Ungkapan yang Sering Dianggap Hadits

4

hadits-palsu

Oleh : Abu Shofwan Maulana Laeda, Lc.
(Mahasiswa S-2 di Universitas Islam Medinah, Jurusan ‘Ulum Al Hadits)

Bismillahirrahmaanirrahim…
Semoga shalawat serta salam tercurahkan atas nabi kita Muhammad, keluarga, dan segenap sahabatnya, amin.

Tulisan ini berasal dari beberapa catatan pribadi tatkala membaca sebuah kitab yang berjudul “Al Jaddul Hatsis Fi Bayani Maa Laisa Bihadits” yang disusun oleh salah seorang ulama hadis abad-12 H yang bernama Syaikh Ahmad bin Abdulkarim al ‘Amiri Al Ghazzi rahimahullah yang wafat pada tahun 1143 H. Kitab tersebut mencakup banyak ucapan yang sering dianggap oleh sebagian muslim sebagai sebuah hadits. Ketika membaca kitab ini, saya memilah beberapa catatan ungkapan darinya, dan diantara catatan tersebut adalah sebagaimana yang tertera dibawah ini dengan menyertakan halaman dan nomor hadits yang saya nukilkan dari kitab tersebut. Semoga bermanfaat, amin.

 1- ( إِنَّ اللهَ يَدْعُو النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَاءِ أُمَّهَاتِهِمْ سِتْرًا مِنْهُ عَلَى عِبَادِهِ )

“Sesungguhnya Allah menyeru manusia pada hari kiamat dengan nama ibu mereka demi menyembunyikan aib para hambaNya”
Keterangan : Hadis ini Riwayat Al Baihaqi dari hadis Ibnu Abbas radhiyallohu anhumatapi sanadnya lemah sekali, Imam Ibnul Jauzi berkata: Hadis ini palsu. Juga menyelisihi hadis Abu Darda’ radhiyallohu anhu:

إِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ فَأَحْسِنُوا أَسْمَاءَكُمْ

“Sesungguhnya kalian pada hari kiamat akan dipanggil dengan nama-nama kalian, dan nama ayah kalian, maka perindahlah nama kalian.” (hal. 20 ,hadis no. 52)

2- (إن الميت يرى النار في بيته سبعة أيام )

” Sesungguhnya sang mayit bisa melihat api dirumahnya selama 7 hari (dari hari wafatnya)”.

Keterangan : Imam Ahmad ditanya tentang ucapan ini, beliau menjawab: “hadis ini batil, tidak punya sumber (palsu), dan ini (keyakinan seperti ini) adalah suatu keyakinan bid’ah” ( hal. 23, hadis no. 66)

3- (تحية البيت الطواف )

“Tahiyat (penghormatan) untuk Ka’bah (ketika masuk Masjidil Haram) adalah Tawaf “.

Keterangan : Ungkapan ini bukanlah hadis, namun maknanya shahih, sebagaimana dalam hadis shahih dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أول شيء بدأ به النبي صلى الله عليه وسلم حين دخل مكة أنه توضأ ثم طاف

“Perkara pertama yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masuk Mekah (Masjidil Haram) adalah beliau berwudhu lalu tawaf”. (hal. 28, hadis no. 87)

4- ( حب الوطن من الإيمان )

“Cinta tanah air adalah bagian dari iman”

Keterangan : Ungkapan ini bukanlah hadis. (lihat : hal. 32 ,hadis no.111)

5- (خير الأمور أوساطها)

“Sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan “.

Keterangan : Ini bukanlah hadis namun dari ucapan Mutharrif bin Abdullah dan Yazid bin Murrah AlJu’fi, juga diriwayatkan dari ucapan Abu Qilabah dan Aliradhiyallahu’anhu. (lihat hal. 37, hadis no. 136)

6. Tambahan lafadz : ( Addarajatarrafii’ah ) dalam doa setelah azan.

Keterangan : As Sakhawi rahimahullah berkata : “Saya tidak mendapatkannya (tambahan lafadz ini) dalam riwayat-riwayat hadis, adapun hadisnya (doa setelah azan) adalah riwayat dari Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang ketika selesai mendengar azan membaca :

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِى وَعَدْتَهُ

niscaya ia berhak mendapatkan syafaatku “.

(lihat hal.39 , hadis no.144)

7- رحم الله من عمل عملا وأتقنه

“Semoga Allah merahmati orang yang beramal dan menekuninya dengan profesional”.

Keterangan : Lafadz yang seperti ini tidak diketahui ( dalam hadis ), namun yang ada dalam hadits adalah lafadz:

إِنَّ اللهَ جَلَّ وَعَزَّ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ

“Sesungguhnya Allah cinta jika salah seorang diantaramu melakukan suatu amalan, ia benar-benar menekuninya dengan profesional”. (hal. 42, hadis no. 159)

8. Hadis : “Keutamaan bulan Rajab atas semua bulan adalah sebagaimana keutamaan AlQuran atas semua perkataan, dan keutamaan bulan Sya’ban atas semua bulan adalah seperti keutamaanku atas semua nabi, dan keutamaan Ramadhan atas semua bulan adalah sebagaimana keutamaan Allah atas para hamba-Nya “.

