Thufeil bin ‘Amr Ad-dausi radhiallahu ‘anhu

0

Di bumi Daus, dari keluarga yang mulia dan terhormat, muncullah tokoh kisah ini…. Ia dikaruniai bakat sebagai penyair, hingga nama dan kemahirannya termasyhur di kalangan suku-suku. Di musim ramainya pekan ‘Ukadh, tempat berkumpul dan berhimpunnya manusia, untuk mendengar dan menyaksikan penyair-penyair Arab yang datang berkunjung dari seluruh pelosok serta untuk menonjolkan dan membanggakan penyair masing-masing, maka Thufeil mengambil kedudukannya di barisan terdepan…. Walaupun bukan pada musim ‘Ukadh, ia sering pula pergi ke Mekah ….

Pada suatu ketika, saat ia berkunjung ke kota suci itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memulai dakwahnya., Orang-orang Quraisy takut kalau-kalau Thufeil menemuinya dan masuk Islam, lalau menggunakan bakatnya sebagai penyair itu membela Islam, hingga merupakan bencana besar bagi Quraisy dan berhala-berhala mereka….

Oleh sebab itu mereka selalu menjaganya dan menyediakan segala kesenangan dan kemewahan untuk melayani dan menerima kedatangannya sebagai tamu, lalu menakut-nakutinya agar tidak berjumpa dengan Rasulullah shallallahu a’alaihi wa sallam katanya: — “Muhammad memiliki ucapan laksana sihir, hingga dapat mencerai-beraikan anak dari bapak dan seseorang dari saudaranya serta seorang suami dari isterinya…! Dan sesungguhnya kami ini cemas kepada dirimu dan kaummu dari kejahatannya, maka janganlah ia diajak bicara, dan jangan dengarkan apa katanya…!”

Dan marilah kita dengarkan Thufeil menceritakan sendiri kisahnya: — “Demi Allah,mereka selalu membuntutiku, hingga aku hampir saja membatalkan maksudku untuk menemui dan mendengar ucapannya…. Dan ketika aku pergi ke Kabah, kututup telingaku dengan kapas, agar bila ia berbicara, aku tidak mendengar perkataaannya… Kiranya ia kudapati sedang shalat dekat Ka’bah, maka aku berdiri di dekatnya, takdir Allah menghendaki agar aku mendengarken sebahagian apa yang dibacanya, dan terdengarlah olehku perkataan yang baik….

Lalu aku berkata kepada diriku sendiri: “Wahai malangnya ibuku kehilangan daku….! Demi Allah, aku ini seorang yang pandai dan jadi penyair, dan mampu membedakan mana yang baik dari yang buruk! Maka apa salahnya jika aku mendengarkan apa yang diucapkan oleh laki-laki itu? Jika yang dikemukakannya itu barang baik, dapatlah kuterima dan seandainya jelek, dapat pula kutinggallkan : …Kutunggu sampai ia berpaling hendak pulang ke rumahnya, lalu kuikuti hingga ia masuk rumah, maka kuiringkan dari belakang dan kukatakan kepadanya  –“Wahai Muhammad! Kaummu telah menceritalan padaku bermacam-macam, tentang dirimu! Dan demi Allah, mereka selalu menakut-nakutiku terhadap urusanmu, hingga kututupi telingaku dengan kapas agar tidak mendengar. perkataanmu – …Tetapi iradat Allah menghendaki agar aku mendengarnya, dan terdengarlah olehku , ucapan yang baik, maka kemukakanlah padaku apa yang menjadi urusanmu itu…!” Rasulpun mengemukakan padaku terperinci tentang Agama Islam dan dibacakannya al-Quran…. Sungguh! Demi Allah, tak pernah kudengar satu ucapan pun yang lebih baik dari itu, atau satu urusan yang lebih benar dari itu … ! Maka masuklah aku ke dalam Islam, dan kuucapkan syahadat yang haq, lalu aku berkata: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku seorang yang ditaati yang ditaati oleh kaumku, dan sekarang aku akan kembali kepada mereka, serta akan menyeru mereka kepada Islam. Maka do’akanlah aku kepada Allah agar aku diberiNya suatu tanda yang akan menjadi pembantu bagiku mengenai soal yang kuserukan kepada mereka itu. Maka sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam : -“Ya Allah! Jadikanlah baginya suatu tanda… !”

******

Dalam kitab suci-Nya Allah Ta’ala telah memuji ”orang-orang yang mandengarkan perkataan, lalu mengikuti yang terbaik di antaranya… “. Nah, sekarang kita bertemu dengan salah seorang diantara mereka itu …, dan ia merupakan suatu gambaran yang tepat mengenai fithrah yang cerdas. .. !

