetapkan hukuman adil bagi mereka, baik pelaku,  perencana, donatur, dan semua pihak yang terlibat dalam aksi tersebut. Agar mereka mendapat balasan setimpal di dunia, dan bagi mereka di akhirat azab yang besar, serta sebagai pelajaran bagi segenap manusia agar jangan sampai mengikuti jejak mereka. (7)

C. Sanksi  Bagi Para Teroris :

Sanksi yang dijatuhkan kepada para teroris adalah sesuai dengan tingkat  teror yang dilakukan oleh masing-masing  oknum, dengan membedakan antara pelaku, penyusun rencana, donatur, pesuruh,  dan orang yang hanya ikut-ikutan. Juga dengan membedakan antara terorisme dalam bentuk penjajahan, penyamun(dengan berbagai tingkatannya), pemberontakan, dan bentuk terorisme lainnya.  Semuanya terdapat dalam Al-Quran dan sunnah, dan telah dijelaskan oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka. (8)

Penjatuhan sanksi bagi mereka yang diduga sebagai teroris, harus melalui proses pengadilan syar’i tanpa ada kedzaliman, dengan melakukan investigasi, pengumpulan bukti, penangkapan, untuk kemudian dihadapkan ke meja pengadilan, dan diadili  sesuai dengan hukum Islam. Tidak dibenarkan melontarkan tuduhan terorisme kepada seseorang tanpa bukti nyata yang dapat dipertanggung jawabkan di depan hukum, karena hal ini dapat merusak citra diri seorang muslim, dan memberikannya lebel hina  yang akan ia sandang selama hidupnya, dan akan diwarisi oleh anak cucunya. Apalagi jika tidak ada bukti, atau bukti yang hanya dibuat-buat dan dipaksakan.

 

Rujukan:

(1). Al-Muthliq, DR. Abdullah Ibn Muthliq, Al-Irhab wa Ahkamuhu Fii al-Fiqhi al-Islami, h. 131

(2). Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaily, Al-Fiq al-Islamy wa Adillatuhu, jilid VIII, h. 1-2.

(3). Dapat dilihat pada wasiat Rasulullah kepada para Panglima Mujahidin setiap beliau akan mengutus mereka ke medan pertempuran, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Sulaiman bin Buraidah dalam shahih Muslim, jilid V, h. 139, no. 4619.

(4). Ibn Katsir, Tafsir Al-Quran Al –’Adhim , jilid II, h. 67.

(5). HR. Imam Muslim, jilid VI, h. 21,no. 4894 .

(6). Al-Fasi, Ali bin Qaththan,  Al-Iqna’ Fi Masa`il  al-Ijma’, jilid IV, no: 1916-1919.

(7). Dikutip dari hasil seminar  Rabithah Alam Al Islamy di Kota Makkah Al Mukarromah, yang berlangsung mulai dari tanggal 19 s/d 23 Syawal 1424 H,bertepatan dengan tanggal 13 s/d 17 Desember 2003, poin ke-6.

(8). Bagi yang ingin mengetahui lebih dalam tentang tema ini, dapat membaca buku “Terorisme dan hukumnya dalam Fiqih Islam,karya DR.Abdullah bin Muthliq Al-Muthliq].

 

[markazinayah.com/wahdahmakassar.org]

Terorisme antara Haq dan Batil (bag. 1)

Share.