Keterangan : Al Hafizh Ibnu Hajar berkata : Hadis ini palsu. (hal. 65, hadis no. 258)

9- كنت نبيا وآدم بين الماء والطين

“Waktu aku telah menjadi nabi, Adam masih berbentuk antara air dan tanah”

Keterangan : Hadits ini tidak diketahui memiliki lafadz seperti ini, namun dengan lafadz lain, diantaranya dalam riwayat Umar radhiyallahu ‘anhu. Hadits yang seperti ini sangat popular di kalangan kaum sufi dan dengan hadits ini dasar-dasar kesufian mereka terbangun, diantaranya; bahwa asal semua makhluk adalah dari nur Nabi Muhammad, dan bolehnya tawassul dengan hak dan jaah (kehormatan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun hadits ini diingkari (dianggap palsu) oleh Ibnu Taimiyah, Az-Zarkasyi, Ibnu Hajar, As-Suyuthi dan selain mereka. (lihat hal. 72, hadis no. 301)

10. Hadis “Tidak ada satu nabipun kecuali diangkat setelah berumur 40 tahun”.

Keterangan : Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata : Hadis ini palsu. (hal. 82, hadis no. 365)

11- المغتاب والمستمع شريكان في الإثم

“Orang yang menggunjing dan yang mendengarkannya sama-sama mendapatkan dosa”.

Keterangan : Ungkapan ini tidak diketahui sebagai hadits, walaupun al-Ghazali menukilnya dalam Kitab Ihya Ulumiddin sebagai hadits. Adapun maknanya maka telah ada dalam hadis bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk menggunjing dan mendengarkannya. (hal. 85, hadits no. 389)

12- من اكتحل يوم عاشوراء لم ترمد عيناه أبدا

“Barang siapa yang memakai celak pada hari Asyura, maka ia tidak akan pernah sakit mata selamanya”.

Keterangan : Telah diriwayatkan satu hadits yang semakna dengan ini, namun Al Hakim rahimahullah berkata : haditsnya munkar. Ibnul Jauzi dan As Sakhawi juga berkata: hadits ini maudhu’ (palsu). Bahkan Al Hakim menambahkan : “Memakai celak pada hari Asyura secara khusus tidak ada sumbernya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun ini adalah bid’ah yang dibuat-buat oleh para pembunuh Husein”. (hal. 87, hadits no. 402)

13- (من زارني وزار أبي إبراهيم في عام واحد دخل الجنة )

“Barangsiapa yang menziarahi kuburku dan kubur bapakku Ibrahim dalam satu tahun, maka ia masuk surga”.

Keterangan : Ibnu Taimiyah dan AnNawawi rahimahumallah berkata : Hadis ini palsu, dan tidak punya sumber. (hal. 91, hadis no. 429)

14- ( من عرف نفسه فقد عرف ربه )

“Siapa yang mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya”.

Keterangan : Ibnu As-Sam’ani rahimahullah berkata : “Hadits ini tidak diketahui secara marfu’ (dari ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) namun dikisahkan dari ucapan Yahya bin Mu’adz ArRazi”. Imam an-Nawawai berkata : Hadits ini tidak tasbit/shahih (dari Rasulullah). (lihat hal. 92, hadis no. 436)

15- ( من كثرت صلاته بالليل حسن وجهه بالنهار )

“Barangsiapa yang banyak shalat malam maka wajahnya akan indah pada siang harinya”.

Keterangan : Yang benar, ini bukanlah hadis, namun dari ucapan Syarik rahimahullah. (hal. 93, hadis no. 445)

16- ( لا يدخل الجنة ولد زانية )

“Tidakmasuk surga : anak hasil zina”.

Keterangan : Ibnu Thahir dan Ibnul Jauzi rahimahumallah berkata : hadits ini palsu. (hal. 106, hadis no. 522)

(markazassunnah.com/wahdahmakassar.org)

Share.

4 Comments

  1. siapa yg kenal dirinya maka dia akan kenal dengan tuhan nya,,,di alQuran ada bos,,,jangan suka membuat islam berpecah belah????

  2. semuanya hadits di anggap palsu,,,kita ini sesama muslim janganlah selalu berkata ini atau itu bidah,krna amal kita sendiri belum tentu di terima???

    • Salah satu tujuan dari pemilahan hadits palsu dan hadits shahih oleh para ulama adalah agar kemurnian ajaran Islam tetap terjaga. Jika para ulama membiarkan bercampurnya antara hadits palsu dan shahih maka bisa dipastikan ajaran Islam yang suci akan dikotori dengan keyakinan-keyakinan dan ibadah yg tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

      Saling menasehati dalam menetapi kebenaran dan mengingkari kemunkaran adalah salah satu asas dalam Islam. sebagaimana dalam firman Allah dalam surah ali Imran ayat 110 (yang artinya):

      “Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”

      Bahkan Allah menyebut “amar ma’ruf nahi munkar” lebih dulu dari “iman kepada Allah”, ini menandakan bahwa amar ma’ruf dan nahi munkar adalah sesuatu yang sangat penting dalam agama yang mulia ini.

      Jika amar ma’ruf dan nahi munkar ditinggalkan oleh umat Islam maka mereka akan ajaran-ajaran dan peribadatan mereka akan dikotori oleh pemikiran2 manusia sebagaimana ahlul kitab dari nasrani dimana mereka beribadah tanpa disertai dalil atau dengan ibadah2 rekaan pendeta mereka semata.

      Ada ratusan ribu hadits yang telah dishahikan oleh para ulama ahli hadits, maka kewajiban kita untuk mempelajari dan mengamalkan hadits2 tersebut.

      Semoga Allah memberikan petunjuk dan mengistiqomahkan kita diatasnya.

      wallahu a’lam.

Leave A Reply