Usai Menunaikan Ibadah Haji

0

Beberapa hari yang lalu, jama’ah haji telah menyelesaikan salah satu ibadah di antara ibadah-ibadah yang besar. Mereka meninggalkan pakaian yang berjahit saat ihrâm karena Allah. Air mata taubat membasahi pipi saat berada di padang Arafah. Semua suara dengan berbagai bahasa sontak menyuarakan dan mengakui ketergantungan mereka kepada Allah Azza wa Jalla. Semua manusia bergerak menuju Muzdalifah untuk bermalam, selanjutnya berangkat melempar jumrah dan thawaf di sekitar Ka’bah yang dimuliakan, lalu sa’i antara bukit Shafa dan Marwa.

Semua dilakukan dalam sebuah perjalanan yang sangat indah. Setelah itu, mereka kembali dengan hati berbunga karena senang dengan karunia Allah Azza wa Jalla yang dianugerahkan kepadanya. Allah berfirman:

“Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya; hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (Yûnus/10:58).

Sebuah karunia yang lebih baik daripada dunia beserta isinya. Dunia beserta isinya hanya bersifat sementara, ia akan pergi dan sirna; keindahan yang hanya sedikit dan mudah sirna. Kami ucapkan selamat kepada para jama’ah haji karena haji mereka, dan kepada ahli ibadah karena ibadah dan kesungguh-sungguhan mereka.

Kami ucapkan selamat dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Jika seorang hamba mendekat kepada-Ku satu jengkal, maka Aku mendekat kepadanya satu hasta. Jika dia mendekat kepada-Ku satu hasta, Aku mendekat kepadanya sejauh dua rentangan tangan. Jika dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku mendatangi dia dengan berlari kecil”. (HR Imam al-Bukhâri)

Pujilah Allah dan bersyukurlah kepada Allah Azza wa Jalla atas nikmat yang diberikan kepada kalian, niscaya kebaikan dan anugerah-Nya kepada kalian tidak akan terputus, serta karunia-Nya akan sempurna. Allah berfirman :

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)”. [an-Nahl/16:53].

Tanda-tanda haji mabrur

Kalian datang dari tempat-tempat yang jauh. Kini kalian telah menyelesaikan ibadah haji, setelah wukuf dan setelah kalian melaksanakan ibadah lainnya. Kini kalian bersiap-siap untuk kembali ke negeri masing-masing. Maka janganlah kalian kembali mengotori diri dengan kembali kepada hal-hal yang diharamkan dan yang tercela. Allah berfirman :

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai-berai kembali”. (an-Nahl/16:92).

Seorang wanita dungu, tidak berakal, setelah berusaha siang malam menyulam pakaiannya, dan ketika sudah jadi, dia kemudian mengurainya lagi dan melepaskan ikatan-ikatannya. Dia tidak mendapatkan hasil apapun dari pekerjaan itu kecuali rasa capai dan letih. Janganlah kalian seperti orang yang disebutkan oleh Allah Azza wa Jalla dalam firman-Nya di atas! Janganlah kalian menghancurkan yang sudah kalian bangun! Jangan mencerai-beraikan yang sudah kalian rangkai menjadi satu.

Kalian telah membuka lembaran baru dalam kehidupan kalian serta mengenakan pakaian baru nan suci setelah menunaikan ibadah haji, maka jangan sekali-kali kalian kembali melakukan perbuatan-perbuatan yang mengandung kenistaan. Janganlah kalian meniti kembali jalan-jalan keburukan serta perbuatan keji lainnya. Alangkah indahnya, jika perbuatan baik diiringi lagi dengan perbuatan baik. Dan alangkah buruknya, jika perbuatan baik diiringi dengan perbuatan buruk.

Haji mabrur dan haji yang diterima itu memiliki tanda-tanda. Hasan al-Basri rahimahullah pernah ditanya: “Apa yang dimaksud haji mabrur?”

Beliau rahimahullah menjawab: “Engkau kembali (setelah berhaji) dalam keadaan zuhud dengan kehidupan dunia dan senang dengan kehidupan akhirat”.

Maka, hendaklah ibadah haji yang sudah Anda tunaikan menjadi penghalang Anda dari tempat-tempat yang membinasakan dan menggelincirkan. Hendaklah haji Anda menjadi motivator untuk menambah bekal kebaikan dan melakukan amal shalih. Ketahuilah, seorang mukmin itu tidak memiliki batas akhir melakukan amal shalih kecuali ajal datang menjemput.

Alangkah indahnya, jika para jama’ah haji kembali ke tengah keluarga dan negara mereka dengan penampilan akhlak yang lebih bagus, pikiran yang lebih mantap, lebih berwibawa, dan berbagai perilaku yang mengundang ridha Allah Azza wa Jalla.

