Wanita, Cobaan Bagi Kaum Pria

0

Dunia itu indah penuh tipuan

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan dunia ini begitu indahnya, membuat terkagum-kagum setiap orang yang memandangnya. Tak jenuh dan bosan setiap orang berusaha untuk menikmati keindahannya, mereguk kenikmatannya, mati-matian untuk mendapatkannya. Bahkan dengan menghalalkan segala cara. Dengan semboyan “mumpung masih muda, mumpung masih punya jabatan, mumpung masih punya harta… dan sebagainya” mereka melampiaskan segala syahwat mereka.

Begitu beragamnya keindahan dunia yang menipu banyak manusia, menjungkir balikkan mereka ke lembah kenistaan di dunia, sebelum dibenamkan dalam keadaan tersungkur ke dalam neraka jahannam kelak –na’udzu billah–.

Tidak sedikit orang mulia berubah menjadi hina dina, terhormat menjadi terlaknat, dipuji dan disanjung menjadi tersandung. Semua disebabkan ambisi untuk meraih dunia. Bukanlah hal aneh jika seorang pejabat ataupun ustadz berubah menjadi penjahat, tatkala kesabarannya habis berhadapan dengan godaan tumpukan harta, tenggelam dalam pelukan wanita… inna lillah wa inna ilahi raji’un.

Al-Qur’an telah menggambarkan betapa manusia diuji dengan segala keindahan dunia ini dalam firman-Nya:

“Dihiasi bagi manusia kecintaan terhadap apa-apa yang gandrungi manusia berupa syahwat terhadap wanita, anak-anak, tumpukan-tumpukan emas dan perak, kuda-kuda yang mahal, binatang ternak dan sawah lading, itu semua hakikatnya hanyalah kenikmatan hidup di dunia, dan di sisi Allah ada tempat kembali yang terbaik.” (QS: Al-Imran: 14)

Wanita adalah perhiasan dunia yang paling indah
Diantara semua bentuk kenikmatan dunia yang digandrungi manusia, Allah Subhanahu wa Ta’ala menempatkan wanita pada posisi pertama dari segala bentuk kenikmatan lainnya. Hal ini tentunya bukan tanpa makna, tetapi karena memang diantara segala keindahan dunia ini wanita yang paling menggoda. Karena itulah Imam al-Qurthubi menyebutkan dalam tafsirnya: “Allah memulai kenikmatan dengan wanita karena betapa condongnya jiwa terhadap mereka, karena mereka adalah jerat rajutan setan menjadi fitnah bagi kaum lelaki.”
Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Tidak pernah kutinggalkan setelahku fitnah yang lebih dahsyat bagi kaum pria daripada fitnah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Berkata Ibnu Hajar rahimahullah : “Hadits ini menerangkan bahwa fitnah wanita itu paling dahsyat dibandingkan fitnah selainnya, sebagaimana yang telah diperkuat dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Dihiasi bagi manusia kecintaan terhadap apa-apa yang gandrungi manusia berupa syahwat terhadap wanita…”

Maka Allah menjadikan kecintaan terhadap mereka bagian dari syahwat yang digandrungi manusia, dan Allah menempatkan mereka pada posisi pertama sebelum fitnah lainnya sebagai bentuk isyarat bahwa mereka adalah sumber segala fitnah…”

Imam Muslim meriwayatkan dari hadits Abu Sa’id: “Takutlah kalian terhadap (fitnah wanita) karena sesungguhnya awal fitnah yang menimpa Bani Israil adalah disebabkan wanita”.

Ungkapan salaf tentang fitnah wanita
Berkata Imran bin Abdullah al-Khuza’iy : berkata Said bin Musayyab rahimahullah: Tidaklah aku mengkhawatirkan diriku terhadap sesuatu sebagaimana khawatirku terhadap (fitnah) wanita!” maka para murid-muridnya berkata: “Wahai Abu Muhammad bukankan orang dalam usia seperti anda sekarang tidak lagi berhajat kepada wanita dan tidak pula digemari wanita?!” Maka Sa’id menjawab: “itulah unggkapanku (yang jujur) kepada kalian”, padahal ketika itu dia telah tua renta dan buta.

Berkata Ali bin Zaid: “Berkata Said bin Musayyab kepada kami-padahal ketika itu ia telah berusia delapan puluh empat tahun dan telah buta sebelah matanya dan dia melihat hanya dengan yang sebelahnya: tidak ada yang kukhawatirkan terhadap diriku sebagaimana kekhawatiranku terhadap fitnah wanita”.

Masih dari Said bin Mussayyib beliau berkata: “Tidaklah setan berputus asa (untuk menaklukkan manusia) kecuali dia akan datang memperdaya (menaklukkannya) dengan wanita.”

Berkata Ibnu Sirin rahimahullah: “Demi Allah aku tidak pernah memandang (wanita) selain istriku – Ummu Abdillah- baik ketika dalam keaadan sadar ataupun dalam mimpi, sesungguhnya pernah aku bermimpi melihat wanita dalam tidurku maka aku sadar bahwa dia tidak halal bagiku, seketika kupalingkan pandanganku.”

Adalah Rabi’ bin Khutsaim rahimahullah senantiasa memalingkan pandangannya dari kaum wanita, maka pada suatu saat lewat rombongan kaum wanita dihadapannya, Rabi’ segera memejamkan kedua matanya sehingga para wanita tersebut menganggapnya buta dan berlindung dari musibah buta.

Berkata Atho’ bin Abi Rabah rahimahullah: “Jika aku diamanahi untuk menjadi penjaga baitul mal maka aku yakin akan mampu menjaga amanah, namun aku tidak pernah merasa aman dari (fitnah wanita) sekalipun terhadap seorang budak wanita hitam yang jelek.”

