Ungkapan Indah Imam Ibnul Jauzy rahimahullah

0

Beliau (Imam Ibnul Jauzy –rahimahullah1) berkata: “Saya telah menjumpai banyak ulama, keadaan dan kapasitas ilmu mereka berbeda-beda, namun sungguh yang paling bermanfaat bagiku diantara mereka ketika berkumpul dengannya adalah yang beramal dengan ilmunya walaupun ada yang lebih berilmu darinya. Saya juga telah menjumpai sekelompok ulama hadits, mereka banyak menghafal dan memahami (ilmu) namun mereka meringan-ringankan dalam masalah ghibah dan mengklaimnya sebagai bagian dari ilmu al-jarh wa at-ta’dil2 (padahal motifnya hanyalah hawa nafsu -pent)3, mereka mengambil upah dari pembacaan hadits-hadits Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dan mempercepat ucapan ketika menjawab pertanyaan agar wibawa mereka tidak menurun jika terjatuh dalam kesalahan.

Saya juga telah bertemu dengan Abdul Wahhab Al-Anmathy4 dan sungguh ia sangat menyerupai keadaan para salaf. Tidak pernah terdengar dalam majelisnya kata-kata ghibah dan tidak pernah meminta upah dalam mengajarkan hadits. Dulu apabila saya membacakan padanya hadits-hadits tentang raqaa-iq (tazkiyatunnafs) ia pun menangis dan terus-menerus mengeluarkan air mata, dulu saat saya masih kecil tangisannya tersebut merasuki dan mempengaruhi hatiku. Dan sungguh ia merupakan seorang yang berakhlak dengan akhlaknya para ulama yang sifat-sifat mereka kami hanya mendengarnya dari berita (para salaf).

Dan saya juga telah berjumpa dengan As-Syaikh Abu Manshur Al-Jawaaliqy5, sungguh ia merupakan orang yang banyak diam, sangat berhati-hati dengan setiap yang ia ucapkan, ia seorang yang cerdas dan ahli (dalam ilmu), bahkan kadangkala jika ia ditanya dengan pertanyaan yang jelas dan mudah yang mana sebagian muridnya langsung menjawabnya, namun ia berpikir sejenak sampai ia merasa yakin dengan apa yang akan ia ucapkan,dan sungguh ia merupakan orang yang banyak berpuasa dan banyak berdiam.

Maka sayapun banyak mendapatkan manfaat dari perjumpaan dengan dua ulama ini, lebih banyak dari manfaat yang saya dapatkan dari selain keduanya, dan akhirnya dari keadaan mereka ini saya bisa memahami bahwa petunjuk dalam bentuk amalan lebih bermanfaat dari sekedar ucapan.

Dan saya telah melihat para ulama, dahulu mereka banyak meluangkan waktu dalam bercanda dan bersantai maka hati merekapun lalai dan keberlebihan mereka itu menjauhkan mereka dari ilmu yang mereka telah kumpulkan sehingga manusia sangat sedikit mengambil manfaat dari mereka sewaktu mereka masih hidup dan mereka dilupakan setelah wafat, bahkan hampir-hampir tiada seorang pun yang menoleh pada kitab-kitab mereka.

Allah… Allah… saya mengingatkan kalian untuk mengamalkan ilmu, sebab ia adalah pokok (agama) yang agung, sedangkan orang yang paling rugi adalah orang yang menghabiskan umurnya pada ilmu yang tidak ia amalkan, sehingga ia tidak mendapatkan kebahagiaan dunia dan tidak pula kebaikan akhirat, sehingga iapun mendatangi akhirat dalam keadaan merugi beserta kuatnya hujjah yang ditegakkan atasnya (karena tidak mengamalkan ilmunya -pent). [di sadur dari kitab Shoidul-Khothir]

Diterjemahkan oleh : Abu Shafwan Al Munawy

Footnote:

  1. Beliau adalah Al-Imam Al-‘Allamah Al-Hafidz Al-Mufassir Syaikhul-Islam Jamaluddin, Abul-Farj Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin ‘Ali Al-Qurasyi Al-Baghdady Al-Hanbaly, terkenal dengan sebutan Abul-Farj Ibnul-Jauzy, dan ia merupakan keturunan sahabat Rasulullah, Abu Bakr Ash-Shiddiq –radhiyallahu ‘anhu-. Beliau lahir tahun 509 atau 510 H. Ia seorang ulama besar di zamannya, menguasai banyak bidang ilmu dan menulis banyak buku. Beliau wafat tahun 597, pada malam jum’at 13 Ramadhan. (lihat As-Siyar ; 21/356 dan setelahnya)
  2. Ilmu Al Jarh Wa At-Ta’dil adalah salah satu cabang ilmu hadits yang mengkaji tentang sifat-sifat perawi hadits yang dengannya haditsnya bisa diterima atau ditolak.
  3. Dalam ungkapan beliau yang lain yang senada dengan ini : “Diantara syubhat yang dirasukkan iblis terhadap para ahli hadits adalah saling mencela diantara mereka dengan motif untuk mengumbar dendam dan mengklaimnya sebagai bagian dari ilmu al-jarh wa at-ta’dil yang dijadikan oleh pendahulu umat ini untuk membentengi dien ini, Dan hanyalah Allah yang tahu akan niat (mereka).  [lihat Talbis Iblis : 2/689]
  4. Beliau adalah Asy-Syaikh Al-Imam Al-Hafidz Al-Musnid Abul-barakat, Abdul Wahhab bin Al-Mubarak bin Ahmad Al-Baghdady Al-Anmathy. Lahir tahun 462 H. Beliau merupakan seorang hafidz, memiliki banyak riwayat hadits dan sering menangis dalam majelisnya. Ibnul-Jauzy mengisahkan tentangnya : Dulu saya membacakan riwayat kepadanya sedangkan dia terus menangis, sehingga saya lebih banyak mengambil faedah dari tangisannya dibandingkan dari riwayatnya dan saya banyak mendapatkan manfaat darinya, lebih banyak dari selainnya (Al-Muntadzhim; Shifatush-Shafwah : 2/499), beliau wafat tahun 580 H. (lihat As-Siyar ; 20/134-137)
  5. Beliau; Al-‘Allamah Al-Imam An-Nahwy Al-Lughawy, Abu Manshur Mauhub bin Ahmad bin Muhammad  Al-Jawaliqy, lahir tahun 466 H. Beliau adalah imamnya ahli bahasa arab dan nahwu di zamannya, seorang yang sangat tawadhu’, banyak berdiam dan banyak mengatakan “La Adry” (saya tidak tahu) lantaran ketawadhuan dan kehati-hatiannya. Wafat tahun 540 H di bulan Muharram. (lihat As-Siyar ; 20/89-91)

(darulanshar/wahdahmakassar.org)

Share.

Leave A Reply