Waktu Kita Sedikit

1

Ya, waktu kita sedikit. Kita sudah berada di ujung zaman. Kita berada dimana kiamat sudah menjelang. Berapa banyak waktu yang telah kita gunakan dalam hidup ini. Sudahkah kita menggunakan beberapa jenak waktu kita untuk bersama dengan orang-orang shaleh guna melembutkan hati kita, agar arah hidup kita lebih lurus?

Kebersamaan kita adalah wujud kasih sayang dan cinta Allah ta’ala. Mahal dan istimewanya kebersamaan kita, pernah disinggung oleh Umar bin Khatthab Radhiyallahu ‘anhu dalam perkataannya, “Tidak ada karunia Allah yang lebih baik bagi seseorang setelah ia masuk Islam, dari karunia memiliki saudara yang shalih”. Shahabat rasul yang terkenal ketegasannya dalam membela kebenaran itu lalu berpesan, “

Jika di antara kalian ada yang merasa senang dengan saudaranya hendaknya ia memegang saudaranya itu dengan kuat”. Karena itu saudaraku, jangan menjauh dan kuatkanlah tekad untuk tetap bersama-sama di sini. Kita harus rela menebus apapun, agar kebersamaan kita tetap terpelihara. Saudaraku, peganglah kuat-kuat saudara-saudara shalih kita. Dalam kondisi taat, saudara yang shalih akan mendorong kita untuk berbuat ketaatan yang lebih banyak lagi. Dalam kondisi lalai saudara yang shalih akan mengingatkan kita dari kelalaian. Dalam kondisi hati kita tersayat dan terluka oleh dosa, saudara yang shalih akan membantu mengobati kita dan membuat kita pulih kembali.

Duduklah bersama mereka. Membaca ayat-ayat Allah, merenungi petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, atau hanya sekedar bertatap muka. Itulah kebiasaan para salafusshalih dahulu. Mereka gemar bermujalasah atau duduk bersama-sama orang-orang shalih yang bisa menentramkan hati. Ahmad bin Abi al-Hawari ad-Dimasyqi, salah satu tokoh generasi tabi’in, biasa duduk-duduk dan berdekatan bersama orang-orang shalih saat ia merasakan kekesatan hati. “Jika engkau merasakan kekesatan dalam hatimu maka duduklah dengan orang-orang berzikir dan orang-orang zuhud, “ begitu katanya.

Datanglah kerumah-rumah saudara mereka, seperti yang dilakukan oleh Mimun bin Mahran yang pergi kepada guru generasi tabi’in Hasan al-Bashri rahimahullah. Maimun mengetuk pintu rumah Hasan al-Bashri dan berkata, “Wahai Abu Sa’id aku mulai merasakan kekasaran dalam hatiku bantulah aku melembutkannya”

Ada saja orang yang memiliki kekuatan hati seperti itu. Ada saja orang yang mampu memberi kesejukan dalam diri sesorang. Mereka adalah orang-orang yang selama ini ada dan berjalan bersama kita di sini di jalan menyebarkan dan mengajak kepada kebaikan jalan yang pernah ditempuh oleh para Nabi dan Rasul. Meski derajat mereka tidak seperti sahabat tapi pancaran cahaya wajah mereka membuat siapa saja menjadi luluh.

Mungkin saja ada di antara mereka yang tidak berasal dari kalangan shahabat, bukan pula dari tabi’in atau dari generasi berikutnya akan tetapi kata-kata mereka meluluhkan karatan-karatan yang ada dalam hati. Darimana kita mendapat orang-orang seperti itu? “Hati bisa merasakan apa yang tidak dilihat oleh mata”, kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Hatilah yang akan menuntun kita untuk mendapatkan orang-orang shalih yang kita butuhkan.

Seharusnya bagi orang-orang beriman tidak terlalu sulit menilai dan membedakan sesuatu. “Seseorang tidak mungkin merahasiakan sesuatu dalam dirinya, karena Allah akan menampakkan rahasia itu pada raut wajah dan untaian lisan” kata Ibnu Taimiyah lagi. Karena itu pertajam mata hati kita. Jangan kotori dengan lumpur dosa yang membuatnya jadi kelam. Sebab hati orang beriman memiliki firasat untuk menilai sesuatu. Firasat iman namanya. Ia akan membantu kita guna menemukan kebenaran. Seperti firasat ahli hadits saat memeriksa apakah satu hadits shahih atau dha’if, terkadang mereka menilainya melalui firasat mereka yang tajam sebelum memutuskan derajat sebuah hadits. Begitulah seterusnya.