Ketika telinganya mendengar sebagian ayat-ayat mengenai petunjuk dan kebaikan yang diturunkan Allah atas kalbu hamba-Nya, maka seluruh pendengaran dan seluruh hatinya terbuka selebar-lebarnya, dan diulurkannya tangannya untuk bai’at kepada Rasul-Nya….

Dan tidak hanya sampai di sana, tetapi dengan secepatnya dibebaninya dirinya dengan tanggung jawab menyeru kaum dan keluarga kepada Agama yang baik dan jalan yang Iurus oleh sebab itu, baru saja ia sampai di rumah dan kampung halamarnya Daus, dikemukakannyalah kepada bapaknya ‘Aqidah dan keinginan yang terkandung dalam hatinya, dan diserunya ia kepada Islam, setelah menceritakan tentang Rasul yang menyebarkan Agama itu, tentang kebesaran, kesucian, amanah dan  ketulusan  serta ketaatannya kepada Allah Rabbul ‘alamin…

Dan pada waktu itu juga bapaknya masuk Islam. Lalu ia beralih kepada ibunya yang akhirnya juga menganut Islam. Kemudian kepada istrinya yang mengambil tindakan yang serupa. Dan tatkala hatinya menjadi tenteram karena Islam telah meliputi rumahnya, ia pun berpindah tempat kepada kaum keluarga, bahkan kepada seluruh penduduk Daus. Tetapi tak seorangpun di antara mereka yang memenuhi seruannya memeluk Islam, kecuali Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu…

Kaumnya itu menghinakan dan memencilkannya, hingga akhirnya hilanglah kesababarannya terhadap  mereka.  Maka dinaikinya kendaraannya menempuh padang pasir dan.kembali kepada Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. mengadukan halnya dan membekali diri dengan ajaran-ajarannya…

Dan tatkala tibalah ia di Mekah, segeralah ia ke rumah Rasul, dibawa oleh hatinya yang rindu. Ia berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah…! Saya kelabakan menghadapi riba dan perzinahan yang merajalela di desa Daus…! Maka mohonkanlah kepada Allah agar ia menghancurkan Daus..!”

Tetapi alangkah terpesonanya Thufeil ketika dilihatnya Rasulullah mengangkatkan kedua tangannya ke langit serta katanya: “Ya Allah, tunjukilah orang-orang Daus, dan datangkanlah mereka ke sini dengan memeluk Islam…!” Lalu sambil berpaling kepada Thufeil, katanya: “Kembalilah kamu kepada kaummu, serulah mereka dan bersikap lunak-lembutlah kepada mereka…!”

Peristiwa yang disaksikannya ini memenuhi jiwa Thufeil dengan keharuan dan mengisi ruhnya dengan kepuasan, lalu dipujinya Allah setinggi-tingginya, yang telah menjadikan Rasul, insan pengasih ini sebagai guru dan pembimbingnya, dan menjadikan Islam sebagai Agama dan tempat berlindungnya ….

Maka bangkitlah ia pergi kembali ke kampung halaman dan kaumnya. Dan di sana, ia terus mengajak mereka kepada Islam dengan lemah lembut sebagaimana dipesankan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam masa itu, selama ia melewati waktu yang dilaluinya di tengah-tengah kaumnya, Rasulullah telah hijrah ke Madinah, dan telah terjadi perang Badar, Uhud dan Khandak. Tiba-tiba ketika Rasulullah sedang berada di Khaibar, yakni setelah kota itu diserahkan Allah ke tangan Muslimin, satu rombongan besar yang terdiri dari delapan puluh keluarga Daus datang menghadap Rasulullah sambil membaca tahlil dan takbir. Mereka lalu duduk di hadapannya mengangkat bai’at secara bergantian.

Dan tatkala selesailah peristiwa mereka yang bersejarah dan upacara bai’at yang diberkahi itu, Thufeil pergi duduk seorang diri, merenungkan kembali kenangan-kenangan lamanya dan memikirkan langkah yang akan diambannya untuk masa yang akan datang…

Maka teringatlah ia akan saat kedatangannya kepada Rasullullah memohon agar ia menadahkan tangannya ke langit untuk mengucapkan  do’a  “Ya ,Allah, hancurkanlah orang-orang Daus …. “, tetapi ternyata Rasulullah menyampaikan permohonan lain yang menggugah keharuannya dengan ucapan sebagai berikut: “Ya Allah, tunjukilah orang-orang Daus, dan bawalah mereka ke sini setelah menganut Islam…!”

