Tipuan yang Membawa Bencana

0

Gadis itu hamil. Sedangkan ia belum menikah. Pergaulannya yang bebas telah membawa bencana besar bagi hidup dan masa depannya. Awalnya ia tak pernah menyangka akan sampai separah ini. Ia hanya ingin menikmati masa mudanya dengan bebas tanpa ada batasan. Tanpa peduli dengan kata “kehormatan” lagi. Dunia “pacaran” benar-benar telah melenakannya.

tipuan cinta

Setelah kesenangan sesaat itu ia rasakan, kini ia dalam kebingungan. Ia sudah tidak bisa meraba lagi, bagaimanakah perasaannya saat itu? Malu, marah, benci, sesal, takut, dan sedih berkumpul menjadi satu. Ditambah lagi dengan hidupnya yang menjadi terkatung-katung karena aib yang telah melekat padanya.

Ia begitu malu dan takut kepada keluarganya. Keluarganya sangat marah dan tidak mau menatap kepadanya lagi karena tingkah lakunya yang sudah keterlaluan. Hal itu berarti bahwa tidak ada lagi harapan baginya untuk meminta pertolongan mereka. Sedangkan lelaki yang telah menghamilinya, yang pernah membisikkan kata cinta nan mesra kepadanya entah di mana kini. Ia lari menjauh darinya karena tidak mau bertanggungjawab atas perbuatan hina yang telah mereka lakukan.

Sedangkan perutnya semakin membesar dan sebentar lagi ia harus menghadapi persalinan. Sedangkan ia tidak memiliki apa-apa untuk biaya persalinan itu. Otaknya telah melemah dan tak tahu harus berbuat apalagi. Akhirnya ia memutuskan untuk meminta tolong kepada orang baik yang pasti akan membantunya.

Ia pun berjalan ke arah masjid dan meminta tolong kepada seorang pemuda mesjid. Seperti harapannya, pemuda itu pun kemudian membantunya untuk menghadapi persalinan di salah satu klinik persalinan. Ia berhasil melahirkan seorang bayi mungil yang sehat dengan lancar. Ibu yang tak bersuami itu begitu berterimakasih akan bantuan sang pemuda.

Namun sayang, sungguh sayang… maksiat yang telah membawanya kepada kesengsaraan itu belum juga menjadikannya benar-benar jera dan sadar. Tidak berapa lama setelah pemuda itu menolongnya, penyesalan dan kesedihannya sedikit demi sedikit hilang entah kemana. Perasaan berdosa yang selama ini menderanya seakan tak pernah ada.

Ia kembali ke masa buruknya. Ia kembali terjerat dengan pergaulan bebasnya. Statusnya sebagai seorang ibu dari seorang bayi tak mampu menahan langkahnya untuk kembali menikmati gemerlapnya pergaulan bebas dengan lawan jenis. Padahal kesenangan yang ia rasakan itu tidak akan abadi, sifatnya hanya sementara dan akan segera berakhir.

Ia kembali menjalin hubungan pacaran dengan seorang lelaki yang lagi-lagi bukan suaminya.

Hal mengejutkan pun kembali terjadi. Ia hamil lagi! Hamil tanpa suami. Pacarnya yang kesekian kali itu kembali menghilang dan tak mau menikahinya. Bukankah seburuk-buruk lelaki, ia pasti mengharapkan wanita yang baik juga?!

Kebingungan kembali melandanya di saat masa bersalin itu kembali harus dihadapinya. Kali ini, ia harus meminta tolong kepada siapa lagi? Sedangkan pemuda masjid yang dulu pernah menolongnya itu pastilah tak akan menolongnya. Bukan itu saja, ditaruh kemana wajahnya ini nanti karena malu? Ia akan memiliki dua anak tanpa suami? Oh Tuhan, sesalnya…

Di puncak kegalauannya, muncullah seseorang yang bersedia menolongnya dan menanggung biaya persalinan itu. Sayangnya, ternyata maksudnya menawarkan bantuan itu tidak cuma-cuma. Orang itu mengajukan syarat yang harus dipenuhinya, dan persyaratan itu menyangkut masalah akidah yang dimilikinya. Mengapa? Karena ternyata orang yang memiliki maksud terselubung itu adalah seorang yang bedah akidahnya. Ia bukanlah seorang Muslim, akan tetapi kristen.
Ia meminta agar wanita yang hamil tua itu keluar dari Islam dan masuk ke dalam agamanya. Jika sang wanita bersedia, maka ia akan menjamin semua kebutuhan dan biaya-biaya yang dibutuhkannya selama persalinan itu.

Di luar dugaan, wanita itu ternyata menerima persyaratan tersebut. Ia tak mau ambil pusing lagi. Baginya, syarat itu adalah hal yang mudah saja ia penuhi. Cukup ia berkata “iya” setelah itu ia akan menghadapi persalinan tanpa harus memikirkan biaya-biayanya lagi. Setelah persalinan ini selesai dan anakku lahir dengan selamat, aku akan kembali lagi ke agamaku semula, agama Islam. Bukankah itu mudah. Bisik hati wanita itu.

Namun malang baginya… bukankah ia hanyalah seorang manusia biasa yang lemah? Ia bukanlah Tuhan yang bisa menetapkan ajal seseorang, meskipun itu adalah ajalnya sendiri…!

Saat bergelut dengan proses persalinan itu, malaikat maut datang menjemputnya… Ia pun mati dalam keadaan murtad. Na’udzubillah.[]

 

Penulis: Suherni Aisyah Syam
————————————————————————–

Anda punya tulisan berupa artikel Islam, opini ataupun kisah nyata yang ingin dipublikasikan di website ini? Silahkan kirim ke admin@wahdahmakassar.org.

Share.

Leave A Reply