Usapan yang Penuh Berkah

0

Dari Ummul Mukminin Aisyah Radhyiallahu ‘anha. diceritakan bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu suka meniupi dirinya -ketika beliau sakit menjelang kematiannya- dengan (bacaan) ‘Al-Mu’awwidzaat’. Lalu ketika (kondisi beliau) semakin berat, maka akulah yang meniupi dirinya dengan (bacaan ‘Al-mu’awwidzaat’) itu. Aku pun mengusap (tubuh beliau) dengan tangannya sendiri, karena keberkahannya.” (HR. Bukhari)

Penjelasan Hadis:
Imam Bukhari menampilkan Hadis ini di dalam kitab Shahih-nya sebanyak dua kali; pada Bab “Ruqyah dengan Al-Qur’an dan Mu’awwidzaat” dan Bab “Wanita Melakukan Ruqyah Terhadap Laki-Laki”.

Yang dimaksud dengan Al-Mu’awwidzaat ialah surat Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas.

Di dalam kitabnya (Fathul Baari, 10/ 195-196), Ibnu Hajar menyatakan bahwa para ulama telah ber-ijma’ (sepakat) bahwa ruqyah boleh dilakukan dengan 3 (tiga) syarat: (1) menggunakan firman Allah, asma-Nya atau sifat-Nya, (2) menggunakan bahasa Arab, dan (3) meyakini bahwa ruqyah itu sendiri tidak mempunyai pengaruh apa-apa kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Di dalam Shahih Muslim ada sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Auf bin Malik, dia berkata: Dahulu kami suka melakukan ruqyah pada masa Jahiliyah. Lalu kami bertanya, ‘Ya Rasulullah, bagaimana engkau melihat hal itu?’ Lantas beliau bersabda, “unjukkan kepadaku ruqyah kalian. Tidak apa-apa melakukan ruqyah selama di dalamnya tidak ada unsur syirik.”

Statemen Aisyah ini menegaskan bahwa ketentuan hukum mengenai praktik ruqyah dengan ayat-ayat Al-Qur’an pada umumnya, dan Al-Mu’awwidzaat khususnya tidak mansukh (dihapus).

Jadi begitulah, seorang muslimah bisa melakukan ruqyah terhadap dirinya sendiri, suami dan anak-anaknya dengan tenang, karena praktik itu legal secara syar’i. Bahkan ruqyah itu adalah bagian dari Sunnah, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam pernah melakukannya.

Barangkali usapan tangan yang dilakukan oleh seorang istri kepada suaminya -dan sebelumnya dia sudah meniup tangan tersebut dengan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an- akan menimbulkan pengaruh yang baik di dalam diri suaminya dan menarik rasa cinta yang diharapkan tumbuh di antara sepasang suami istri. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa banyak sekali wanita muslimah yang mengabaikan ruqyah ini ketika suaminya sedang sakit. Akibatnya, mereka menyia-nyiakan kesempatan untuk menumbuhkan rasa cinta yang diharapkan.

Tidak, justru usapan tangan itu turut memberikan andil dalam mempercepat kesembuhan. Hal itu telah dibuktikan oleh penelitian ilmiah modern yang berbicara tentang pengaruh sentuhan mesra. Dan betapa besar kemesraan yang bersinergi dengan usapan tangan yang ditiup dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang penuh berkah.

Hadis ini menginformasikan kepada kita bahwa Aisyah mengusapkan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacanya dengan menggunakan tangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam karena alasan keberkahan tangan beliau. Akan tetapi, sekarang ini bisa jadi ada istri yang lebih shaleh dari pada suaminya. Jika demikian adanya, maka usapan dengan tangan si istri -insya Allah- lebih berkah.

Seruan kita kepada para istri untuk melakukan usapan tangan ini bukan berarti bahwa para suami tidak dianjurkan untuk melakukan hal itu. Sesungguhnya kami juga menyerukan agar para suami juga melakukan hal yang sama ketika istrinya sedang sakit. Mereka hendaknya membaca Al-Mu’awwidzaat, lalu meniupkannya ke tangannya dan mengusap¬kannya ke bagian wajah dan sekujur tubuh istrinya.

Sungguh, ketika salah seorang suami atau istri merasakan adanya tangan sehat yang menyentuh kening, dada, tangan, dan wajahnya, maka seketika itu dia akan bereaksi secara positif dan di dalam dirinya akan mengalir rasa simpati, ridha, cinta dan sayang kepada pasangannya.

Alangkah indahnya jika para suami bergegas melakukan usapan yang -insya Allah- penuh berkah ini, baik di kala sakit maupun tidak. Dengan usapan itu mereka melakukan ruqyah terhadap istrinya. Dan melalui usapan itu mereka mentransfer rasa ridha, sayang dan cinta kepada istrinya. Pun alangkah indahnya jika para istri juga melakukan hal yang sama.

 

Disalin dari buku “Aku Tersanjung” (Kumpulan Hadits-hadits Pemberdayaan Wanita dari Kitab Shahih Bukhari & Muslim Berikut Penjelasannya), Karya Muhammad Rasyid al-Uwayyid.

Share.

Leave A Reply