Sungguh, Allah telah menunjuki orang-orang Daus …, dan Ia telah mendatangkan mereka sebagai Kaum Muslimin…!

Mereka terdiri dari 80 kepala keluarga beserta penghuni rumahnya dan merupakan bagian terbesar dari penduduk, serta mengambil kedudukan mereka di barisan suci di belakang Rasulullah al-Amin…

******

Thufeil melanjutkan amal usahanya bersama jama’ah yang telah  beriman  itu. Tatkala  tibalah saat  pembebasan Mekah ia ikut rombongan yang memasukinya, yang jumlahnya sepuluh ribu orang, yang sekali-kali tidak merasa bangga atau besar kepala, hanya sama-sama menundukkan kening karena hormat dan ta’dhim, mensyukuri ni’mat Allah yang telah membalas usaha mereka dengan kemenangan nyata, dan pembebasan Mekah yang tak perlu menunggu lama…

Thufeil, melihat Rasulullah menghancurkan berhala-berhala di Ka’bah, dan membersihkan dengan tangannya kotoran dan najis yang telah lama berkarat. Putera Daus itu teringat akan sebuah berhala milik Amr bin Himamah. Amr ini sering membawanya memuji berhala itu sewaktu ia menginap di rumahnya sebagai  tamunya, hingga ia berlutut di hadapannya dan merendahkan diri dan memohon kepadanya…!

Datanglah sudah saatnya bagi Thufeil sekarang ini untuk menghapus dan melebur dosa-dosanya di hari itu. Ketika itu pergilah ia kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meminta izin untuk pergi mambakar berhala milik Amr bin Humamah tadi, yang biasa disebut ‘Dzal kaffain’,, atau “si Telapak tangan dua”.

Rasulullah memberinya izin, maka pergilah ia ke tempat berhala itu lalu membakamya dengan api yang menyala, setiap api itu surut, dinyalakannya kembali, dan sementara itu mulutnya asyik berpantun:  -“Hai Dzal kaffain, aku ini bukan hambamu, kami lebih dulu lahir daripadamu! Nah, terimalah api ini untuk pengisi perutmu!”

Demikianlah Thufeil melanjutkan hidupnya bersama Nabi, shalat di belakangnya dan belajar kepadanya serta berperang dalam rombongannya Dan ketika Rasulullah wafat  Thufeil berpendapat bahwa dengan wafatnya Rasulullah itu, tanggung jawabnya sebagai seorang Muslim belumlah berhenti, bahkan boleh dikata baru saja mulai!

Ketika pertempuran melawan orang-orang murtad berkobar, Thufeil menyingsingkan lengan bajunya, lain terjun merasakan pahit getirnya dengan semangat dan kegairahan dari seoang yang rindu menemui syahid…. Ia ikut dalam perang riddah itu, pertempuran demi pertempuran….

Pada pertempuran Yamamah, ia berangkat bersama kaum Muslimin dengan membawa puteranya. Amr bin Thufeil. Baru saja perang mulai, telah dipesankannya kepada puteranya itu agar berperang mati-matian menghadapi tentara Musailamah pembohong itu, bahkan walau akan mati syahid sekalipun…!

Dibisikkannya pula kepada puteranya itu bahwa menurut firasatnya, dalam pertenmpuran kali ini ia akan menemui ajalnya…!

Setelah itu   disiapkannya pedangnya  dan terjun dalam pertempuran dengan semangat untuk berkorban dan berani mati…!

Bukan hanya membela nyawanya dengan mata pedangnya tetapi pedangnya pun dibelanya dengan nyawanya Hingga ketika ia wafat dan tubuhnya rubuh, pedangya masih teracung dan siap sedia untuk ditebaskan oleh tangannya yang sebelah yang tidak mengalami cedera apa-apa …. !

Maka dalam pertempuran itu gugurlah Thufeil ad-Dausi radhiyallahu ‘anhu memenuhi syahidnya …, dan jasadnya pun rubuh disebabkan tusukan senjata, sementara sinar matanya seakan hendak memberi isyarat kepada puteranya yang tak kunjung dilihatnya di medan perang… yah, isyarat agar ia waspada dan tidak menyusul dan mengikuti langkahnya….

Tetapi sungguh, rupanya puteranya itu tak hendak ketinggalan, lalu menyusul ayahandanya pula, memang tidak pada waktu itu, hanya beberapa lama setelahnya…! Di pertempuran Yarmuk di Syria, ketika Amr bin Thufeil turut mengambil bagian sebagai pejuang, di sanalah ia menemui apa yang dicitanya!

Share.

Leave A Reply