Alangkah indahnya, jika para jama’ah haji setelah kembali memiliki perilaku yang baik dalam pergaulan sehari-hari dengan teman sejawat, dalam pergaulan bersama anak-anaknya, berhati baik serta menempuh manhaj yang benar, adil. Yang tersimpan dalam hatinya lebih baik dari yang nampak.

Sungguh, jika ada orang yang memiliki sifat-sifat tersebut setelah menunaikan ibadah haji, maka dialah orang yang benar-benar bisa mengambil manfaat dari ibadah haji, bisa memetik hikmah-hikmahnya serta pelajaran-pelajaran yang terkandung di dalamnya.

Apa yang dilakukan oleh orang yang sedang berhaji, sejak ihram sampai selesai, semuanya memperkenalkan dirinya kepada Allah Azza wa Jalla, mengingatkannya akan hak-hak Allah Azza wa Jalla serta kekhususan-kekhususan yang dimiliki Allah Azza wa Jalla; bahwa Dia-lah Allah, tidak ada yang berhak untuk diibadahi kecuali Dia. Semuanya mengingatkan, bahwa Dia-lah yang Esa, tempat jiwa berpasrah diri dan wajah ditengadahkan. Hanya Dia-lah tempat bergantung dalam memohon semua kebutuhan, dan tempat berlindung dari segala yang tidak diinginkan; dan hanya Dia-lah tempat memohon ketika dilanda musibah.

Lalu setelah itu, bagaimana mungkin dengan mudahnya seorang yang sudah berhaji memalingkan salah satu di antara hak-hak Allah ini kepada selain Allah Azza wa Jalla, seperti doa, istighatsah, isti’anah, menyembelih dan lain sebagainya? Lalu, haji apakah yang didapatkan oleh orang yang melakukan kesyirikan secara nyata atau perbuatan buruk setelah menunaikan ibadah haji?

Haji apakah yang didapatkan oleh orang, yang sekembalinya dari berhaji dia mendatangi tukang sulap, penyihir, mempercayai ahli nujum, tabarruk (ngalap berkah) dengan perantara pepohonan, batu dan mengenakan jimat?

Haji apakah yang didapatkan oleh orang, yang sekembalinya dari berhaji dia melalaikan shalat, malas mengeluarkan zakat, memakan harta riba dan suap, mengkonsumsi narkoba dan khamr, memutuskan silaturahmi dan tenggelam dalam kubangan dosa?

Pelajaran yang diperoleh dari menjauhi pantangan-pantangan ihram selama berhaji.

Ketahuilah, di antara pantangan atau larangan-larangan itu ada yang berlaku selamanya. Maka, janganlah kalian melakukannya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya”. (al-Baqarah/2:229).

Orang yang berihram untuk memenuhi panggilan Allah Azza wa Jalla, bagaimana mungkin setelah itu dia memenuhi ajakan atau seruan yang bertentangan dengan din (agama) Allah Azza wa Jalla.

Orang yang mengucapkan talbiyah dalam ibadah haji, bagaimana mungkin setelah itu dia tidak berhukum dengan syariat Allah Azza wa Jalla, atau tunduk kepada selain hukum-Nya, atau rela dengan selain risalah Allah?

Orang yang memenuhi panggilan Allah dalam ibadah haji, semestinya juga memenuhi panggilan-Nya setiap waktu dan di setiap tempat dengan cara menaati perintah-Nya, tidak ragu dan bimbang, tidak bisa dihalang-halangi. Dia hanya mendengar dan taat kepada Allah serta tunduk kepada-Nya.

Istiqamahlah! Tetaplah beramal, karena engkau tidak sedang berada di negeri abadi! Hindari riya’! Terkadang perbuatan yang terlihat sepele bisa bernilai besar karena niatnya, dan terkadang perbuatan yang nampak besar bisa bernilai kecil karena niatnya.

Jadilah orang yang senantiasa khawatir amalnya tidak diterima.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ayat –Qs al-Mukminûn/23 ayat 60-:

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut”, Aisyah bertanya: “Apakah mereka ini orang-orang yang minum khamr dan mencuri?”  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Bukan, wahai putri ash-Shiddiq, akan tetapi mereka ini ialah orang-orang yang berpuasa, shalat, bershadaqah dan mereka khawatir amalannya tidak diterima Allah Azza wa Jalla”.

“Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan” -Qs al Mukminûn/23 ayat 61″.(HR Imam at-Tirmidzi).[]

 

(Ringkasan khutbah  Syaikh Shalâh Budair)

Share.

Leave A Reply