Berkata Abu Al-Malih: “Aku pernah mendengar Maimun bin Mihran berkata: ”Jika diperintahkan untuk menjaga Baitul mal lebih kusuka daripada diamanahi manjaga seorang wanita”.

Solusi syariat menjaga dari fitnah wanita
Agar wanita tidak menjadi fitnah
Mengingat betapa dahsyatnya fitnah wanita bagi pria maka Islam telah menetapkan aturan-aturan yang begitu sempurna untuk menjaga kehormatan wanita dan menjaga masyarakat dari fitnah mereka, diantara aturan tersebut:
1. Melarang kaum wanita agar tidak merendah-rendahkan suara ketika berbicara dengan lawan jenis.
2. Melarang kaum wanita sering-sering keluar rumah kecuali jika ada hajat yang harus ditunaikan.
3. Melarang kaum wanita ber-tabarruj (berdandan dan berhias menarik perhatian para lelaki) ketika keluar rumah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai contoh suri tauladan bagi kaum wanita untuk dijadikan panutan:

“Wahai para istri Nabi, kalian tidaklah sama dengan salah sorang wanita lainnya, maka jika kalian bertaqwa janganlah merendah-rendahkan suara hingga membuat condong kepada kalian orang-orang yang di hatinya ada penyakit, dan katakanlah perkataan yang baik. Dan hendaklah kalian menetap di rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj sebagaimana yang diperbuat orang-orang jahiliyyah yang terdahulu, maka tegakkanlah shalat dan tunaikan zakat dan patuhilahh Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya Allah ingin menjauhkan dari kalian segala kekejian wahai Ahlul Bait dan mensucikan kalian. Dan ingatlah apa-apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian berupa ayat-ayat Allah dan hikmah sesungguhnya Allah Maha lembut lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al- Ahzab: 32-34).

Berkata Ibnu Katsir: ”Ini adalah adab-adab yang diperintahkan Allah kepada para istri Nabi dan tentunya kaum wanita umat ini juga diperintahkan untuk mengikuti mereka, Maka Allah menyeru para istri Nabi –jika mereka bertakwa kepada Allah, karena mereka tidak dapat disamakan dengan kaum wanita lainnya, karena mereka tidak akan mungkin menyamai keutamaan dan kedudukan para istri Nabi -yaitu agar mereka tidak merendahkan suara. Maksudnya menurut imam Assuddi’ dan ulama lainnya: tidak melembut-lembutkan suara ketika berbicara dengan pria… maknanya yaitu hendaklah ketika berbicara dengan lelaki asing tidak berbicara mendayu-dayu sebagaiman dia berbicara pada suaminya. Dan firman-Nya:”Dan hendaklah kalian menetap di rumah-rumah kalian” maksudnya: hendaklah kalian menetap dirumah-rumah kalian dan tidak keluar jika tidak ada hajat. Seperti keluar untuk melaksanakan shalat di masjid dengan syarat-syarat yang ditetapkan sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Janganlah kalian melarang kaum wanita untuk pergi ke masjid-masjid milik Allah, dan hendaklah mereka keluar dengan tidak menggunakan parfum, dalam sebagian riwayat: “Dan rumah mereka lebih baik bagi mereka”.

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Al-Bazzar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “sesungguhnya wanita itu adalah aurat, maka jika dia keluar niscaya akan dihiasi oleh setan, dan sedekat-dekatnya seorang wanita dengan Tuhannya yaitu tatkala dia di dalam rumahnya”.

4. Melarang berkhalwat dengan lelaki yang bukan mahram dan tidak halal baginya, sekalipun ada hubungan kekerabatan dengan suami.

Ketika konsep agama yang mulia ini tidak dipahami kaum muslimin; ketika pergaulan muda-mudi dilepas tanpa kekangan syariat; ketika ikhtilath dianggap hal yang wajar; masuk ke rumah-rumah ipar dan tinggal bersamanya tanpa batasan syariat dianggap hal yang lumrah… maka lihatlah betapa perzinahan telah meluluh lantakkan bangunan masyarakat, merusak keturunan, mendatangkan berbagai penyakit, menjadi sebab meningkatnya praktek aborsi terhadap bayi-bayi yang tidak berdosa, anak-anak baru lahir yang di buang ditong sampah atau jalanan…. dan sebagainya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Janganlah kalian masuk ke tempat-tempat wanita”, maka seseorang bertanya: “bagaimana dengan ipar wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “ipar itulah maut (kebinasaan)”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang bukan mahram baginya”. HR. Bukhari dan Muslim

5. Melarang segala macam bentuk sarana menuju perzinahan seperti: memandang lawan jenis dengan syahwat, berpacaran, berkomunikasi bebas antara pria dan wanita; menonton acara-acara yang membangkitkan birahi, baik dari siaran-siaran televisi yang sarat muatan pornografi dan pornoaksi; melalui film-film, sinetron-sinetron dll, ataupun via internet; mendengarkan berbagai musik dan lagu-laguan yang menghanyutkan dan membangkitkan syahwat; mengkonsumsi berbagai media cetak berbau maksiat baik dari koran-koran maupun majalah-majalah dan sebagainya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Jangan dekati zina, sesungguhnya zina adalah perbuatan keji dan sejelek-jelek jalan.” (QS: Al-Isra: 32).

Penutup
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga kita semua dari segala macam bentuk fitnah di dunia ini, baik yang lahir maupun yang batin, Ya Allah… sesungguhnya kami bermohon dengan-Mu dari azab neraka jahannam, dari azab kubur, dan dari fitnah ketika hidup dan fitnah kematian, sebagaimana kami memohon pada-Mu dijauhkan dari fitnah Dajjal. Amin.[]

Share.

Leave A Reply