Setelah itu gunakan waktu sebaik mungkin untuk bermunajat dengan Allah. Rasakan keindahan kata yang dikatakan oleh Muslim bin Yasar, “Tidak ada kenikamatan selain bemunajat dengan Allah”. Selain di masjid, sudut-sudut rumah kita sangat bagus digunakan sebagai tempat bermunajat. Sujudlah di sana, perbanyaklah doa di sana, berkeluh kesahlah padaNya. Bakr bin Abdullah al-Muzani berkata, ”Ada apa denganmu wahai Ibnu Adam, menyepilah di antara dirimu dan mihrab, berdirilah di sana menemui Tuhanmu.

Tidak ada penghalang antara dirimu dengan rabbmu”. Rahmah dan kasih sayang Allah begitu luas. Lebih luas dari lautan dan alam semesta, bahkan lebih luas dari pengertian luas yang kita pahami. Mungkin inilah sebabnya Allah menunda memberi hukuman atau ujian kepada sekelompok umat, tujuannya agar ummat tersebut segera memperbaiki diri mereka, bertaubat dan segera berbenah dari berbagai kelalaian. Karena itu segeralah bertaqarrub padaNya. Ingat berbagai macam karuniaNya pada kita.

Syukurilah itu semua dengan segera melakukan berbagai macam ketaatan. Mari kita simak pecakapan antara Umar bin Abdul Aziz dengan putranya Abdul Malik. “Wahai anakku, aku ingin istirahat. Aku lelah setelah semalam mengurus jenazah kakekmu Sulaiman bin Abdul Malik. Karena itu, jangan kau bangunkan aku sampai waktu zuhur tiba”, kata Umar “Wahai Amirul Mu’minin, siapakah yang kau harap menyelesaikan urusan kaum Muslimin yang menunggumu guna memutuskan perkara mereka?”, kata Abdul Malik. “Aku lelah wahai anakku, nanti saja setelah shalat Zuhur aku menyelesaikan perkara mereka”, jawab Umar.

Dengan penuh rasa hormat ia mencoba mengingatkan ayahnya, “Man yadhmanu laka an ta’iisya ilaz zhuhri (siapa yang telah memberi jaminan kepadamu wahai ayah bahwa engkau masih hidup sampai zuhur?”. Sesaat setelah mendengar itu, sang khalifah yang wara’ ini tiba-tiba bergetar hebat mendengarkan perkataan anak yang ia cintai. Ia tidak menduga anaknya yang masih kecil itu sanggup mengucapkan perkataan yang mengandung penjabaran tauhidurrububiyah yang sangat jelas. Ucapan itu tiba-tiba mengenyahkan rasa lelahnya.

Sejurus kemudian, sang khalifah memanggil anaknya agar mendekat. Setelah sang anak mendekat, khalifah yang zuhud ini memegang kepala Abdul malik, meletakkan hidung dan bibirnya di antara kedua kening sang anak lalu berkata, “Alhamdulillahil ladzi akhraja min shulbi man yau’iinunii ala diiniy (segala puji bagi Allah yang telah mengeluarkan dari keturunanku yang membantuku taat kepada agamaku)”. Setelah itu keduanya berangkat ke masjid, dan khalifah yang zuhud itu menyelesaikan urusan rakyatnya yang telah lama menanti kehadiran sang khalifah. Beginilah kia seharusnya menyikapi perjalanan waktu.

Memanfaatkan segala momen untuk menambah kualitas hidup kita. Disamping selalu bertaqarrub pada Allah dengan berbagai ibadah juga dengan selalu bersama orang-orang shalih, bermajelis dengan mereka dan mendengar nasehat-nasehatnya serta meneladani prihidupnya, agar perjalanan kehidupan kita lebih terarah. Sebab waktu kita sedikit. Kita berada di lorong kehidupan yang panjangnya segera akan berakhir. Tim al-Balagh, dari berbagai sumber

Share.

1 Comment

Leave A Reply